Kopi TIMES

Melihat Indonesia Maju, dengan Budaya Baca

Kamis, 05 Desember 2019 - 15:51 | 35.14k
Melihat Indonesia Maju, dengan Budaya Baca
Penulis, Asra Bulla Junga Jara.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, MALANG – Bung Hatta pernah melontarkan kata-kata ampuh yang kemudian hari menjadi salah satu kutipan unggulan dari pengambaran sosoknya “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Tidak hanya Bung Hatta yang secara khusus menempatkan pembacaan teks sebagai alat pembebasan belenggu ahistoris dan kebodohan, tokoh besar pergerakan Indonesia seperti Tan Malaka dalam buku madilognya juga pernah berujar soal ini, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Suara tegas Tan Malaka yang dia prediksi akan lebih lantang menggema ketika ia sendiri sudah di liang kuburpun terbukti benar, manakala catatan-catatan beserta buku karyanya kini dengan bebas dapat dibaca semua kalangan setelah sebelumnya dilarang di era Orde Baru. Mundur kebelakang lagi, saat peradaban termaju dunia berpusat di Mesopotamia dan tepi Sungai Nil, dibawah kekuasaan para Firaun di Mesir Kuno, Francis Bacon yang seorang filsuf asal Inggris berkata.

“Pengetahuan adalah kekuatan, siapapun pelakunya”. Firaun yang abadi dalam sejarah, ternyata kekuasaannya dibangun tidak semata-mata dengan kekuatan militer. Pada saat berkuasa Firaun memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi sebanyak 20.000 buku itu artinya dunia literasi juga sangat diperlukan di zaman  dahulu.

Presiden pertama Bung Karno sendiri, tentu tidak terlahir dengan segudang pengetahuan luas akan kebangsaan, lengkap dengan jiwa pemimpin dan kemampuan berpidato yang berapi-api. Itu jelas mustahil tanpa hadirnya buku dan kegemarannya akan membaca dan menulis. Gurunya, Tjokroaminoto lah yang memperkenalkan ke Soekarno saat menjadi muridnya.

Tentu masih banyak tokoh-tokoh nasional progresif lain yang memiliki kegemaran akan membaca dan menulis. Dari tokoh di atas, kesemuanya juga telah banyak mengeluarkan buku mereka sendiri. Diantaranya buku Madilog milik Tan Malaka, Di Bawah Bendera Revolusi Karya Soekarno, Alam Pikiran Yunani oleh Bung Hatta dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lalu, bagaimana keadaan masyarakat Indonesia saat ini tentang kepedulian dan minatnya akan membaca buku dan menulis? Lembaga survei internasional yang bekerjasama dengan kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) memiliki data untuk menjawabnya.  

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Programme for Internasional Student Assesment (PISA) pada tahun  2016 menunjukan, Indonesia menduduki peringkat 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta untuk kategori membaca. Hasil ukur membaca ini mencakup, memahami ,menggunakan, dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Skor rata-rata internasional yang ditetapkan oleh PISA sendiri adalah sebesar 500.

Rendahnya literasi membaca Indonesia  bisa dikaitkan dengan angka buta huruf di Indonesia yang masih tinggi. Diera teknologi dan informasi yang masif seperti sekarang, tetapi tidak menyingkirkan fakta bahwa jutaan penduduk Indonesia masih ada yang buta huruf. Berdasarkan data Pusat Data Statistik Kemendikbud tahun 2015, angka buta huruf di Indonesia masih tinggi yang jumlahnya mencapai 5.984.075 orang.

Data ini tersebar di enam provinsi meliputi Jawa Timur 1.258.184 orang, Jawa Tengah 943.683 orang, Jawa Barat 604.683 orang, Papua 584.441orang, Sulawesi Selatan 375.221 orang, Nusa Tenggara 315.258 orang. 

Sedangkan secara presentase, Papua menduduki angka tertinggi, demikian pula Nusa Tenggara. Sedangkan presentase buta huruf terendah dipegang oleh DKI Jakarta. Secara keseluruhan, Indonesia memiliki presentase buta huruf sebesar 4,78 persen untuk usia 15 tahun ke atas, 1,10 persen untuk usia 14-44 tahun dan 11,85 persen untuk usia 45 tahun ke atas. Perolehan tersebut berdasrkan data terakhir mengenai presentase buta huruf tahun 2015 yang diselengarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). 

Data tersebut diatas saja cukup memprihatinkan. Minat baca tampaknya  belum sepenuhnya dipeluk sebagai suatu budaya yang beriringan dengan kehidupan sehari-hari. Fenomena ini juga bisa dilihat dilingkungan sekitar, kebiasaan seperti  mebaca buku ditempat umum masih sangat langka dijumpai.

