Kopi TIMES

Semangat Hari Santri: Iqra’ sebagai Fondasi Komunikasi Sosial

Minggu, 20 Oktober 2019 - 09:44 | 86.90k
Semangat Hari Santri: Iqra’ sebagai Fondasi Komunikasi Sosial
Rachmat Kriyantono, PhD Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, MALANGSANTRI adalah setiap kita yang menuntut ilmu dengan basis adab agama dan adab nusantara. Tulisan ini mengajak agar semangat santri ini selalu muncul dalam aktivitas komunikasi kita. Wahyu Allah yang pertama turun, “Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq” (bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan). Ayat ini wujud konkret dari tauhid dan mempunyai tiga makna: (1) Segala aktivitas manusia harus dimulai dari pengakuan atas ke-esaan Allah; (2) Penyerahan diri bahwa aktivitas itu hanya dapat terlaksana atas izin Allah; (3) Aktivitas itu dilakukan semata untuk pengabdian kepada-Nya. Tauhid adalah dasar keimanan dan fondasi bagi semua perilaku dan aktivitas Muslim, termasuk fondasi dalam kegiatan komunikasi. Bagai sebuah rumah, fondasi ini harus dibangun dengan mempelajari ilmu tentang fondasi ini terlebih dulu, agar dipahami, meresap, mengakar, kokoh, sehingga kuat menyanggah aktivitas manusia. Banyak ayat Allah yang memerintahkan untuk membangun tauhid, yakni mengajak iman kepada Allah dan Rasul-Nya (QS 7:158; QS 41:6), terus mengingatkan orang-orang beriman untuk memperkuat ke-tauhid-an ini, yakni tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul tanpa ragu-ragu (QS An-Nisa, 4:136; QS 49:15).

Karena itulah, ayat “iqra, bismirabbikalladzi khalaq”, selain diartikan sebagai dasar menuntut ilmu, memahami dan mengeksplorasi tanda-tanda kebesaran Allah, juga dapat diartikan fondasi kegiatan berkomunikasi. Mengapa? Karena berkomunikasi adalah membaca segala tanda (simbol) kebesaran Allah di seluruh alam raya sehingga berkomunikasi disebut perilaku simbolik (menyampaikan, membaca dan memahami simbol).

Komunikasi menjadi kemampuan awal yang dimiliki manusia dan langsung/eksplisit disebut Allah untuk diajarkan kepada manusia (QS Ar-Rahman, 55: 3-4), yakni “khalaqal insana, ‘allamahulbayaana” (menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara). Allah pula yang mengajarkan Nabi Adam as (manusia pertama) kemampuan mengenal nama-nama (simbol-simbol) semua benda di alam raya dan Nabi Adam as juga diminta memberitahukan nama-nama semua benda tersebut kepada para malaikat (QS Al-Baqarah, 31-33). Ayat-ayat tentang komunikasi tersebut merupakan jawaban pertanyaan: “Kapan komunikasi itu ada? Siapa yang mengajari manusia berkomunikasi? Siapa yang mengajari manusia mentransfer simbol?” Jawabannya adalah komunikasi itu (verbal dan non-verbal) ada bersamaan dengan adanya manusia karena diajarkan Allah SWT. Fakta membuktikan bahwa kemampuan awal manusia saat dilahirkan selain bernapas adalah berkomunikasi, yakni seorang bayi yang menangis ketika baru dilahirkan. Tangisan adalah berkomunikasi. 

