Kopi TIMES

In Absentia

Jumat, 17 Mei 2019 - 19:12 | 63.86k
In Absentia
Zulham Akhmad Mubarrok, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU).
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, MALANG – APA yang lebih berbahaya dari korupsi? Jawabnya: birokrasi masturbasi. Apa yang lebih berbahaya dari birokrasi masturbasi? Jawabnya: ketidakpedulian. 

Suatu pagi di tahun 70an, Presiden Nixon berniat membubarkan sebuah aparat pemerintah Amerika yang sudah ada sejak 1897, yakni Dewan Pencicip Teh. Tugas dewan ini ialah mencicipi mutu teh yang diimpor ke AS. Nixon menganggap ini sebenarnya berlebihan, sebab sudah ada lembaga lain, yang mengontrol bahan makanan dan minuman. Dan meskipun anggaran buat dewan ini cuma US$ 125 ribu setahun tapi Nixon berpendirian, tiap sen uang para pembayar pajak harus dihemat.

Tapi apa lacur. Dewan itu didukung oleh para importir teh. Mereka ini juga punya orang di antara Senator, punya pengaruh di staf Gedung Putih, dan punya argumen: buat apa mengusik soal sepele ini? Akhirnya, setelah menimbang A dan B, mendengar C dan D, Presiden Nixon memutuskan: Dewan Pencicip Teh tetap berdiri. 

Bahkan, Dewan Pencicip Teh itu tidak mampu dibubarkan oleh Presiden AS setelah Nixon. Kemudian atas inisiatif banyak pihak dan komitmen yang melibatkan banyak orang, pada tahun 1996 pemerintah AS memutuskan sebuah Undang Undang untuk membubarkan Dewan Pencicip Teh setelah hampir 1 abad berdiri. 

Cerita ringkas itu, dikisahkan oleh Karen de Witt dalam sebuah artikel di New York Times dan menunjukkan pelajaran berharga. Bagi mereka yang gigih berseru untuk ”deregulasi”, bagi yang berbicara untuk menghilangkan pelbagai aturan dan intervensi pemerintah dalam kehidupan masyarakat dan ekonomi, anekdot itu menunjukkan betapa menjengkelkannya birokrasi. 

Birokrasi masturbasi levelnya setingkat diatasnya. Bukan karena para pegawai pemerintah punya motif yang jahat. Semangat di hati mereka bisa sangat mulia dan untuk kepentingan umum. Tapi secara manusiawi mendapatkan keuntungan demi diri sendiri kadang lebih diutamakan. 

Sebuah pendorong utama dalam diri setiap birokrat ialah menjadi lebih berkuasa. Bahkan semakin bulat dedikasi seorang birokrat, dan semakin yakin dia bahwa yang dilakukannya adalah untuk kepentingan tanah air, semakin teguh ia menjaga agar peran birokasinya tak berkurang. Dan secara sadar, birokrasi menjadi alat pemuas birahi kekuasaan yang kemudian menjalar sampai ke darah daging. 

Gejala sakit pada birokrasi itu menjalar seperti virus.  Dan sakit itu menular sedemikian rupa sehingga menimbulkan sakit dalam skala yang lebih luas dan berbahaya bernama wabah ketidakpedulian. 

Padahal jika dicermati, pasti ada hal yang menyebabkan orang butuh birokrasi. Seperti tersirat dalam kisah tentang Dewan Pencicip Teh, ternyata ada satu bagian dalam masyarakat (bahkan kalangan bisnis sendiri, yang konon cuek dengan birokrasi) yang ingin mempertahankannya. Dengan kata lain, lahirnya birokrasi dan pelbagai aturan yang dibuat untuk dan oleh birokrasi  itu-kadang kala tidak datang dari angan serakah seorang penguasa.

Bahkan ada suatu masa di Tanah Jawa ketika orang menganggap para pengatur yang bekerja atas mandat rakyat bisa lebih bersih ketimbang orang-orang lain. Mereka bahkan diberikan gelar sebagai titisan Tuhan dan dipuja-puji. Para pengatur itu diberikan gelar Raja, Sultan, Ratu, dan seterusnya.

Tapi abad berubah, juga cara memandang. Tampaknya, di zaman itu, orang yang bekerja buat kepentingan umum bisa dengan sendirinya dinyatakan bebas dari kepentingan pribadi. Betapa nonsens, teriak kita di zaman ini. Lalu kita pun sadar betapa nonsens itu telah berkepanjangan. 

Di Tanah Kelahiranku Kabupaten Malang, nonsens sedemikian sudah tumbuh menjadi wabah. Ketika kota dan kabupaten lain beradu konsep pelayanan publik demi mewujudkan program 100 Kota Cerdas, disini virus ketidakpedulian menjangkit. Sementara daerah lain berlomba adu gagasan, kami berebut duduk manis dan diam.

Pasca KPK menahan Bupati Rendra Kresna yang terpilih secara konstitusional, lini-lini birokrasi mengalami stagnansi. Inovasi pelayanan publik tidak hadir, arah kebijakan anggaran daerah juga abu-abu. Hampir pasti sejak setahun terakhir, pemerintah Kabupaten Malang berjalan di tempat karena pemimpin yang in absentia. 

Sang wakil H Sanusi belum mampu menggantikan peran Bupati Rendra. Kepala-kepala dinas bekerja was-was karena takut disadap KPK. Legislator di Gedung DPRD Kabupaten Malang juga minim inovasi dan lebih sibuk kunker ketimbang merancang perda inisiatif. Polanya sama, mencari selamat sendiri-sendiri dan menikmati manisnya buah kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Jika dulu terdapat beberapa nama pengusaha besar yang di dalam dokumen dakwaan KPK disebut menjadi “pemodal” karena “meminjamkan” dana kampanye Bupati Rendra, kini yang berperan justru pengusaha-pengusaha kecil. Dus, birokrasi masturbasi lahir untuk memenuhi kepentingan preman dan begal anggaran yang lahir prematur. Yang dulu sembunyi karena kalah kuat, kini bermunculan. KPK seharusnya bekerja lebih giat lagi demi niat baik membersihkan Kabupaten Malang.

Adagium yang berkembang saat ini, seekor kucing garong berjas putih pun bisa memerintah Kabupaten Malang selama ada logo garuda di topi petnya. 

Ridwan Kamil dan Tri Risma Harini memang tak akan lahir di Kabupaten Malang dalam waktu dekat, tetapi memerangi wabah ketidakpedulian harus menjadi concern bersama. Era Dewan Pencicip Teh sudah berlalu, maka sudahi bermasturbasi wahai birokrat. (*)


*Oleh: Zulham Akhmad Mubarrok, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU), Pegiat Kaukus Politisi Muda Malang Raya



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

Kawal Informasi Seputar COVID-19 Secara Tepat dan Akurat

Ini merupakan sumber informasi inisiatif sukarela warganet Indonesia pro-data, terdiri dari praktisi kesehatan, akademisi, profesional & pemerintah.

Jumlah Kasus di Indonesia Saat Ini

22,271

+526 Positif

5,402

+153 Sembuh

1,372

+21 Meninggal
Statistik Kasus COVID-19 di Indonesia
Last update: Minggu, 24 Mei 2020 - 22:20 Sumber: Kementerian Kesehatan & JHU - kawalcorona.com

TIMES TV

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

20/05/2020 - 21:40

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional
Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang

Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang
GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC

GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC
Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Zakat Bukti Keshalehan Personal dan Sosial
    Zakat Bukti Keshalehan Personal dan Sosial
    24/05/2020 - 22:53
  • Hilangkan Dendam dan Terima Maafnya
    Hilangkan Dendam dan Terima Maafnya
    24/05/2020 - 15:02
  • Disrupsi Ibadah: e-Salaman, lalu e-Sungkeman
    Disrupsi Ibadah: e-Salaman, lalu e-Sungkeman
    23/05/2020 - 12:14
  • Melampaui Pandemi, Membuka Gelombang Kreatifitas Belajar
    Melampaui Pandemi, Membuka Gelombang Kreatifitas Belajar
    23/05/2020 - 10:23
  • Masjid Tak Serendah Pasar
    Masjid Tak Serendah Pasar
    23/05/2020 - 10:10
  • Saatnya Saling Memaafkan
    Saatnya Saling Memaafkan
    23/05/2020 - 09:08
  • Mema'rifatkan Idul Fitri
    Mema'rifatkan Idul Fitri
    23/05/2020 - 08:40
  • Nikmatnya Beribadah di Masjid
    Nikmatnya Beribadah di Masjid
    23/05/2020 - 08:28
  • Pertambahan Kasus Covid-19 Jakarta Masih Rata-rata 100 Orang per Hari
    Pertambahan Kasus Covid-19 Jakarta Masih Rata-rata 100 Orang per Hari
    25/05/2020 - 04:15
  • Bak Kuburan, Bandung Zoo Super Sepi saat Lebaran
    Bak Kuburan, Bandung Zoo Super Sepi saat Lebaran
    25/05/2020 - 04:10
  • Pusat Data Nasional Diharapkan Selesai Dibangun Tahun Ini
    Pusat Data Nasional Diharapkan Selesai Dibangun Tahun Ini
    25/05/2020 - 02:15
  • Lesunya Batik Cirebon saat Lebaran Berbalut Wabah Virus Corona
    Lesunya Batik Cirebon saat Lebaran Berbalut Wabah Virus Corona
    25/05/2020 - 02:05
  • Kualitas Udara Jakarta selama PSBB Corona Membaik
    Kualitas Udara Jakarta selama PSBB Corona Membaik
    25/05/2020 - 00:05
  • Kakak Beradik Temukan Emas Batangan Kala Bermain Saat Karantina Corona
    Kakak Beradik Temukan Emas Batangan Kala Bermain Saat Karantina Corona
    25/05/2020 - 00:14
  • Bosan dengan Messi, Miss Bumbum Goda Beckham dengan Pose Sensual
    Bosan dengan Messi, Miss Bumbum Goda Beckham dengan Pose Sensual
    25/05/2020 - 00:04
  • Buaya Kesayangan Adolf Hitler Baru Mati, Umurnya Panjang Sekali
    Buaya Kesayangan Adolf Hitler Baru Mati, Umurnya Panjang Sekali
    25/05/2020 - 01:04
  • Tokopedia Jadi Bulan-bulanan Hacker
    Tokopedia Jadi Bulan-bulanan Hacker
    25/05/2020 - 01:23
  • Higuain Banyak Peminat, Juventus Langsung Pasang Banderol
    Higuain Banyak Peminat, Juventus Langsung Pasang Banderol
    25/05/2020 - 01:41