Minggu, 17 Februari 2019
Cerita

Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Siti Lianah (43) saat bersama Muhammad Faizul Mubin (19) saat berada di rumah yang menjadi Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Siswa SLB Pelita Qolbu saat menata sepatu sebelum memulai kegiatan belajar di Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Sejumlah siswa SLB Pelita Qolbu bersalaman dengan para guru sebelum memulai belajar di Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Sejumlah siswa SLB Pelita Qolbu belajar tentang dan bercerita tentang cita - cita di Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Eko Pras penyandang tuna rungu (43) siswa SLB Pelita Qolbu menunjukkan kertas bertuliskan cita-cita saat belajar di Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Cindy (16) salah satu siswa penyandang berkebutuhan khusus saat belajar kemandirian siswa belajar SLB Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Sejumlah siswa SLB Pelita Qolbu saat makan berasama saat istirihat siang di Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Sejumlah siswa SLB Pelita Qolbu saat belajar menari berasama di Sekolah Luar Biasa Pelita Qolbu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Suasan SLB Pelita Qolbu yang terlihat antara ruang kelas dan kamar tidur yang harus dibagi. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Kegigihan Siti Lianah Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Siswa SLB Pelita Qolbu saat akan pulang yang harus diantar para guru. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Jum'at, 08 Februari 2019 - 13:53

TIMESINDONESIA, MALANG – Kegigihan seorang ibu tidak boleh diragukan, cinta dan ketulusannya tak akan mampu  ternilai dengan apapun.

Seperti yang ditunjukkan Siti Lianah (43) warga Desa Tulungrejo Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini.

Perempyan ini memiliki kegigihan, dan semangat yang besar, agar putra pertamanya Muhammad Faizul Mubin (19) yang berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang sama seperti anak lainnya

 Faiz, yang tuna grahita, sebelumnya disekolahkan di Sekolah Luar Biasa yang ada di Kota Malang, dengan mengambil paket pendidikan 1 minggu 3 kali. 

Karena jarak, waktu serta ketidakmapuan biaya, Siti dan suami kemudian memilih untuk mengajari Faiz di rumah. Ilmunya hanya berbekal dari mengamati saat Faiz sekolah di SLB yang ada di kota Malang.

Semangat Siti untuk memberikan pendidikan yang layak sesuai kebutuhan anaknya tersebut, membuat perempuan yang hanya lulusan SMA mencoba berbagi cerita dan ilmu kepada orang tua yang juga memiliki anak berkebutuhan khusus. 

Kurang lebih 10 tahun Siti mengajar dari rumah ke rumah, untuk mengajari anak-anak berkebutuhan khusus dengan tidak menarif biaya. Hingga membuat para orang tua yang memiliki anak yang berkebutuhan khusus mempercayakan untuk belajar bersama di rumah Siti.

Tempat belajar atau kelas memanfaatkan halaman samping, hingga teras rumah. Karena jumlah siswa terus bertambah, Siti dan suami menyulap bagian dalam rumah seperti ruang tamu dan kamar menjadi kelas.

Kegigihan Siti dan beberapa orang tua dengan anak berkebutuhan khusus untuk mengatasi mahalnya pendidikan di sekolah luar biasa akhirnya melahirkan Yayasan Pendidikan SLB Pelita Qolbu. 

Yayasan yang mengkhususkan pada pendidikan anak berkebutuhan khusus ini terbentuk pada 2015 dan akhirnya mendapatkan legal formal dari pemerintah pada tahun 2017.Selain Siti, saat ini ada lima tenaga pengajar dan 15 siswa berkebutuhan khusus yang berlajar di Yayasan Pendidikan SLB Pelita Qolbu dengan waktu pertemuan 1 minggu 2 kali. Kondisi ini sudah berlangsung hingga 2 tahun lamanya.(*)

Fotografer : Adhitya Hendra
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Adhitya Hendra

Komentar

Registration