Kopi TIMES

Tambang Grasberg Terbuka Ditutup, Papua Kehilangan Sandaran Ekonomi

Senin, 02 Desember 2019 - 10:19 | 113.23k
Tambang Grasberg Terbuka Ditutup, Papua Kehilangan Sandaran Ekonomi
Dewi Retno Oscarini, Mahasiswi Politeknik Statistika STIS Jakarta
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTAPotensi Provinsi Papua
Sebagai provinsi paling timur Indonesia, potensi provinsi Papua sangat melimpah,tidak kalah dengan provinsi-provinsi Indonesia lainnya.

Provinsi dengan penduduk sekitar 3 juta jiwa ini memiliki banyak kekayaan alam yang berpotensi mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk, seperti hasil hutan berupa kayu maupun non-kayu, tangkapan hasil laut, kekayaan flora fauna endemik yang hanya ada di Papua, serta alamnya yang masih asri dan alami yang indah sehingga mampu menarik turis lokal maupun mancanegara untuk berkunjung. 

Selain itu, dari segi industri, Papua juga memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang terletak di kabupaten Membramo. Berdasarkan hitungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Mamberamo memiliki potensi tenaga air sebesar 12.284 MW yang tersebar di 34 lokasi. Ini berarti, hampir sepertiga dari potensi tenaga air di Indonesia itu berada di Mamberamo.

Namun, sampai saat ini yang paling berpotensi meningkatkan kesejahteraan Papua yaitu ada pada sektor pertambangannya.
Pertambangan merupakan sebagian atau seluruh tahapan kegiatan  dalam rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral  atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang ( UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara ).

Pertambangan Papua

Papua memiliki tambang emas terbesar di dunia, yakni tambang Grasberg yang terletak di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika yang dikelola oleh perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc, di bawah bendera PT Freeport Indonesia. 

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan berdasarkan data 2018, Freeport memproduksi 6.065 ton konsentrat perhari. Konsentrat ini merupakan pasir olahan dari batuan tambang yang mengandung tembaga, emas, dan perak. Beliau juga mengatakan bahwa  Freeport memproduksi 240 kg lebih emas perhari dari Papua. 

Pernyataan bahwa industri pertambangan merupakan sektor paling menguntungkan atau berpotensi bagi perekonomian Papua juga didukung oleh data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua. Pada data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua, sektor yang mendominasi PDRB yakni ada pada sektor Pertambangan dan Penggalian yang selalu mendominasi dan terus mengalami kenaikan dari tahun 2015 hingga 2018 dengan angka sebesar 32,22% untuk tahun 2010 hingga mencapai angka 36,72% pada tahun 2018. Apalagi, Indonesia telah memiliki 51% saham PT Freeport, sehingga akan lebih dapat memperkuat perekonomian daerah dan negara.

Dampak Transisi Grasberg Open Pit menjadi GBC

Hasil pertambangan merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga apabila digunakan terus menerus akan habis. Tambang sebesar Grasberg pun tidak menutup kemungkinan bahwa mineral yagng terkandung seperti tembaga, emas, dan perak pun akan habis.

Menurut Bapak Tony Wenas selaku Presiden Direktur PT Freeport Indonesia mengatakan bahwa mineral tambang Grasberg akan habis pada pertengahan tahun ini. Sehingga perekonomian Papua diprediksi akan merosot pada tahun 2020 hingga 2022.

Pernyataan beliau didukung oleh data pertumbuhan ekonomi oleh BPS Papua untuk tahun ini berkurang sebesar 20,13% pada triwulan pertama jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun lalu.

Pengurangan pertumbuhan ekonomi yang minus diakibatkan oleh pengurangan produksi tambang sebesar 51,52%, hal ini karena PT Freeport sedang dalam masa transisi dari penambangan terbuka (open pit) ke penambangan bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC). 

Dampak lanjutan dari penutupan tambang terbuka yakni pada nilai ekspor. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang di publikasi oleh BPS provinsi Papua, didapati bahwa ada penurunan nilai ekspor bulan Januari-Oktober 2018 ke bulan Januari-Oktober 2019, yang awalnya sebesar US$ 3313,49 juta menjadi hanya sebesar US$ 883,74 juta.

Dampak bagi tenaga kerja juga akan sangat terasa, dimana selama masa transisi open pit ke GBC akan banyak tenaga kerja yang menganggur sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) akan meningkat. BRS Ketenagakerjaan Provinsi Papua mengungkap hal tersebut, yakni dimulai dari bulan Februari 2018 ke bulan Agustus 2018 serta Februari 2019 ke bulan Agustus 2019 menyatakan kenaikan TPT. Pada tahun 2018, perubahan dimulai dari angka 2,91% naik menjadi 3,20%, sedangkan pada tahun 2019, perubahan dimulai dari angka 3,42% menjadi 3,65%.

Adakah jalan keluar?

Meskipun terjadi penurunan produksi Freeport, penurunan pertumbuhan ekonomi, penurunan nilai ekspor, dan terjadinya peningkatan TPT, Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia Zulkifli Lambali mengatakan bahwa yang terjadi saat ini hanya sementara, karena  cadangan ore yang berada di bawah tambang Grasberg mencapai 1,9 miliar ton, dan masa transisi sudah dilakukan sejak 2017 namun masih membutuhkan waktu 1-2 tahun lagi.

Beliau juga mengatakan bahwa tidak akan mengurangi jumlah karyawan Freeport, mereka justru akan di training oleh Freeport untuk bisa bekerja di underground. Dengan cadangan ore sebesar itu, Freeport akan lebih banyak membutuhkan SDM sehingga training sangat perlu dilakukan.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang menurun tidak bisa dianggap sepele begitu saja. Perlu diadakannya solusi agar pertumbuhan ekonomi di Papua minimal tetap stabil.

Hal ini dapat diwujudkan apabila potensi-potensi di Papua dikelola dengan baik, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan serta menyerap lebih banyak tenaga kerja. Mengelola potensi di Papua secara merata dan maksimal juga akan mengurangi ketergantungan ekonomi Papua terhadap sektor pertambangan. 

Menggantungkan kehidupan pada SDA yang tidak dapat diperbaharui secara berlebih juga  akan menimbulkan akibat yang buruk bagi masa depan. Di masa depan, anak cucu kita tidak lagi dapat menikmati kekayaan Papua jika kita habiskan di masa sekarang.

Dengan mengembangkan dan memaksimalkan potensi lainnya di Papua akan membuat Papua menjadi provinsi yang kaya, mengingat provinsi ini punya banyak potensi sebagaimana yang telah di jelaskan pada awal paragraf. Tentu hal ini juga harus didukung oleh sumber daya manusianya yang unggul dan berkualitas, sehingga dapat mengelola Papua dengan baik dan bijaksana.(*)

* Penulis Dewi Retno Oscarini, Mahasiswi Politeknik Statistika STIS Jakarta

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Sholihin Nur
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Gus Hans: Tolak RUU HIP Jangan Digiring Benci Parpol Tertentu
    Gus Hans: Tolak RUU HIP Jangan Digiring Benci Parpol Tertentu
    07/07/2020 - 12:42
  • Ibadah Haji Tahun 2020 Hanya untuk Penduduk dan Warga Asing yang Tinggal di Saudi 
    Ibadah Haji Tahun 2020 Hanya untuk Penduduk dan Warga Asing yang Tinggal di Saudi 
    07/07/2020 - 12:31
  • Berdamai Dengan Diri
    Berdamai Dengan Diri
    07/07/2020 - 12:26
  • Wadahi PHK, BPJAMSOSTEK Malang Buka Pelatihan Kerja Gratis Bagi Peserta
    Wadahi PHK, BPJAMSOSTEK Malang Buka Pelatihan Kerja Gratis Bagi Peserta
    07/07/2020 - 12:20
  • Maju Pilbup Malang 2020, Dokter Umar Usman Siap Taati Aturan AD/ART NU
    Maju Pilbup Malang 2020, Dokter Umar Usman Siap Taati Aturan AD/ART NU
    07/07/2020 - 12:16
  • Kapten Timnas U-16: Kerinduan Berlatih Bareng dengan Akhirnya Terobati 
    Kapten Timnas U-16: Kerinduan Berlatih Bareng dengan Akhirnya Terobati 
    07/07/2020 - 12:03
  • Banyak Reklame Tak Berizin, Pemkab Bondowoso Bentuk Satgas
    Banyak Reklame Tak Berizin, Pemkab Bondowoso Bentuk Satgas
    07/07/2020 - 11:50
  • Kojic Acid, Terbukti Ampuh Mencerahkan Kulit
    Kojic Acid, Terbukti Ampuh Mencerahkan Kulit
    07/07/2020 - 11:46
  • Seorang Pendaki yang Meninggal di Gunung Lawu Sudah Dievakuasi
    Seorang Pendaki yang Meninggal di Gunung Lawu Sudah Dievakuasi
    07/07/2020 - 11:33
  • Universitas Prasetiya Mulya: Orang Muda, Ayo Mulai Bisnis
    Universitas Prasetiya Mulya: Orang Muda, Ayo Mulai Bisnis
    07/07/2020 - 11:24

