Kopi TIMES

Santri untuk Perdamaian Dunia

Selasa, 22 Oktober 2019 - 10:06 | 14.36k
Santri untuk Perdamaian Dunia
Prof Dr Rochmat Wahab

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Hari ini adalah hari istimewa bagi Santri. Itu karena hari ini, 22 Oktober yang secara historis bertepatan dengan Hari Santri Nasional (HSN) yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo 4 tahun yang lalu, tepatnya 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta.

Penetapan HSN dimaksudkan untuk meneladankan semangat jihad kepada para santri tentang keindonesiaan yang digelorakan para ulama.

Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasjim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Di belakang tentara Inggris, rupanya ada pasukan Belanda yang ikut membonceng.

Aspek lain yang melatarbelakangi penetapan HSN ini adalah pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI.

Ini sekaligus merevisi beberapa catatan sejarah nasional, terutama yang ditulis pada masa Orde Baru, yang hampir tidak pernah menyebut peran ulama dan kaum santri.

Padahal secara nyata umat Islamlah yang banyak memainkan peran untuk melawan gerakan ideologi komunis yang bertentangan dengan ideologi Pancasila yang tidak hanya terjadi pada tahun 1948, melainkan juga tahun 1965.

Untuk mensyukuri dan merayakan HAN tahun 2019, telah ditetapkan temanya, yaitu SANTRI INDONESIA UNTUK PERDAMAIAN DUNIA. Menurut hemat saya, tema ini didasari dua hal penting. Pertama, bahwa Islam diturunkan di bumi semata-mata untuk rahmatan lil’aalamiin.

Kedua, bahwa tujuan Indonesia yang salah satunya adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Atas dasar inilah maka Santri Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk bisa berkontribusi dalam menciptakan dan menjaga perdamaian dunia.

Dunia diciptakan oleh Allah swt semata-mata untuk memenuhi hajat manusia. Karena itu semua manusia wajib ikut menjaganya. Warga dunia dan bangsa baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama wajib menjaga dunia dengan penuh tanggung jawab. Karena itu memperlakukan dunia seharusnya dalam batas kewajaran.

Tidak boleh mengeksploitasi baik secara fisik maupun sosial secara berlebihan, sehingga menimbulkan konflik, bahkan sampai terjadi peperangan. Jika tidak bisa dikendalikan maka  bisa berakibat kedamaian hidup terancam.

Ingat bahwa kerusakan dunia itu terjadi cenderung disebabkan oleh manusia. Sebagaimana Allah swt tegaskan dalam QS Ar Rum, 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).

Ummat Islam di manapun berada, terlebih-lebih para santri berkewajiban menjaga perdamaian di muka bumi. Karena itu HAN  2019 dengan tema Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia adalah sangat relevan.

Ingat bahwa perdamaian adalah asas dari ajaran Islam. Rasulullah saw mengajarkan para sahabatnya agar tidak mengandai-andaikan peperangan dan permusuhan. Beliau mengajarkan agar para sahabatnya memohon perdamaian dan keselataman.

Sebagaimana sabdanya, yang artinya “Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh (perang), tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh, bersabarlah.” (HR. Bukhari)

Pada kenyataannya bahwa peperangan adalah keniscayaan. Fitrah manusia adalah cinta kedamaian, namun praktiknya mereka selalu berselisih dan bermusuhan. Karena itu, untuk menghadapi realita ini beliau tekankan, bahwa bila terjadi peperangan, bersabarlah, hadapi, dan jangan lari sebagai seorang pengecut.

Jika terpaksa sekali, seperti yang terjadi Surabaya saat itu, 22 Oktober 1945 dengan seruan jihad merupakan jalan terakhir.

Seorang muslim dididik dengan akhlak yang mulia melalui Al Qur-an dan As Sunnah. Kedua  dalil naqli ini selalu mengedepankan solusi perdamaian dan berupaya menghindari peperangan dan pertumpahan darah.

Coba perhatikan ayat-ayat tentang perang. Izin berperang barulah muncul di saat umat Islam memang dihadapkan pada kondisi tempur. Dalam kondisi tersebut umat Islam harus membela diri dan agama mereka.

Allah swt berfirman dalsm QS Al Hajj, 39-40,yang artinya “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”

Dalam ayat ini, penyebab disyariatkannya perang sangat jelas sekali. Yaitu, karena umat Islam dizalimi dan diusir dari negeri mereka tanpa alasan yang dibenarkan. Allah swt berfirman, dalam QS:Al-Baqarah,190, yang “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa perdamaian harus menjadi alternatif pertama dalam menghadapi konflik. Jika terpaksa pihak lain menindas dan mendzolimi kita dan agama kita, maka kita wajib melakukan pembelaan untuk mencapai perdamaian.

Kita harus respek antar sesama, hidupkan rasa saling solider, dan hidupkan sikap dan perilaku saling peduli dan membantu. Sifat-sifat terpuji ini tidaklah datang tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang. Para santri membiasakan diri dengan  rasa tawadlu. Jauhkan diri dari sifat sombong dan takabbur. Biasakan sifat pemaaf. Kehidupannya yang dengan sifatnya moderat (tawasuth) dan toleran (tasamuh) juga adil (i’tidal).

Akhirnya, bahwa santri Indonesia dengan adanya HAN 2019, tidak boleh memunculkan sikap bangga yang berlebihan dengan menepuk dada, bahwa saya hebat yang maqamnya melebihi dari orang lain.

Posisi santri bukan semata-mata untuk takabur dan sombongkan diri, melainkan untuk ingatkan tanggung jawab moralnya, sebagai hamba Allah swt yang memiliki amanah untuk sebarkan nilai-nilai kebaikan, sehingga menjadi sumber terciptanya perdamaian. Kehidupan yang penuh kedamaian, ketentraman, dan keharmonisan.

Dengan begitu kehadiran santri harus bisa dipastikan dapat sebarkan rasa damai, tentram, dan harmoni serta bahagia, terutama di tataran nasional tidak ada lagi peristiwa kemanusiaan seperti di Papua Barat, Wamena, dsb. (*)

 

 

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id


yogyakarta Opini Prof Dr Rochmat Wahab
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Yogyakarta
Reaksi Anda
KOMENTAR

EKORAN

TIMES TV

Looking for Rattan Hamper for Your Christmas? Check This Out

Looking for Rattan Hamper for Your Christmas? Check This Out

12/11/2019 - 23:05

Keranjang Parcel Dari Rotan

Keranjang Parcel Dari Rotan
Cara Konsumsi Glutera Nitric Oxide dan Manfaatnya

Cara Konsumsi Glutera Nitric Oxide dan Manfaatnya
Cara Konsumsi Glutera Glutathione dan Manfaatnya

Cara Konsumsi Glutera Glutathione dan Manfaatnya
Cara Konsumsi Glutera Collagen dan Manfaatnya

Cara Konsumsi Glutera Collagen dan Manfaatnya