Selasa, 12 November 2019
Pendidikan

Siswa SMAK St.Hendrikus Belajar Politik di Kantor DPRD Jatim

Siswa SMAK St.Hendrikus Belajar Politik di Kantor DPRD Jatim Siswa SMAK St Hendrikus belajar politik dalam kunjungan field trip di Kantor DPRD Jatim, Rabu (6/11/2019).(Foto: SMAK St Hendrikus)
Kamis, 07 November 2019 - 18:04

TIMESINDONESIA, SURABAYASMAK St. Hendrikus Surabaya kembali menggelar field trip bersama para siswa. Field trip kali ini bukanlah field trip biasa sebab siswa-siswi diajak untuk belajar tentang dunia politik yang sehat di Gedung DPRD Jatim.

Field trip diselenggarakan dalam program Student and Teacher Empowerment Program (STEP) yang mana program ini merupakan program untuk memadukan bakat dan minat antara guru dan siswa.

Kepala SMAK St. Hendrikus yakni Sr. Yuliana Antin Kaswarini, MC mengatakan, sesuai dengan visi dan misi sekolah sebagai sekolah Katolik yang berkualitas, dinamis dan responsif dan serta mendukung misi sekolah yang bertujuan mengembangkan potensi unggul para siswa-siswi, kegiatan field trip dilakukan agar para siswa-siswi mampu mengembangkan daya analisa berkaitan dengan kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

"Khususnya mengenai kondisi perpolitikan di Indonesia," terang Sr. Yuliana, MC, Rabu (6/11/2019).

Ia juga menambahkan apabila politik yang dimaksud di sini bukanlah politik praktis, melainkan kondisi sosial pasca pesta politik di Indonesia 2019.

Adapun STEP yang berangkat ke Gedung DPRD Jatim adalah STEP Social Research Club (SRC), Debate Club, dan Menulis itu Mudah (MIM). 

Kondisi sosial pasca pemilu hingga sekarang memang belum stabil. Salah satu efek sosial yang terjadi adalah banyaknya hubungan keluarga, pertemanan, persahabatan putus karena perbedaan pilihan politik. Bahkan, munculnya rasa pesimisme dan apatisme di generasi muda terhadap politik. 

"Maka harapan kami yaitu penting agar para generasi muda, khususnya siswa-siswi SMAK St. Hendrikus, tidak mudah pesimis, apatis, apalagi sampai apolitis," demikian kata Michael Andrew pengampu STEP.

SRC. Yozoa Kriswanto, selaku pengampu STEP Debate Club mengatakan, selama ini perdebatan yang terlihat di media adalah perdebatan yang kurang substansial bahkan cenderung bukan perdebatan yang logis. 

"Oleh karenanya, penting membangun dialog yang baik dan logis agar pembelajaran politik yang baik dan sehat itu tidak tergeser oleh oknum-oknum yang membuat politik itu buruk," tandasnya.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Michael dan Yozoa, Aloisius Rabata selaku pengampu MIM mengatakan, bahwa dalam menulis kita dilatih untuk kritis dan peka terhadap lingkungan perpolitikan atau lingkungan apapun yang ada dan sekaligus dapat melihat dari berbagai sudut pandang.

Disambut baik oleh Agatha Retnosari dan Go Tjong Ping dari Komisi B, para siswa-siswi SMAK St. Hendrikus diterima di Ruang Badan Anggaran DPRD Jatim.

Di ruang itu, para siswa-siswi diajak berdialog dan juga belajar banyak tentang perpolitikan yang ada di Jawa Timur ini. Tak heran Agatha juga bercerita bagaimana peranan beliau sebagai seorang Katolik bukan berarti menjadi minder dan tidak bisa mengabdi untuk rakyat.

Hal senada juga disampaikan oleh Tjong Ping bahwa menjadi Tionghoa bukan berarti menjadi minoritas lalu tidak bersuara apa-apa. Justru dalam politik, kita bisa menyuarakan suara rakyat tanpa harus melihat latar belakang SARA-nya. 

Beberapa siswa-siswi SMAK St. Hendrikus merasa senang dan bahagia bisa berkunjung ke gedung yang biasa dipanggil sebagai "rumah rakyat" ini.

Kevin Anthony Miles, salah satu siswa STEP Debate Club mengatakan, kunjungan ke DPRD selama ini membuat berubah pandangan. 

"Selama ini saya pikir DPRD itu organisasi atau lembaga apa, namun akhirnya saya mengetahui ada banyak hal yang bisa dipelajari di sini," ungkapnya.

Senada dengan Kevin Anthony Miles, Jeffson dari STEP SRC mengaku terinspirasi dan sekaligus juga sangat senang ternyata ada orang dianggap minoritas ternyata mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara ini.

Bahkan menurut Steffany dari STEP MIM, kunjungan ke DPRD Jatim ini membuatnya tertarik untuk semakin mendalami apa saja yang berkaitan dengan sistem perpolitikan di Indonesia. 

"Bahkan, kita tidak bisa lepas dari politik, karena politik itu salah satunya hadir dalam rupa lobbying misalnya," kata siswa SMAK St. Hendrikus tersebut di sela field trip ke DPRD Jatim. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration