Senin, 22 Oktober 2018
Cerita

Muchlis Arif dan Seni Keramik

Muchlis Arif dan Seni Keramik Keramik yang sudah siap untuk proses pewarnaan, yang ada di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Pengunjung mengamati motif keramik yang ada di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Muchlis melakukan proses pewarnaan pada keramik sebelum di lakukan pengovenan yang ada di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Muchlis melakukan proses pengovenan pada keramik yang ada di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Keramik yang dipajang di sudut ruang yang ada di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Alat yang digunakan dalam pembuatan keramik yang ada di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Muchlis melakukan proses pembuatan keramik di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Muchlis menyelesaikan pembuatan keramik di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Keramik yang masih proses setang jadi saat proses pengeringan suhu ruang, di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Muchlis Arif dan Seni Keramik Muchlis melakukan proses pemadatan tanah liat sebagai bahan dasar keramik di Kriya Matahati Keramik. (FOTO : Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Senin, 07 Mei 2018 - 11:31

TIMESINDONESIA, BATU – Keramik, sebagai sebuah seni, mulai tergeser. Keramik pabrikan, yang dibuat secara massal, secara perlahan mengesernya.   

Namun tidak bagi Muchlis Arif. Dia adalah satu dari segelintir orang yang masih bertahan, mengenalkan dan sekaligus melestarikan keramik sebagai sebuah seni. 
Segenggam tanah lempung, bagi Muchlis, jika disentuh dengan tangan dan rasa, akan mampu mewakili tonggak-tonggak peradaban.

Kesabaran dan inovasi menjadi penting untuk tetap mempertahankan keramik sebagai sebuah seni. 

"Mengubah keramik menjadi barang bernilai seni membutuhkan ketelatenan, kemauan dan daya inovasi yang tinggi di tengah perkembangan dunia seni di era digital seperti saat ini," kata Muchlis.

Demi regenerasi dan pelestarian seni keramik di Kota Batu dan sekitarnya, dia bahkan rela meluangkan waktunya untuk memberikan ilmu dan pengalamannya soal seni keramik ini.

Bahkan, dia membuka lebar rumahnya di Jalan Merak, kompleks Perumahan Batu Permai, Kota Batu bagi yang ingin menekuni seni keramik.
 

Fotografer : Adhitya Hendra
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Tria Adha

Komentar

Registration