Selasa, 12 November 2019
Gaya Hidup

Hamparan Rintik, dari Fisolofi Batik Hingga Nilai Tangan Pengrajin

Hamparan Rintik, dari Fisolofi Batik Hingga Nilai Tangan Pengrajin Salah satu batik Hamparan Rintik karya Fikrah Ryanda Saputra (foto: Istimewa)
Kamis, 07 November 2019 - 23:01

TIMESINDONESIA, MALANG – Khazanah dan filosofi batik, sebeanrnya mencerminkan jati diri nusantara. Hal ini yang digambarkan Fikrah Ryanda Saputra dalam Hamparan Rintik, brand batiknya. Hamparan Rintik diambil dari filosofi batik.

"Batik kan artinya bauran titik. Jadi titik yang banyak itu jadi batik. Nah saya ingin menjual filosofisnya. Semoga batik yang kami produksi di sini juga mampu jadi brand kota Malang," ujarnya Kamis (7/11/2019). 

Ryan, panggilan akrabnya, mengungkapkan bahwa kekuatan lain dalam sebuah produk batik, selain ciri khas, juga maknanya.

Tidak hanya Hamparan Rintik, namun juga bagi pengrajin batik lain. Membuat batik memakan waktu lama. Pengrajin menghargai karya batiknya dengan cukup mahal karena makna, filosofis dan kisah di balik batik yang tinggi nilainya.

Sayang, batik speerti itu tidak banyak yang mau membeli. Mungkin karena pembeli tidak mengerti tentang nilai batik atau hanya karena alasan mahal.

Hal inilah yang Ryan coba kenalkan kepada pembeli. "Kan soalnya orang selalu bilang eh mahal gitu. Nah padahal ada kisah dibaliknya. Apa-apa yang dikorbankan. Inilah yang menjadi nilai, dan harga sendiri," paparnya. 

Selain menggunakan zero waste system dalam produksinya, batiknya juga menggunakan pewarna alami. Motif batik yang diproduksi juga bervariasi. Bertemakan alam, menggunakan metode eco-print atau ikat. Namun, Hamparan Rintik lebih banyak menggunakan metode ikat karena setiap produksi hasil motifnya berbeda.

Hamparan Rintik telah mengikuti Malang Fashion Runway Matos tahun ini. Tidak hanya itu, batiknya juga dikenakan secara anggun di Pagelaran Seni Citra Smanti SMAN 3 Malang. Sekaligus, batik yang dia produksi juga sudah dipasarkan hingga luar kota. Bahkan, hijab bikinannya juga sudah eksis hingga Vietnam. (*)

Jurnalis : Widya Amalia (MG-197)
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration