Selasa, 12 November 2019
Kopi TIMES

Konsisten

Konsisten Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.
Kamis, 07 November 2019 - 11:04

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA“Success isn’t always about greatness. It’s about consistency. Consistent hard work leads to success. Greatness will come.” – Dwayne Johnson

“Bersikaplah yang lurus dan tetaplah dalam kebenaran. Dan ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian yang selamat karena amal perbuatannya”. Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasûlullâh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk aku, hanya saja Allâh meliputi diriku dengan rahmat dan karunia-Nya.” (HR Muslim)

Konsistensi adalah kunci, utamanya kunci kehidupan. Kunci untuk semua. Konsistensi tidak banyak penting untuk kehidupan manusia  secara transendental dan personal, melainkan juga kehidupan secara sosial dan hodirizontal. Demikian juga konsistensi penting bagi kehidupan non manusia, apakah itu planet, jalan arah jalur jam, dan jalur transportasi. Dengan berkomitmen pegang teguh konsistensi, kita relatif mendapat keamanan dan keselamatan.

Konsistensi merupakan sunnatullah yang harus terus kita jaga, apakah dalam konteks kita menjalankan ajaran agama. Kita dalam beragama perlu ikuti rambu-rambunya untuk bisa amalan agama kita diterima oleh Tuhan, sehingga kita mendapatkan reward atau pahala. Konsistensi juga merupakan hasil konvensi antar manusia yang terikat tempat waktu. Jika kita ikuti kesepakatan itu, kita tidak hanya diterima oleh masyarakat yang ada di tempat itu, melainkan juga kita bisa selamat dan bebas dari kecelakaan.

Konsistensi, bisa dimaknai dengan keajegan, reliabilitas, atau keistiqamahan. Orang yang konsisten adalah orang yang istiqamah, orang yang lurus, orang yang dapat dipercaya, atau orang yang trusted, dan bisa juga ada yang menyebut orang yang berintegritas dan tidak plin plan. Orang yang konsisten, bisa juga orang yang teguh memegang prinsip. Bahkan belakangan ini orang yang konsisten bisa disebut orang yang “radikal”.

Radikal bisa radikal kanan, kiri, atau tengah. Radikal yang belakangan ini menjadi sorotan adalah radikal yang merugikan, yang tidak mau toleran. Padahal radikal terkait dengan religiusitas adalah komitmen teguh terhada agama yang diyakini, sehingga antara hati dan amalnya sama. Orang yang beragama secara benar mestinya juga menghargai sesama, sehingga toleransi merupakan sifat yang menyatu dalam perilakunya, bukan sesuatu yang sulit dilakukan.

Konsistensi merupakan kunci untuk perubahan. Bahwa manusia itu hidupnya dinamis tidak statis. Dinamis bukan hanya kebutuhan internal, karena di antara kita punya cita-cita atau impian yang berbeda. Melainkan kehidupan dinamis disebabkan oleh pengaruh luar baik lingkungan sosial maupun fisik yang terus berubah untuk keseimbangan. Dengan begitu perubahan yang merupakan sunnatllah bisa terjadi jika setiap langkah konsisten dengan arah perubahan yang diinginkan.

Pada tataran yang lebih tinggi bahwa konsistensi terhadap perubahan bisa menghasilkan perubahan paradigma (paradigm shift). Mari kita perhatian orang yang konsisten dengan keyakinan terhadap invensinya, tidak hanya mendapatkan cemooh, bahkan ada yang mendapatkan hukuman bunuh, sebagai konsekuensi dari temuan yang berlawanan dengan kebenaran ilmiah pada jamannya.

Selain berkenaan dengan keimanan, ada sejumlah kasus, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sahabat Bilal yang istiqamah mempertahankan aqidahnya, walau harus menghadapi siksaan kaum Kafir, juga Nabi Ibrahim yang istiqamah menjaga  imannya, dibakar hidup-hidup. Begitulah makna istiqamah yang menghasilkan perubahan, bahkan Nabi Ibrahim mendapat sebutan revolusioner tauhid terbesar dalam peradaban manusia.

Konsistensi adalah kunci untuk tumbuh dan berkembang. Konsisten dengan rambu-rambu hukum alam dan sosial, berpotensi menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Sebaiknya jika mengabaikannya, hasil yang diperoleh adalah kegagalan, kerusakan bahkan kematian. Karena kita terus hidup menuju pada akhir kehidupan yang baik, kita seharusnya terus berproses berdasarkan norma agama, bangsa, sosial, dan prinsip-prinsip medis untuk tumbuh dan berkembang sampai puncak dengan capaian yang terbaik dan husnul khatimah.

Konsistensi adalah kunci sukses. Seseorang atau suatu institusi yang memiliki konsistensi dengan visinya berpotensi besar untuk raih sukses. Sukses adalah soal waktu. Jika setiap kita di institusi masing-masing konsisten dengan visi bersama dalam merancang dan melaksanakan agenda dan kegiatan, insya Allah kita dapat meraih sukses besar.

Dalam menunjukkan konsistensi ini tidak sedikit kita harus berkorban waktu, tenaga, uang, dan moril. Untuk itu konsistensi merupakan faktor kunci untuk raih keberhasilan. Jika tidak, katakanlah ada salah satu di antara kita berbuat manipulasi baik perilaku maupun dokumen, akhirnya jika ditemukan bukti manipulasi, kita bisa didiskualifikasi atau Award kejuaraan bisa dicabut.

Akhirnya di era terbuka dewasa ini kita harus menjadikan konsistensi sebagai suatu variabel yang sangat penting dalam membangun pribadi dan institusi yang kredibel dan bermartabat. Kita bisa manipulasi orang lain dengan berbagai cara, secanggih apapun tapi diri kita dan hati kita serta Tuhan tetap berpihak pada kejujuran. Kita harus konsisten, istiqamah bersikap, berpikir, berucap, dan bertindak yang benar. Insya Allah dengan begitu itu bisa selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat. Aamiin. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration