Gaya Hidup

PIT InaHEA ke-6 Bahas Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2

Kamis, 07 November 2019 - 11:51 | 68.56k
PIT InaHEA ke-6 Bahas Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) InaHEA (Indonesian Health Economic Association) ke-6, yang berlangsung di BNDCC, Nusa Dua, Bali. (FOTO: istimewa)
Pewarta: | Editor: Wahyu Nurdiyanto

TIMESINDONESIA, DENPASARPIT InaHEA (Pertemuan Ilmiah Tahunan Indonesian Health Economic Association ke-6, membahas tentas pencegahan Diabetes melitus tipe 2 (DM2), yang merupakan salah satu “induk” dari banyak penyakit yang menimbulkan morbiditas/mortalitas tinggi serta beban ekonomi yang berat, seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal yang berakhir dengan dialisis.

Ketua CHEPS-UI (Center for Health Economics and Policy Studies – Universitas Indonesia) UI, Prof Budi Hidayat, menyampaikan dalam diskusi bertajuk “Economic of Diabetes Mellitus and Innovative Policy” ini membahas tentang  strategi yang bisa dilakukan untuk mencegah komplikasi diabetes.

Seperti diketahui, Indonesia menduduki ranking 6 dunia untuk jumlah penyandang diabetes, dengan 10,4 juta penduduk menderita diabetes. Sebanyak 73 persen penyandang diabetes di Indonesia tidak sadar bahwa dirinya menderita diabetes mellitus.

“Mereka yang saat ini tidak sadar menderita diabetes, dalam 4 – 6 tahun ke depan akan mengalami komplikasi, seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Sehingga terkesan, penyakit-penyakit inilah yang menghabiskan dana JKN. Kita harus stop hulunya,” tegas Prof. Budi, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kabupaten Badung, Bali.

Prof Budi mengatakan studi terkini yang dilakukan oleh CHEPS UI menemukan, dari 1.658 pasien DM2 yang disurvei, 66 persen komplikasi berupa mikrovaskular seperti nefrofati dan retinopati, dan 22 persen makrovaskular (stroke dan kardiovaskular).

Rerata komplikasi muncul 4 tahun setelah pasien didiagnosis, paling lama 6 tahun. Selama ini, penyakit-penyakit ini yang dituduh menghabiskan dana JKN.

“Diabet tidak pernah disebut, padahal inilah biang keroknya. Kalau pemerintah betul-betul serius menurunkan beban penyakit tidak menular (PTM), stop dari hulu sampai ke hilir. Artinya meliputi primary prevention yang fokusnya mencegah jadi diabetes dan secondary prevention yang fokusnya mencegah terjadinya komplikasi pada diabetes,” lanjut Prof Budi.

InaHEA-b.jpg

Berdasarkan studi lain yang dilakukan, pada 800ribu populasi diabetes ternyata 57 persen mengalami komplikasi. Pada tahun 2016 total biaya yang dikeluarkan JKN sebesar 7.7 T untuk menangani diabetes dan 74 persen tersedot untuk membiayai pasien diabetes yang mengalami komplikasi.

Adapun total biaya yang dibutuhkan untuk mengatasi diabetes tanpa komplikasi yakni Rp 5,4 juta/orang/tahun (perempuan) dan Rp 5,7/orang/tahun (laki-laki); untuk yang disertai komplikasi yakni Rp 11 juta/orang/tahun (perempuan) dan Rp 14 juta/orang/tahun (laki-laki). Bila dikalikan dengan sekitar 60 persen penderita diabetes yang memiliki komplikasi, maka dibutuhkan 59T untuk pembiayaannya. Bila semua pasien telah didiagnosis, mungkin dibutuhkan biaya pengobatan hingga 199T. 

Sistem kapitasi untuk pembiayaan FKTP turut menghambat pengelolaan diabetes. Dengan sistem kapitasi, FKTP diberi dana sekian rupiah, seberapapun banyak/sedikit pasien yang berobat. Dana ini meliputi biaya pelayanan, jasa, edukasi ke masyarakat, hingga obat-obatan. Di satu sisi, ini diharapkan memacu FKTP untuk mengedukasi masyarakat sehingga penyakit bisa dicegah sedini mungkin. Namun di sisi lain, ini bisa menjadi bumerang.

“Bila banyak pasien yang membutuhkan obat, maka dana kapitasi yang didapat oleh FKTP jadi sedikit, karena banyak dipakai untuk membiayai obat”, ungkap Prof. Budi.

Ini bisa menimbulkan keengganan bagi FKTP untuk memberikan obat, meski sebenarnya obat tersedia. Akhirnya pasien dirujuk ke FKTL dan mendapat obat di sana, yang tentu pembiayaannya jadi lebih besar. “Seharusnya pembiayaan obat dikeluarkan dari kapitasi,” katanya.

Pada akhirnya Prof. Budi menekankan untuk perang melawan diabetes dan penting melakukan sinkronisasi antara kebijakan dan pedoman yang dikeluarkan asosiasi. "Salah satunya adalah Formularium Nasional yang harus mengikuti Guideline Diabetes yg dikeluarkan oleh Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI)," pungkas Prof. Budi.