Sangat ironis apabila dalam rentang satu tahun tidak ada satu bukupun yang tuntas dibaca, atau minimal tuntas separuhnya. Belum lagi soal kemampuan menulis yang rendah di tengah banyak sekali kemudahan akses dan teknologi yang sedang membanjiri kemajuan zaman saat ini.

Milan Kundera yang seorang novelis asal Republik Ceko pernah berkata “Jika ingin mengahancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” Di Indonesia, penghancuran buku memang belum terjadi. Namun, kemerosotan besar dalam literasi ini seharusnya sudah mulai menjadi peringatan.

Pemerintah Indonesia juga perluh menyiapkan formulasi lebih mutakhir untuk menumbuhkan budaya literasi jangka panjang. Mebangun negara tidak melulu dan hanya berfokus kepada fisiknya, melainkan beriringan dengan pembangunan wawasan beserta segenap sumber daya manusia. Selayaknya para pemikir dan pendiri bangsa yang berhasil memerdedekakan pikirannya terlebih dahulu sebelum memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah.

Membaca adalah jendela dunia, begitulah kata bijaknya. Jendela dibuat agar menjadi pintu masuknya udara dan cahaya matahari kedalam rumah. Dari jendela, kita bisa melihat keadaan diluar rumah, bahkan tak jarang dijadikan tempat untuk menemukan inspirasi.

Begitu pula dengan membaca, ia menjadi sirkulasi masuknya arus informasi, ide akan menemui kebutuhan bila tidak mendapatkan pencerahan dalam menemukan inspirasi. Untuk membebaskan pikiran dari belenggu kebodohan, kuncinya adalah belajar. Belajar tidak harus monoton tatap buku antara guru dan murid, sebab belajar tidak se-kaku itu. Belajar bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti membaca.

Membaca akan mengantarkan kita kepada gerbang kecerdasan intelektual yang akan menuntun pada kebijaksanaan. Membaca akan membawa pikiran dan imajinasi kita melintsasi batas ruang dan waktu. Dengan membaca, kita tahu bagaimana budaya dan pola kehidupan di belahan dunia sana, meskipun kita belum pernah keliling dunia.

Kita akan tahu kejadian ribuan tahun lalu, meskipun kita tidak hidup pada masa itu. Kita akan tahu bagaimana kondisi tata surya diluar angkasa sana, meskipun kita tidak perna keluar angkasa. Namun untuk mencapai kecerdasan intelektual itu, perlu usaha yang lebih giat untuk banyak belajar dan membaca banyak buku.

“Jalan menuju kebodohan ternyata lebih luas, selain luas jalannya juga menyenangkan. Cukup bermalas-malasan tanpa usaha, maka kita akan dengan sendirinya sampai pada gerbang kebodohan”. Apalagi di era teknologi sekarang ini, eksistensi buku jauh dibawah eksestensi Gadget.

Orang akan lebih cepat tahu merek Hp apa yang terbaru sekarang ketimbang buku apa yang jadi best seller sekarang. Sebagian orang akan lebih tahan bermain gadget sejam, dua jam atau bahkan semalaman sambil main game ketimbang membaca buku barang sepuluh atau lima belas menit. Maka sangat diperluhkan sebuah eksistensi budaya baca yang kuat agar bisa menjadi kebiasan untuk menumbuhkan minat baca. 

Indonesia juga berpeluang bangkit dari keterpurukan melalui peningkatan minat baca dan literasi. Membudayakan membaca sebagai kebutuhan yang diawali sebelum kita melakukan aktivitas harian. Sekitar 15 hingga 30 menit setiap harinya sebagai pembuka di pagi hari, kemudian bisa melanjutkan pada siang hari atau pada waktu luang lainnya. Jikapun tidak sempat pada waktu siangnya, setidaknya sudah membaca pada pagi harinya. Ini merupakan hal sederhana yang bisa dilakukan secara rutin untuk meningkatkan minat baca kita.

Jika kebiasaan ini terus digalakkan menjadi kebudayaan bahkan kebutuhan. Bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan berwawasan pengetahuan luas. Karena untuk memulainya hanya soal pembiasaan untuk tetap konsisten.

Kita perlu membuka jendela dunia dengan membaca untuk bisa menatap dunia lebih luas. Pikiran juga butuh diberikan asupan bacaan agar tidak terjebak dalam kubangan kebodohan. Jangan biarkan pikiran berpuasa, beri ia makan dengan mebaca, beri ia minum dengan berdiskusi.(*)