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Berdamai Dengan Diri
    Berdamai Dengan Diri
    07/07/2020 - 12:26
  • Menguji Kesalehan Sosial di Tengah Pandemi
    Menguji Kesalehan Sosial di Tengah Pandemi
    07/07/2020 - 10:55
  • Ujian Promosi Doktor, Imam Rohani Usung Pendidikan Agama Islam untuk Difabel
    Ujian Promosi Doktor, Imam Rohani Usung Pendidikan Agama Islam untuk Difabel
    07/07/2020 - 09:34
  • Imam Shamsi Ali: Bahaya Ulama Instan
    Imam Shamsi Ali: Bahaya Ulama Instan
    07/07/2020 - 09:12
  • Menakar Pemeliharaan Hutan dalam Kerangka Hukum Islam
    Menakar Pemeliharaan Hutan dalam Kerangka Hukum Islam
    07/07/2020 - 08:39
  • Memburu Djoko Tjandra, Membuka
    Memburu Djoko Tjandra, Membuka "Truf" Siapa?
    06/07/2020 - 01:06
  • Pancasila Memang Sudah Final, Kita yang Harus Kreatif
    Pancasila Memang Sudah Final, Kita yang Harus Kreatif
    05/07/2020 - 13:22
  • Independence Day, A Muslim Reflection
    Independence Day, A Muslim Reflection
    04/07/2020 - 19:05
  • Pemain Persija Ini Siap Berikan Terbaik di TC Timnas Indonesia U-16
    Pemain Persija Ini Siap Berikan Terbaik di TC Timnas Indonesia U-16
    07/07/2020 - 13:03
  • Produk Ramah Lingkungan akan Dominasi Industri demi Kelangsungan Bumi
    Produk Ramah Lingkungan akan Dominasi Industri demi Kelangsungan Bumi
    07/07/2020 - 13:01
  • Sendirian Tanpa Helm, Pelaku Siram Cairan Mirip Sperma Pakai Gelas Plastik
    Sendirian Tanpa Helm, Pelaku Siram Cairan Mirip Sperma Pakai Gelas Plastik
    07/07/2020 - 13:00
  • Presiden Jokowi Tagih Penyelesaian Tol Cisumdawu ke Kementerian ATR
    Presiden Jokowi Tagih Penyelesaian Tol Cisumdawu ke Kementerian ATR
    07/07/2020 - 13:00
  • Tips Memilih Headphone ala Iga Massardi
    Tips Memilih Headphone ala Iga Massardi
    07/07/2020 - 13:00
  • Jenderal SBY Juga Pernah Berguru di Tempat Sakral Letjen TNI Prabowo
    Jenderal SBY Juga Pernah Berguru di Tempat Sakral Letjen TNI Prabowo
    07/07/2020 - 05:50
  • Tentara China Ngamuk Lihat Kapal Induk Amerika Keliaran di Pasifik
    Tentara China Ngamuk Lihat Kapal Induk Amerika Keliaran di Pasifik
    07/07/2020 - 06:50
  • Tentara China Simpan Dendam Usai Dilecehkan Kapal Induk Amerika
    Tentara China Simpan Dendam Usai Dilecehkan Kapal Induk Amerika
    07/07/2020 - 07:50
  • Bikin Ngilu, Pose Maharatu Bulutangkis Dunia Pakai Bikini
    Bikin Ngilu, Pose Maharatu Bulutangkis Dunia Pakai Bikini
    07/07/2020 - 00:30
  • Harga Bensin Pertalite Turun Jadi Rp6.450 per Liter
    Harga Bensin Pertalite Turun Jadi Rp6.450 per Liter
    07/07/2020 - 10:20