Ketua Umum PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) Prof DR dr Ketut Suastika, menyayangkan, selama ini tenaga medis hanya memfokuskan perhatian kepda hal-hal yang bersifat medis, misalnya pengobatan.

“Sayangnya, usaha ini belum mencapai hasil yang maksimal. Di sisi lain, pembiayaan kesehatan kita masih sangat rendah,” ungkapnya.

Penderita diabetes terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan  Dasar (Riskesdas), angkanya terus naik; dari 5,75 persen (Riskesdas 2007), 6,9 persen (2013), dan melonjak jadi 10,9 persen di Riskesdas 2018.

Komplikasi tidak hanya menimbulkan morbiditas, mortalitas, serta gangguan sosial, tapi juga membutuhkan biaya besar.

“Beban pembiayaan terkait diabetes dan komplikasinya sangat besar,” imbuhnya.

InaHEA-c.jpg

Mereka yang memiliki gula darah tinggi tapi belum diabetes (pra diabetes) juga tinggi, mencapai 30 persen. “Kalau dibiarkan, dalam 5 – 6 tahun, sekitar 50 persen mungkin akan menjadi diabetes. Pra diabetes dan diabetes yang belum terdiagnosis adalah ancaman besar,” ucap Prof Suastika.

Pola pasien diabetes di Indonesia memang cukup unik, dan cukup menyulitkan untuk usaha penanggulangan diabetes. Pola ini antara lalin tingginya pra diabetes dan DM2 yang tidak terdiagnosis, gangguan fungsi sel beta pankreas yang cepat muncul, banyak yang tidak diobati dengan baik atau tidak patuh berobat, dan angka komplikasi tinggi.

Di sisi lain, pembiayaan masih rendah. Ia melanjutkan, untuk menurunkan angka komplikasi, HbA1c harus bisa mencapai target <7 persen.

“Dengan menurunkan HbA1c hingga di bawah 7 persen, berbagai komplikasi bisa dicegah, baik mikrovaskular maupun makrovaskular,” ujarnya.

Namun faktanya, nilai HbA1c pasien diabetes di Indonesia adalah yang terburuk di dunia, yakni 9,2 persen.

HbaA1c adalah hemoglobin yang berikatan dengan gula dara. HbA1c dapat memberikan gambaran nilai rerata gula darah dalam 3 bulan terakhir, dan sebaiknya diperiksa tiap 3-6 bulan. Tanpa HbA1c yang terkontrol, komplikasi akan muncul, dan inilah yang menelan ¾ pembiayaan diabetes.

Menurut Prof. Suastika, pengelolaan DM2 di Indonesia cenderung lamban dan konservatif. Sebab, pemanganan masih cenderung menunggu. Kalau sudah HbA1c naik, baru obat ditambah, dan ini lama sekali.

"Padahal, satu pil tidak akan bisa memelihara kadar gula darah lebih dari 1 – 2 tahun. Kita perlu lebih agresif,” tuturnya.

Tahap awal, diabetes bisa daitasi dengan perbaikan gaya pola makan dan aktivitas fisik. Namun begitu tampak gula darah pasien tak kunjung terkontrol, harus segera diberi obat. Saat satu obat tidak berhasil, harus segera ditambah obat lain (kombinasi), atau insulin.

Berbagai negara telah berhasil mengelola DM2 dengan baik dengan memaksimalkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Early Access in Diabetes (EAiD) merumuskan empat pilar aksi dini untuk menjawab problematika DM2, dilandasi bukti-bukti empiris. Keempat pilar tersebut meliputi: Pencegahan (mencegah berkembangnya DM2), Deteksi Dini (mengidentifikasi orang dengan risiko tinggi untuk melakukan diagnosis dini), Kontrol Dini (memastikan akses pengobatan dan support agar gula darah terkontrol dan komplikasi sirna), dan Akses Dini (memastikan sistem membuka akses edukasi, perbaikan gaya hidup, dan terapi yang dibutuhkan).

Mengingat tingginya penyandang diabetes yang belum menyadari kondisinya, maka semua orang yang berisiko tinggi hendaknya diskrining untuk gula darah.

“Antara lain mereka yang kegemukan/obes, lingkar perut melebihi angka normal (>80 cm untuk permepuan dan >90 cm untuk laki-laki), ada riwayat diabetes dalam keluarga, dan perempuan yang melahirkan bayi >4 kg,” papar Prof Suastika.

Bila hasil skrining menunjukkan kadar gula darah yang di atas normal, maka kelompok ini harus dikontrol gula darahnya. Setelah pasien dideteksi, selanjutnya keran akses pengobatan dan pelayanan diabetes harus dibuka selebar-lebarnya.

Sayangnya sekarang, pengobatan diabetes masih lebih banyak dilakukan di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKTL). Padahal seharusnya, obat-obatan diabetes seperti insulin, bisa diberikan di FKTP untuk mempermudah akses bagi pasien. Ini salah satu yang diusulkan.