Inilah bukti pentingnya komunikasi dalam Islam, yakni kita tidak dapat tidak berkomunikasi (we can’t not communicate). Nabi Muhammad SAW dan para nabi lainnya pun diutus Allah untuk berkomunikasi, yakni menyampaikan peringatan dan bimbingan ke jalan yang benar. Karenanya, komunikasi mesti berdasarkan dan diarahkan kepada ke-tauhid-an. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi tauhid dan taqwa merupakan grand-theory komunikasi Islam. Komunikasi pun dimaknai sebagai proses transmisi dan interaksi pesan antara manusia dan Allah serta antara manusia dengan sesamanya berdasarkan nilai-nilai Islam yang berhulu pada ketauhid-an. Jadi, tauhid adalah pilar etika komunikasi yang dapat menyatukan, membuat erat, dan harmoni semua elemen masyarakat karena tauhid menyadarkan manusia pada “the existence of purpose in the creation, and the liberation and freedom of humankind from bondage and servitude to multiple varieties of non-Gods.” (Mowlana, 2007, h. 28). Melalui tauhid, manusia sadar pada hakikat kemanusiaannya (yakni makhluk yang paling mulia yang hanya untuk beribadah kepadanya), dan bebas dari ikatan dan penghambaan duniawi.

Tauhid bermakna keyakinan bahwa Allah adalah Maha Penentu segala kehidupan makhluk, dan tempat kembali atau tujuan akhir semua makhluk. Karena itu, aktivitas komunikasi harus diarahkan mencapai tujuan akhir tersebut. Komunikasi harus diarahkan oleh kesadaran bahwa puncak kehidupan adalah akhirat, yakni setelah manusia dipanggil menghadap-Nya, dan karenanya kehidupan dunia hanya mampir menuju kehidupan yang kekal. Komunikasi yang tidak bertauhid menyebabkan peserta komunikasi jatuh pada seburuk-buruknya umat sehingga menjauh dari fitrah manusia sebagai sebaik-baiknya ciptaan Allah (seperti disebut QS At-Tin). Inilah bencana komunikasi. Contoh: Produser menghasilkan tayangan hiburan. Tayangan ini semestinya bukan bertujuan akhir untuk “menghibur diri penonton”, tetapi, bertujuan “menghibur yang tidak membuat penonton berdosa.” Tayangan hiburan yang menampilkan penyanyi yang pamer aurat adalah hiburan yang mengajak kepada dosa. Dosa adalah penghalang mencapai kebahagiaan akhir (akhirat).

Komunikasi bertauhid mensyaratkan tidak adanya pemisahan (sekulerisasi) antara agama dan proses komunikasi. Sistem komunikasi sekuler menyebabkan proses komunikasi cenderung diarahkan untuk membangun kekuasaan politik, ekonomi, hegemoni media dan opini publik, yang cenderung menghalalkan segala cara dan tidak peduli batasan etika. Di sinilah berlaku hukum ‘yang kuat berkuasa’, ‘adigang adigung adiguna’ akibat ‘homo homini lupus’ (manusia pemangsa bagi manusia lainnya) demi kekuasaan. Contoh: beberapa politisi yang juga pemilik grup media menggunakan medianya untuk membangun opini bagi partai politiknya tanpa ada batasnya, yakni tiap hari hanya publikasi partai politiknya. Padahal TV dan radio itu meminjam frekuensi milik publik sehingga isi medianya pun mestinya memperhatikan kepentingan publik.  

Komunikasi tidak hanya diarahkan sebagai ranah komunikasi dengan Allah, tapi juga diarahkan menjalin relasi dan membangun harmoni dengan manusia (QS. Ali Imran, 3:112; An-Nisa’, 4:36). Allah mengajarkan manusia berkomunikasi dengan-Nya (beribadah dan tidak menyekutukan-Nya), tetapi, fenomena komunikasi sosial banyak juga digambarkan dalam Al-Quran, yaitu mengajarkan memperlakukan dengan baik kedua orang tua, tetangga, saudara, kerabat, sahabat, anak yatim, orang miskin, orang yang dalam perjalanan jauh kehabisan bekal, dan hamba sahaya (Seperti disebut di QS. 4: 36).