*) Penulis, Asra Bulla Junga Jara

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Gratiskan PDAM Selama 3 Bulan, Bukti Kebijakan Bupati Musirawas Pro Rakyat
    Gratiskan PDAM Selama 3 Bulan, Bukti Kebijakan Bupati Musirawas Pro Rakyat
    19/09/2020 - 17:03
  • Rayakan HUT ke-3, HIPAKAD Jatim Konsolidasi Solidkan Komando
    Rayakan HUT ke-3, HIPAKAD Jatim Konsolidasi Solidkan Komando
    19/09/2020 - 16:57
  • Bersama Banom NU, Yusuf - Gus Riza Optimis Banyuwangi Lebih Maju
    Bersama Banom NU, Yusuf - Gus Riza Optimis Banyuwangi Lebih Maju
    19/09/2020 - 16:54
  • Grab Siap Kembangkan UMKM Banyuwangi Lewat Digitalisasi
    Grab Siap Kembangkan UMKM Banyuwangi Lewat Digitalisasi
    19/09/2020 - 16:47
  • Hadiri Konbes XXIII GP Ansor, Ketua DPR RI Puan Maharani Cerita Kedekatan NU dan Kakeknya
    Hadiri Konbes XXIII GP Ansor, Ketua DPR RI Puan Maharani Cerita Kedekatan NU dan Kakeknya
    19/09/2020 - 16:44
  • Inovasi Banyuwangi Menginsipirasi Mahkamah Agung RI
    Inovasi Banyuwangi Menginsipirasi Mahkamah Agung RI
    19/09/2020 - 16:39
  • Seniman Puji Keberhasilan Pemkab Banyuwangi Naikkan Citra Kesenian dan Kebudayaan Lokal
    Seniman Puji Keberhasilan Pemkab Banyuwangi Naikkan Citra Kesenian dan Kebudayaan Lokal
    19/09/2020 - 16:31
  • Jusuf Kalla Minta Pilkada 2020 Ditunda
    Jusuf Kalla Minta Pilkada 2020 Ditunda
    19/09/2020 - 16:25
  • Gandeng BNPT dan BPIP, Menteri Desa Luncurkan Desa Damai di Gorontalo 
    Gandeng BNPT dan BPIP, Menteri Desa Luncurkan Desa Damai di Gorontalo 
    19/09/2020 - 16:19
  • Wabup Blitar Dorong Atlet Jaga Semangat dan Kebugaran di Masa Pandemi
    Wabup Blitar Dorong Atlet Jaga Semangat dan Kebugaran di Masa Pandemi
    19/09/2020 - 16:12

TIMES TV

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

17/09/2020 - 11:27

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19
Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC

Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC
Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang

Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang
[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Pak Arif Hoetoro dan Ide
    Pak Arif Hoetoro dan Ide "Nakal"
    19/09/2020 - 09:48
  • Menyerasikan Visi Cakada dengan Pemerintah Pusatt
    Menyerasikan Visi Cakada dengan Pemerintah Pusatt
    19/09/2020 - 03:16
  • Digitalisasi Marketing dalam Pengembangan Umkm Di Era New Normal
    Digitalisasi Marketing dalam Pengembangan Umkm Di Era New Normal
    18/09/2020 - 18:13
  • Pelanggaran Serius Hak Edukasi
    Pelanggaran Serius Hak Edukasi
    18/09/2020 - 11:55
  • Pentingnya Olahraga di Era New Normal
    Pentingnya Olahraga di Era New Normal
    18/09/2020 - 10:33
  • Pertarungan Klaim Keberhasilan Vs Narasi Harapan Baru
    Pertarungan Klaim Keberhasilan Vs Narasi Harapan Baru
    18/09/2020 - 08:46
  • Jumat Berkah: Kematian adalah Hadiah
    Jumat Berkah: Kematian adalah Hadiah
    18/09/2020 - 06:16
  • Kurikulum Darurat dan Pergolakan Guru Dwitunggal
    Kurikulum Darurat dan Pergolakan Guru Dwitunggal
    18/09/2020 - 02:16
  • Pemutilasi Sadis Apartemen Kalibata City Ternyata Pemuja Bangsa Viking
    Pemutilasi Sadis Apartemen Kalibata City Ternyata Pemuja Bangsa Viking
    19/09/2020 - 00:12
  • Bela Ahok, Ketua Jokowi Mania Minta Prabowo Copot Andre Rosiade
    Bela Ahok, Ketua Jokowi Mania Minta Prabowo Copot Andre Rosiade
    19/09/2020 - 01:15
  • Seragam Satpam Mirip Polisi, Haris Azhar: Konyol, Tak Ada Urgensinya
    Seragam Satpam Mirip Polisi, Haris Azhar: Konyol, Tak Ada Urgensinya
    19/09/2020 - 00:04
  • Selebgram Ini Berani Ungkap Ukuran Milik Raffi Ahmad
    Selebgram Ini Berani Ungkap Ukuran Milik Raffi Ahmad
    19/09/2020 - 10:45
  • Sadis, Pengakuan Dennis Rodman Jadi Bahan Fantasi Seks Suami Istri
    Sadis, Pengakuan Dennis Rodman Jadi Bahan Fantasi Seks Suami Istri
    19/09/2020 - 06:24