“Kami harapkan, 80% pasien diabetes selesai ditangani di FKTP sehingga tidak perlu dikonsultasikan ke FKTL. Dengan demikian komplikasi bisa dicegah lebih dini, sehingga mortalitas dan morbiditas berkurang, pembiayaan pun lebih murah,” papar Prof. Suastika.

Pertemuan Ilmiah InaHEA

PIT InaHEA ke-6 diprakarsai oleh InaHEA dan YHEPS (Young Health Economics and Policy Society), dengan tema besar Economic of Non-Communicable Diseases in Indonesia–Gathering Evidence for National Action Plan dan dihadiri sekitar 300 peserta.

Tujuan dari PIT InaHEA ini yakni untuk memahami tantangan dan biaya penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia; memahami beban pengobatan (PTM) terkini dan proyeksinya di masa depan; membagikan informasi untuk memperbaiki praktik kebijakan kesehatan di level lokal dan nasional; membagikan informasi di antara pihak-pihak yang terlibat seperti rumah sakit, klinik, pusat kesehatan, perusahan farmasi, dan lain-lain; bertukar informasi seputar topik PTM dengan perspektif serupa; mendapat pencerahan dari para akademisi terpercaya, khususnya di bidang ekonomi kesehatan dan ahli ekonometrika dari negara-negara lain tentang bagaimana menagnggulangi tantangan PTM; serta menjembatani informasi terkait riset dan kebijakan terkini menjadi rencana aksi nasional untuk mengatasi PTM.(*)



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

TIMES TV

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

20/05/2020 - 21:40

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional
Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang

Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang
GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC

GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC
Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Tembang Sufi Mantiqut Thoir-13 Ilmu dan Kelopak Kesombongan
    Tembang Sufi Mantiqut Thoir-13 Ilmu dan Kelopak Kesombongan
    27/05/2020 - 07:45
  • Meski Suasana Beda, Silaturrohmi Tetap Bermakna
    Meski Suasana Beda, Silaturrohmi Tetap Bermakna
    27/05/2020 - 05:49
  • Ramadhan, Idul Fitri dan Filsafat
    Ramadhan, Idul Fitri dan Filsafat
    26/05/2020 - 18:05
  • Nation Digital Tak Terhindari
    Nation Digital Tak Terhindari
    26/05/2020 - 16:39
  • Reformasi Birokrasi: Tantangan Menuju World Class Government 2025
    Reformasi Birokrasi: Tantangan Menuju World Class Government 2025
    26/05/2020 - 16:25
  • Pembaharuan Kebijakan Zonasi Menteri Nadiem Makarim
    Pembaharuan Kebijakan Zonasi Menteri Nadiem Makarim
    26/05/2020 - 14:29
  • Idul Fitri di Saat Pandemi Corona
    Idul Fitri di Saat Pandemi Corona
    26/05/2020 - 13:58
  • Merayakan Solidaritas Idul Fitri
    Merayakan Solidaritas Idul Fitri
    26/05/2020 - 09:34
  • 5 Inspirasi Gaun Floral untuk Musim Panas dari Para Perempuan Bangsawan
    5 Inspirasi Gaun Floral untuk Musim Panas dari Para Perempuan Bangsawan
    27/05/2020 - 12:58
  • Doa Buruk Mats Hummels untuk Bayern Munich
    Doa Buruk Mats Hummels untuk Bayern Munich
    27/05/2020 - 12:57
  • Ahmad Dhani Ultah ke-48, Mulan Jameela Beri Ucapan Romantis
    Ahmad Dhani Ultah ke-48, Mulan Jameela Beri Ucapan Romantis
    27/05/2020 - 12:56
  • Diduga Stres Susun Skripsi, Mahasiswa UNIBA Nekat Gantung Diri
    Diduga Stres Susun Skripsi, Mahasiswa UNIBA Nekat Gantung Diri
    27/05/2020 - 12:56
  • Kisah Marko Simic, Rela Tak Kuliah Demi Sepak Bola
    Kisah Marko Simic, Rela Tak Kuliah Demi Sepak Bola
    27/05/2020 - 12:51
  • Mengerikan, Badan Baru Mike Tyson Vs Holyfield
    Mengerikan, Badan Baru Mike Tyson Vs Holyfield
    27/05/2020 - 06:49
  • Heboh, Emak-emak Nekat Copot Celana Dalam Buat Masker di Kantor Pos
    Heboh, Emak-emak Nekat Copot Celana Dalam Buat Masker di Kantor Pos
    27/05/2020 - 00:02
  • Badan Baru Mike Tyson yang Lebih Seram, Perut Hampir Jadi 'Roti Sobek'
    Badan Baru Mike Tyson yang Lebih Seram, Perut Hampir Jadi 'Roti Sobek'
    27/05/2020 - 00:14
  • Mengejutkan, Ini Kesaksian Kapten Tanker Iran Usai Tiba Venezuela
    Mengejutkan, Ini Kesaksian Kapten Tanker Iran Usai Tiba Venezuela
    27/05/2020 - 01:07
  • Peringatan Keras Xi Jinping pada Dunia, China Siap Perang!
    Peringatan Keras Xi Jinping pada Dunia, China Siap Perang!
    27/05/2020 - 00:02