Selasa, 12 November 2019
Gaya Hidup

Disbudpar Jatim Gelar Festival Dalang 2019 di Hari Wayang Nasional

Disbudpar Jatim Gelar Festival Dalang 2019 di Hari Wayang Nasional Festival Dalang 2019 di Taman Budaya Jatim meramaikan Hari Wayang Nasional mulai 7-9 November 2019, Kamis (7/11/2019). (Foto : Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Jum'at, 08 November 2019 - 22:58

TIMESINDONESIA, SURABAYA – UPT Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur (Disbudpar Jatim) menggelar Festival Dalang 2019, mulai 7-9 November 2019. Acara ini diikuti oleh perwakilan dalang dari 17 kabupaten/kota sekaligus dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional.

Heru Tjahjono, Sekda Provinsi Jatim mengatakan, festival bertujuan untuk pembinaan, pengkaderan, dan peningkatan kualitas bidang seni pedalangan.

"Agar tetap terjaga kelestarian dan eksistensinya di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbudaya," terang Heru,  Kamis (7/11/2019) malam.

Seni pedalangan merupakan bagian dari masyarakat Jawa dan Bangsa Indonesia. Wayang sebagai salah satu dari sekian banyak warisan kekayaan leluhur bernilai tinggi. Oleh sebab itu seni pedalangan disebut juga dengan kesenian tradisional adi luhung.

Seiring keberhasilan Indonesia dalam memperjuangkan wayang dan diakui oleh Unesco sebagai a Masterpiece of Oral and Intangible Herritage of Humanity atau masterpiece dunia kategori budaya tak benda pada 7 November 2003.

Festival-Dalang-2019-b.jpg

Untuk itu perlu diciptakan terobosan kreatif dan inovatif demi menjaga keberlanjutan serta dapat menarik minat masyarakat tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai-nilai luhur yang ada dalam seni pedalangan. "Salah satunya Pemprov Jatim melalui Disbudpar menggelar Festival Dalang 2019 ini," sambung Heru Tjahjono.

Dalang yang tampil antara lain terdiri dari dalang muda seperti M Alif Nuramirrulah dari Jember dengan lakon Ekalaya, Danu Tirta dari Mojokerto dengan lakon Dasamuka Bandar, Ki M. Akbar Syahalam dari Nganjuk dengan lakon Jago Pinilih, Bagus Mustiko Aji dari Gresik mengusung lakon Prasetyo Dharma Sang Dewabrata dan M Burhanudin Ilmansyah dari Kota Surabaya dengan lakon Gathotkaca Gugur. 

Dr Suyanto, dosen teori pedalangan, filsafat wayang, dan pakeliran dari ISI Surakarta mengapresiasi lahirnya para dalang muda.

Wayang adalah kesenian yang hidup bersama budaya masyarakat yang dinamis mengikuti perkembangan zaman. Seni pedalangan sudah memiliki fundamental dan universal. "Dalam pedalangan terbagi menjadi dalang bocah, dalang remaja, dalang muda dan dalang senior," kata Suyanto.

Dalam tiap festival pedalangan, butir penilaian berpijak pada unsur pedalangan itu sendiri. Dalang juga harus mampu mengeksplorasi suluk. "Pembobotannya yang menentukan misal kualitas garap lakon sebagai akumulusi dari komposisi dalang," sambungnya.

Ia berharap agar generasi dalang harus menguatkan akar. Sehingga meskipun berinovasi mengikuti perkembanga zaman, tidak akan meninggalkan esensi wayang. Maka dari itu, pihaknya membekali siswa dengan tradisi nilai-nilai pedalangan.

Dalam penggarapan lakon wayang pakeliran ada garap tradisi semalam, ringkas diambil yang pokok dan pakeliran padat.

Pakeliran padat menjadi tantangan tersendiri bagi para dalang di era global. Dalang harus mampu bertanggung jawab menyampaikan nilai wayang kepada masyarakat sebagai tontonan sekaligus tuntunan. "Harus padat isinya sehingga waktunya menjadi pendek, dalam arti meskipun waktu cuma satu jam tapi lakon harus pulang tanpa ada unsur yang dihilangkan," papar Suyanto menambahkan.

Guna meningkatkan kualitas pedalangan, pemerintah berencana menggodok standar kualifikasi kinerja nasional (SKKN). Saat ini dokumen dan asesor telah tersedia namun belum ada implementasi. SKKN tersebut sudah digedok oleh BNSP dan akan dilakukan tahap percobaan pada 11-12 November 2019 di Jogjakarta.

Seniman dalang nanti harus punya sertifikat dari lembaga sertifikasi profesi (LSP) tersebut. "Dalam persaingan global dalang sudah go internasional. Di luar negeri sudah diberlakukan standar tersebut, jika tidak memiliki akan pengaruh pada fee," ujarnya.

Festival Dalang 2019 merupakan upaya dari Disbudpar Jatim untuk tetap melestarikan budaya wayang di kalangan generasi muda. Acara yang dikemas secara menarik untuk menyambut Hari Wayang Nasional ini, dibuka oleh flash mob Tarian Remo khas Surabaya yang diikuti oleh ratusan warga dan pegiat seni di halaman Taman Budaya Jatim.(*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration