Selasa, 12 November 2019
Peristiwa - Daerah

Tepati Janji Politik, Kades di Senori Berikan Tanah Bengkok Enam Bahu ke Masyarakat 

Tepati Janji Politik, Kades di Senori Berikan Tanah Bengkok Enam Bahu ke Masyarakat  Penyerahan tanah bengkok 3/4 bahu kepada pemuda pemudi karangtaruna desa Wanglukulon, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Darmono, S.IP, Minggu, (10/11/2019). (Foto: Ahmad Istihar/TIMES Indonesia)
Minggu, 10 November 2019 - 17:14

TIMESINDONESIA, TUBAN – Tepati janji politik pemilihan kepala desa ( Pilkades) pada bulan Juli tahun 2019, yang tertuang kedalam fakta Integritas dengan warga desa, Seorang Kades Wanglukulon, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur bernama Darmono, S.IP, memberikan tanah bengkok 6 bahu untuk kebutuhan Masyarakat desa.

Tanah bengkok desa dengan total luas 12 bahu kisaran luas 90.000 m2 yang harusnya menjadi hak pengelolan pribadi Kades. dibagikan separuhnya, luas 6 bahu atau 45.000 m2 untuk keperluan sarana penunjang bagi Karang Taruna, Warga Miskin, Tempat Ibadah, TPA, Petugas Pemeliharaan olahraga desa dan Banom NU.

Dengan rincian pembagian 6 bahu tersebut, Karangtaruna memperoleh luas 3/4 bahu (5000 m2), Warga miskin dengan luas, 1 bahu, tempat Ibadah Masjid seluas 3 bahu, Banom NU dapat 1/4 bahu, TPA memperoleh 3/4 bahu, dan Petugas Pemeliharaan Olahraga sebanyak 1/4 bahu.

Saat ditanya wartawan alasan diberikannya 3/4 bahu untuk karang taruna desa, Kades yang gemar olahraga sepak bola ini berkata.

"Kita berharap ada pengembangan dan peningkatan kelembagaan kemasyarakatan desa seperti karangtaruna yang menaungi Kesejahtraan sosial bagi pemuda-pemudi desa," kata Kades Wanglukulon, Darmono di ruang kerjanya. Minggu (10/11/2019)

"Dengan adanya pembagian tanah bengkok yang transparan ke lembaga pemasyarakatan desa itu, hal ini merupakan bentuk komitmen seorang pejabat desa dalam pengabdiannya ke masyarakat desa," ucapnya.

Dengan pemenuhan janji pakta integritas kepada lembaga desa dan karangtaruna Desa Wanglukulon, ia berharap ada peningkatan pengembangan kelembagaan desa seperti karang taruna yang menjadi ujung tombak tenaga kesejahtraan sosial pemuda - pemudi di desanya.

"Potensi - potensi kader desa sebenarnya banyak tinggal bagaimana pemdes berjalan dengan mereka yang berniat membangun desanya," tandasnya.

Menurut mantan sekdes yang kini menjabat sebagai Kades Wanglukulon ini, merasa miris adannya lembaga ke masyarakatan karangtaruna desa dan pemeliharaan sarana dan prasarana desa terkadang hanya dijadikan sarana (alat) nama saja. Tanpa adanya niat dari pemerintah desa untuk menggandeng kader kader yang umumnya berangkat dari pemuda - pemudi di lembaga independen desa tersebut. (*)

Jurnalis : Safuwan
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Tuban

Komentar

Registration