Selasa, 12 November 2019
Peristiwa - Daerah

Bahas Keistimewaan Yogyakarta, Pejuang Ijab Qobul Gelar Sarasehan

Bahas Keistimewaan Yogyakarta, Pejuang Ijab Qobul Gelar Sarasehan Tugu Jogja. (FOTO: Istimewa)
Sabtu, 09 November 2019 - 09:41

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTAPejuang Ijab Qobul (PIQ) Yogyakarta menggelar sarasehat di Pendapa PDHI Kota Yogyakarta, Jumat (8/11/2019) sore. Sarasehan dalam rangka menyongsong 2045 seabad Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Acara ini dihadiri sejumlah tokoh yang ikut memperjuangkan status Keistimewaan pada Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti KRT Jatiningrat atau Romo Tirun.

Dalam sarasehan ini, tema yang diangkat adalah kawal Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY Demi NKRI. Yakni, UU RI No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta. Selain itu, sarasehan membahas Tugu Pal Putih yang berada di Persimpangan Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Margo Utomo.

Romo Tirun mengungkapkan, banyak orang yang tidak mengetahui makna atau filosofis Tugu Yogyakarta.

Suasana-sarasehan.jpg

Suasana sarasehan yang diselenggarakan oleh Pejuang Ijab Qobul (PIQ) Yogyakarta di Pendapa PDHI Kota Yogyakarta, Jumat (8/11/2019) sore. (FOTO: Desty Luthfiani/TIMES Indonesia)

Jika selama ini banyak yang beranggapan bahwa budaya adalah kesenian saja maka anggapan tersebut keliru. Sebab, budaya mencakup berbagai hal yaitu cara berpikir, bersikap dan memutuskan sesuatu. Budaya satria diharapan sampai keranah RT, RW bahkan keluarga.

Romo Tirun juga menyinggung mengenai simbol-simbol yang ada dalam Yogyakarta. Sebab, simbol tersebut mengandung filosofis dari budaya yang mencerminkan tingkah laku. Budaya ksatria, ngawiji, greget sembuh ora ngiguh. Seperti hanya dalam Tugu Yogyakarta yang seharusnya Lugu Golong Giling yang berarti kesatuan san persatuan

“Dalam agama Islam Golong Goling yaitu Habluminallah dan Habluminannas, kesatuan dan persatuan inti dari Pancasila. Simbol adalah harapan dan doa. Golong giling itu atas bolong bawah silinder, tidak ada sudut atau sekat sama sekali ini adalah bentuk yang sempurna jadi hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain tidak ada perbedaan sama sekali,” kata Romo Tirun.

Menurutnya, Tugu Yogyakarta dibuat oleh Sri Sultan. Namun, saat ini berubah. Tugu yang seharusnya hanya dicat putih kini berubah ada hiasan ukiran yang berisi Maninggil Manghubungkan yang Maha Kuasa Wiwiro, Harjo, Pawirojo yang berarti kebaikan untuk 7 pimpinan yang dimaksud 7 pimpinan adah belanda.

“Budaya Yogyakarta sudah terkontaminasi oleh budaya barat khususnya Belanda. Salah satunya adalah simbolis di Tugu Yogyakarta, yang banyak orang tidak mengetahui arti dari warna, aksara jawa, dan puncak lancip di Tugu Yogyakarta,” terang Romo Tirun.

Ketum PIQ Yogyakarta, Wiwin Winarko mengatakan sarasehan yang diselenggarakan Pejuang Ijab Qobul sebagai ajang silaturahmi dan diskusi dengan para tokoh masyarakat yang dahulu ikut memperjuangan Keistimewaan Yogyakarta. “Kami akan terus mengawal Keistimewaan Yogyakarta. Kami juga membagikan rompi dan kaos Pejuang Ijab Qobul,” terang Wiwin. (*)

Jurnalis : Desty Luthfiani (MG-215)
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration