Serba-Serbi

Donor Darah yang Aman untuk Sesama

Donor Darah yang Aman untuk Sesama Petugas melakulan pengecekan stok darah didalam ruang penyimpanan, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kota Malang(FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Donor Darah yang Aman untuk Sesama Petugas melakulan pengecekan stok darah didalam ruang penyimpanan, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kota Malang(FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Donor Darah yang Aman untuk Sesama Petugas mengambil darah dari para pendonor, di ruang donor, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kota Malang. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Donor Darah yang Aman untuk Sesama Petugas mengambil darah dari para pendonor, di ruang donor, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kota Malang. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Donor Darah yang Aman untuk Sesama Petugas mengambil darah dari para pendonor, di ruang donor, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kota Malang. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Jum'at, 14 Juni 2019 - 21:12

TIMESINDONESIA, MALANG – Hari Donor Darah Internasional (World Blood Donor Day) setiap tahunya diperingati pada tanggal 14 Juni. Adapun tema pada peringatan tahun ini adalah "Darah Yang Aman Bagi Sesama" (Safe Blood For All).

Dengan mengangkat tema tersebut, masyarakat diajak untuk menjadi relawan donor darah sukarela yang tulus dan ikhlas. Tanpa membedakan ras, suku, dan bangsa serta agama.

Namun ada sejumlah persyaratan yang harus dipatuhi bagi pendonor. Itu bukan larangan melainkan aturan soal kapan waktu untuk mendonorkan darah yang baik.

Menurut WHO, bagi orang yang baru melakukan operasi pelepasan gigi, butuh satu bulan waktu tunggu untuk bisa mendonorkan darahnya kembali. Untuk yang baru membubuhkan tato di tubuhnya, perlu waktu 6 bulan untuk bisa mendonorkan darahnya. Sedangkan yang baru melakukan tindik di tubuhnya, perlu waktu 12 jam saja.

Ada juga larangan bagi orang tertentu untuk mendonorkan darahnya yakni orang dalam kondisi sakit, hamil muda atau terlalu tua. Selain itu, orang yang positif HIV atau AIDS, Hepatitis, Sifilis, Tuberkolosis dan sejumlah infeksi yang bisa ditularkan melalui transfusi darah, juga dilarang.

Jika penyumbang dalam kondisi sakit seperti demam, flu, atau batuk, mereka baru bisa menyumbang darahnya 14 hari setelah mereka pulih dari sakitnya. 
Untuk pendonor yang masih mengonsumsi antibiotik, setidaknya butuh tujuh hari setelah pengonsumsian terakhir.

WHO juga menyatakan perilaku seksual berisiko tinggi seperti memiliki banyak pasangan seks, atau hubungan sesama jenis untuk laki-laki, bisa membuat pendonor masuk dalam daftar tunggu sebelum bisa melakukan donor darah.

Fotografer : Adhitya Hendra
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration