Peristiwa - Daerah

Komnas HAM Menunggu Kejagung Tangani Kasus Pembantaian Dukun Santet di Banyuwangi 

Selasa, 19 November 2019 - 19:08 | 63.50k
Komnas HAM Menunggu Kejagung Tangani Kasus Pembantaian Dukun Santet di Banyuwangi 
Komnas HAM di Kantor PCNU Banyuwangi. (Foto: Agung Sedana/TIMES Indonesia)
Pewarta: Agung Sedana | Editor: Faizal R Arief

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), hingga saat ini masih menunggu keseriusan Kejaksaan Agung dalam mengusut tragedi pembantaian dukun santet di Banyuwangi. Menyusul berkas penyelidikan yang telah diserahkan setahun lalu kepada lembaga tertinggi Adhyaksa tersebut. 

Bagian Pengaduan Komnas HAM, Avokanti Nur mengatakan, hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM sudah diserahkan kepada Kejaksaan Agung pada Bulan November Tahun 2018 lalu. Namun sampai saat ini belum ada kepastian apakah kasus pelanggaran HAM tersebut akan ditindaklanjuti ke tahap penyidikan atau tidak.

“November 2018 lalu sudah kita serahkan berkasnya. Kita masih menunggu perkembangannya. Sebab, tugas Komnas HAM hanya sampai tahap penyelidikan saja. Sementara untuk penyidikan hingga persidangan sudah menjadi tugas dan kewenangan Kejaksaan Agung,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (19/11/2019). 

Untuk mengungkap dan menindaklanjuti tragedi pembantaian dukun santet ini, kata wanita yang biasa dipanggil Poppy ini, memang dibutuhkan keseriusan dari Kejaksaan Agung. Sebab, dalam berkas hasil penyelidikan Komnas HAM sudah disampaikan secara gamblang terkait bagaimana peristiwa pembantaian dukun santet tersebut terjadi. Bahkan, siapa saja yang menjadi korbannya.

“Bagaimana niat Kejasaan Agung untuk menindak kasus ini. Karena peristiwanya ada dan korbannya juga ada. Kita juga sudah memberikan tanda-tandanya yang mengarah kepada pelaku. Untuk pembuktian sudah menjadi tugas dari kejaksaan,” imbuhnya. 

Komnas HAM menduga ada pelanggaran HAM berat atas tragedi pembantaian dukun santet di Kabupaten Banyuwangi yang terjadi pada tahun 1998 silam.

Berdasarkan hasil penyelidikan Komnas HAM, pembunuhan masal terhadap 194 warga Banyuwangi yang diduga dukun santet tersebut dilakukan secara sistematis dan terencana.

“Tugas Komnas HAM hanya melakukan penyelidikan. Kita sudah merampungkannya. Kita sudah menyatakan itu (pembantaian dukun santet) pelanggaran HAM berat. Karena pembantaian tersebut dilakukan secara sistematis dan terencana,” pungkasnya. 

Pembantaian Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam (santet atau tenung) yang terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur pada kurun waktu Februari hingga September 1998. Namun hingga saat ini motif pasti dari peristiwa ini masih belum jelas.

Pembunuhan pertama terjadi pada Februari 1998 dan memuncak hingga Agustus dan September 1998. Pada kejadian pertama di bulan Februari tersebut, banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, dalam artian kejadian tersebut tidak akan menimbulkan sebuah peristiwa yang merentet panjang. 

Pembunuh dalam peristiwa di Banyuwangi ini adalah warga-warga sipil dan oknum asing yang disebut ninja. Dalam kejadian ini, setelah dilakukan pendataan korban, ternyata banyak di antara para korban bukan merupakan dukun santet. Di antara para korban justru terdapat guru mengaji, dukun suwuk (penyembuh) dan tokoh-tokoh masyarakat seperti ketua RT atau RW. (*)


banyuwangi Banyuwangi dukun Santet
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Banyuwangi
Reaksi Anda
KOMENTAR

EKORAN

Follow TIMES Indonesia di Google News

TIMES TV

Festival Kampung Ublik of Pujon Kidul Where Every Corner of the Place is Filled with Lantern

Festival Kampung Ublik of Pujon Kidul Where Every Corner of the Place is Filled with Lantern