Pentingnya komunikasi berdasar tauhid makin tampak dari sabda Rasulullah SAW yang menjadikan hablumminannas menjadi indikator keimanan seseorang, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti tetangganya, hendaklah memuliakan tamunya, hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam” (HR. Bukhari-Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Syuraih Al-‘Adawi). Diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai aku mengira ia akan menjadikannya ahli waris” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam berkomunikasi Muslim diminta selalu berprasangka baik; selalu mengapresiasi orang lain; selalu menjalin hubungan baik; saling berkasih sayang; selalu memberi maaf; tidak mengganggu; dan tidak menggunjing. Semua ini dilakukan bukan hanya terhadap sesama manusia, tetapi, juga terhadap Allah SWT dan semua makhluk- Nya, seperti hewan, tumbuhan, dan alam semesta raya. Contoh: Jika kita merokok di dalam gedung atau di dalam bus kota, asap rokok akan membuat udara pengap dan mengganggu orang lain; Jika kita membuang sampah sembarangan, membuat mengganggu lingkungan dan merusak kebersihan serta keindahan. Merokok dan membuang sampah sembarangan mengomunikasikan sebuah simbol ketidakpedulian kita pada lingkungan; Dalam komunikasi interpersonal, seorang Muslim wajib berkomunikasi tanpa merendahkan ras, status ekonomi sosial, agama, dan suku bangsa dari komunikan.

Indahnya komunikasi tauhid ini jika diaplikasikan di media sosial dapat membuat interaksi virtual di era media sosial ini makin indah. Segala postingan di media sosial memiliki potensi besar memunculkan kesalahpahaman karena bersifat virtual, komunikasinya tidak langsung, dan pesan berupa kata-kata tertulis. Sifat ewuh pakewuh pun sudah tereduksi sehingga memungkinkan orang lebih mudah mengkritik, menghina, mencaci maki atau mengolok-olok. (*)

* Penulis Rachmat Kriyantono, PhD adalah Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Sholihin Nur
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Ketua DPRD Kota Malang Kaget Lihat Pelayanan Kantor Imigrasi Malang, Ada Apa?
    Ketua DPRD Kota Malang Kaget Lihat Pelayanan Kantor Imigrasi Malang, Ada Apa?
    02/07/2020 - 20:00
  • Sebentar Lagi Banyuwangi Miliki Laboratorium PCR Covid-19
    Sebentar Lagi Banyuwangi Miliki Laboratorium PCR Covid-19
    02/07/2020 - 19:18
  • Pemkab Bandung Sosialisasikan Bandung EDAN
    Pemkab Bandung Sosialisasikan Bandung EDAN
    02/07/2020 - 19:13
  • Try Sutrisno dan Purnawirawan Minta RUU HIP Diganti dengan Pembinaan Ideologi
    Try Sutrisno dan Purnawirawan Minta RUU HIP Diganti dengan Pembinaan Ideologi
    02/07/2020 - 19:00
  • Civitas Akademika Uniba Solo Kembali Aksi Tuntut Mundur Ketua Dewan Pembina Yapertib
    Civitas Akademika Uniba Solo Kembali Aksi Tuntut Mundur Ketua Dewan Pembina Yapertib
    02/07/2020 - 18:56
  • DPD RI Siap Bantu Bulog Tegakkan Tiga Pilar Ketahanan Pangan
    DPD RI Siap Bantu Bulog Tegakkan Tiga Pilar Ketahanan Pangan
    02/07/2020 - 18:50
  • Sikapi Pembakaran Bendera, Ini Langkah PDI Perjuangan Kabupaten Malang
    Sikapi Pembakaran Bendera, Ini Langkah PDI Perjuangan Kabupaten Malang
    02/07/2020 - 18:47
  • PORKOT Batu Tahun 2020 Resmi Ditunda
    PORKOT Batu Tahun 2020 Resmi Ditunda
    02/07/2020 - 18:42
  • Menteri PPPA RI Buka Rembug Penurunan Angka Stunting di Sumba Timur
    Menteri PPPA RI Buka Rembug Penurunan Angka Stunting di Sumba Timur
    02/07/2020 - 18:41
  • PLN Surakarta Serahkan Bantuan 12 Wastafel Portable ke Pemkab Sragen
    PLN Surakarta Serahkan Bantuan 12 Wastafel Portable ke Pemkab Sragen
    02/07/2020 - 18:38