08/12/2019 - 02:18

Festival Kampung Ublik Pujon Kidul

Festival Kampung Ublik Pujon Kidul
Perawatan Rambut dengan Glutera Formulated Hair Shampoo

Perawatan Rambut dengan Glutera Formulated Hair Shampoo
Mengatasi Rambut Rontok dengan Glutera Hair Tonic Serum

Mengatasi Rambut Rontok dengan Glutera Hair Tonic Serum
Salon Kecantikan di Dalam Lapas

Salon Kecantikan di Dalam Lapas

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • SDM Indonesia Harus Berjiwa Pancasila di Era Revolusi Industri 4.0
    SDM Indonesia Harus Berjiwa Pancasila di Era Revolusi Industri 4.0
    10/12/2019 - 22:31
  • Pengakuan HAM Zaman Now
    Pengakuan HAM Zaman Now
    10/12/2019 - 20:53
  • Kebijakan Menjadi Pola Kepentingan Dalam Membuat Keputusan
    Kebijakan Menjadi Pola Kepentingan Dalam Membuat Keputusan
    10/12/2019 - 20:34
  • Problematika Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah/Madrasah
    Problematika Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah/Madrasah
    10/12/2019 - 19:17
  • Dunia Dengan Kecerdasan Buatan
    Dunia Dengan Kecerdasan Buatan
    10/12/2019 - 17:34
  • Metode Penyucian dan Penyehatan Jiwa (An-Nafs)
    Metode Penyucian dan Penyehatan Jiwa (An-Nafs)
    10/12/2019 - 15:15
  • Kebijakan Zonasi dan Pemerataan Pendidikan
    Kebijakan Zonasi dan Pemerataan Pendidikan
    10/12/2019 - 14:33
  • Penyimpangan Dana Desa Tidak Berpenghuni Alias ”Desa Hantu”
    Penyimpangan Dana Desa Tidak Berpenghuni Alias ”Desa Hantu”
    10/12/2019 - 12:43
  • Pemerintah Siapkan Perpres Demi Eliminasi TBC, Apa Saja Isinya?
    Pemerintah Siapkan Perpres Demi Eliminasi TBC, Apa Saja Isinya?
    11/12/2019 - 05:05
  • Kebebasan Berekspresi Dikekang, KontraS: 1615 Orang Ditangkap di 2019
    Kebebasan Berekspresi Dikekang, KontraS: 1615 Orang Ditangkap di 2019
    11/12/2019 - 04:10
  • Hattrick Milik Antar Napoli Temani Liverpool ke 16 Besar Liga Champions
    Hattrick Milik Antar Napoli Temani Liverpool ke 16 Besar Liga Champions
    11/12/2019 - 03:09
  • Orangtua Ambil Alih Medsos Anak Sebagai Hukuman, Malah Ketagihan!
    Orangtua Ambil Alih Medsos Anak Sebagai Hukuman, Malah Ketagihan!
    11/12/2019 - 03:05
  • Wapres Ma'ruf Minta Pengelolaan Wakaf Lebih Profesional untuk Kesejahteraan
    Wapres Ma'ruf Minta Pengelolaan Wakaf Lebih Profesional untuk Kesejahteraan
    11/12/2019 - 02:55
  • Rahasia Wanita Bisa Jago Oral Seks, Suami Bakal Bergairah
    Rahasia Wanita Bisa Jago Oral Seks, Suami Bakal Bergairah
    11/12/2019 - 02:38
  • Ngaku 'Pacaran' dengan Diri Sendiri, Ini Kata Emma Watson
    Ngaku 'Pacaran' dengan Diri Sendiri, Ini Kata Emma Watson
    11/12/2019 - 00:04
  • Mengenal Tumor Otak, Perenggut Nyawa Vokalis Roxette
    Mengenal Tumor Otak, Perenggut Nyawa Vokalis Roxette
    11/12/2019 - 05:00
  • Diabetes Tipe 2 Bisa Dihindari dengan Minum Kopi, Ini Aturannya
    Diabetes Tipe 2 Bisa Dihindari dengan Minum Kopi, Ini Aturannya
    11/12/2019 - 05:02
  • Lebih dari 40 Km/Jam, Pengguna Tol Layang Cikampek Didenda Rp2 Juta?
    Lebih dari 40 Km/Jam, Pengguna Tol Layang Cikampek Didenda Rp2 Juta?
    11/12/2019 - 05:15