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Politik Simbol, Politik Banal?
    Politik Simbol, Politik Banal?
    02/07/2020 - 17:01
  • Bukan Dramaturgi Marah Jokowi
    Bukan Dramaturgi Marah Jokowi
    02/07/2020 - 15:11
  • Manajemen Krisis New Normal
    Manajemen Krisis New Normal
    02/07/2020 - 12:30
  • Ultah Polri ke-74 Pembuktian Sebagai ”Mujahid”
    Ultah Polri ke-74 Pembuktian Sebagai ”Mujahid”
    02/07/2020 - 11:52
  • Prevensi Etis Dalam Kedinamikaan Kejahatan
    Prevensi Etis Dalam Kedinamikaan Kejahatan
    02/07/2020 - 11:20
  • Anak-Anak Konstitusionalitas
    Anak-Anak Konstitusionalitas
    02/07/2020 - 10:45
  • Maestro Harmonika Amang Genggong, Aset Penting Gresik
    Maestro Harmonika Amang Genggong, Aset Penting Gresik
    02/07/2020 - 10:03
  • Kuliah di Saat Pandemi: Ketika Tugas Hanya Sebatas Formalitas
    Kuliah di Saat Pandemi: Ketika Tugas Hanya Sebatas Formalitas
    02/07/2020 - 09:46
  • Selain Danilo Petrucci, Ini Nama-Nama Calon Pengganti Pol Espargaro
    Selain Danilo Petrucci, Ini Nama-Nama Calon Pengganti Pol Espargaro
    02/07/2020 - 20:05
  • Udah Bisa Berkemah di Gunung Gede, Pengunjung Harus Patuhi Protokoler Ini
    Udah Bisa Berkemah di Gunung Gede, Pengunjung Harus Patuhi Protokoler Ini
    02/07/2020 - 20:00
  • Bikin Heboh! Wanita Ini Mendadak Pingsan Saat Mempelai Akan Ciuman
    Bikin Heboh! Wanita Ini Mendadak Pingsan Saat Mempelai Akan Ciuman
    02/07/2020 - 20:00
  • Susah Mati, Ini 5 Hero Tank Mobile Legends Terbaik Juli 2020
    Susah Mati, Ini 5 Hero Tank Mobile Legends Terbaik Juli 2020
    02/07/2020 - 20:00
  • David Silva Segera Cabut, Pep Juga Buta Masa Depan Aguero dan Fernandinho
    David Silva Segera Cabut, Pep Juga Buta Masa Depan Aguero dan Fernandinho
    02/07/2020 - 19:56
  • Terkuak Baim Wong Sebenarnya Pelit, Sifat Dermawan Hanya Pencitraan?
    Terkuak Baim Wong Sebenarnya Pelit, Sifat Dermawan Hanya Pencitraan?
    02/07/2020 - 06:00
  • Ujang Prediksi Ada Jenderal TNI Dicopot Jokowi dari Kursi Menteri
    Ujang Prediksi Ada Jenderal TNI Dicopot Jokowi dari Kursi Menteri
    02/07/2020 - 06:00
  • Gawat, Pertahanan Indonesia 'Terancam' dari Australia
    Gawat, Pertahanan Indonesia 'Terancam' dari Australia
    02/07/2020 - 10:15
  • Fadli Zon Nilai Jokowi Bisa Tunjuk Prabowo Penanggung Jawab COVID-19
    Fadli Zon Nilai Jokowi Bisa Tunjuk Prabowo Penanggung Jawab COVID-19
    02/07/2020 - 09:54
  • Pesta Ulang Tahun Paling Brutal, Mike Tyson Tiduri 19 Wanita
    Pesta Ulang Tahun Paling Brutal, Mike Tyson Tiduri 19 Wanita
    02/07/2020 - 04:24