Kopi TIMES

Menyikapi Kesedihan

Menyikapi Kesedihan Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.
Rabu, 06 November 2019 - 10:33

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”.  – (Q.S Yusuf: 86)

“Experiencing sadness and anger can make you feel more creative, and by being creative you can get beyond your pain or negativity.”

– Yoko Ono

Pada umumnya kita selalu mengharapkan sesuatu yang menyenangkan. Pada prakteknya, memang harapan itu dapat terwujud, sehingga kita merasakan bahagia yang tiada tara.

Sebaliknya ada juga yang harapannya tidak terwujud, akibatnya kita merasa sedih dan meronta-ronta. Sampai-sampai kita harus mengkambinghitamkan teman dan orang lain, bahkan menyalahkan dirinya sendiri, kadang-kadang yang tidak kuat bisa melakukan bunuh diri. Na’udzubillahi rabbi. Mengapa kita harus sedih?

Sikap sedih dalam batas tertentu adalah manusiawi dan dapat dimaklumi. Apalagi segera dapat menyikapi persoalan yang dihadapi dengan sabar.

Ingat, bahwa setiap di antara kita kadang-kadang diuji oleh Allah swt dengan ketakutan dan kelaparan melalui berbagai cobaan, bisa berupa hilangnya, rusaknya buah-buahan atau hilangnya harta benda, bahkan sakit, celaka atau wafatnya orang yang paling dicintai.

Hanya orang-orang bersabar yang mendapat kegembiraan, bukan kesedihan. Sebagaimana Allah swt tegaskan lewat firman-Nya, QS Al Baqarah:155, yang artinya “...Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Bahkan dalam menghadapi ujian yang berat, tidak sedikit di antara kita yang jatuh dalam kesedihan dan keterpurukan.  Selain ujian-ujian tersebut di atas, yang membuat kita merasa sedih, di antaranya (1) berhenti atau tidak lagi melihat teman dan keluarga yang disayangi,  (2) begitu mudah mendapatkan kemarahan dari orang lain, (3) berhenti tidak bisa menikmati kegiatan yang diminati,  (4) tidur yang berlebihan atau kurang dari waktu biasanya, (5) makan yang lebih atau kurang dari biasanya, dan  (6) mendapatkan suatu pekerjaan dengan cara yang sangat berat.

Kesedihan yang menimpa kita dalam suatu waktu, tidak bisa dibiarkan. Kita harus menyadari atas kondisi yang ada, sehingga tidak harus dihadapi dengan sedih. Ingat firman Allah swt, dalam QS At Taubah:40, yang berbunyi, “Laa tahzan, innallaaha ma’anaa”, yang artinya “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita“.

Kita jangan mudah merenungi diri apalagi merasa sedih menghadapi kekecewaan. Ingat kita hidup tidak dalam kesendirian, karena Allah swt selalu membersamai kita di manapun dan kapan pun.

Selain daripada itu, rasa sedih juga muncul, karena tak berdaya menghadapi persoalan hidup, apakah disebabkan oleh keterbatasan dirinya, gangguan atau godaan dari teman-teman atau orang lain, atau dari mushibah dahsyat yang datang tiba-tiba.

Padahal tidak ada tanda-tanda sebelumnya bahwa akan terjadi disaster yang menghancurkan. Kondisi ini seringkali disikapi dengan rasa dosa (guilty feeling) dan rasa sedih yang mendalam, karena ujiannya jauh dari kemampuan untuk mengatasinya.

Dalam situasi yang seperti ini sikap yang seharusnya muncul adalah kesediaan menerima taqdir, dan mengimani dan menerima dengan ikhlas atas Kemahakuasaan Allah dan Sifat Rahman Rahim-Nya.

Allah swt berfirman dalam QS Al Baqarah:286, yang artinya sebagai berikut, “Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.

Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami serta kasihanilah kami, karena Engkau-lah Pelindung kami. Maka tolonglah kami menghadapi kaum-kami kafir”, Jika kita selalu bersedih setiap menghadapi hidup yang dirasakan berat tentu bukan solusi yang tepat.

Kita seharusnya biasakan menunjukkan keikhlasan kepada Allah akan setiap beban yang diberikan. Kita perlu dengan segera introspeksi dan eksplorasi diri akan potensi yang bisa menjadi modal dan kekuatan untuk menghadapi beban hidup yang berat.

Secara lahiriyah kita bisa berikhtiar untuk mengatasi kesedihan. Gundersen Health System (2019) memberikan tip sebagai berikut : (1) Biarkanlah dirimu sedih. Selanjutnya menolak kesedihan secara serius perlu dilakukan, karena kalau dibiarkan akan merusak. Caranya dengan sekeras-kerasnya menghilangkan kesedihan jika mampu. Setelah keluar air mata, biasanya kesedihan mereda, (2) Tulislah  kesedihan itu dalam suatu jurnal, dengarkan musik, habiskan waktu dengan teman atau keluarga, dan buatlah gambar yang mengekspresikan kesedihan, (3) Pikirkan tentang konteks rasa sedih, apakah yang terkait dengan hilangnya kesempatan menikmati suatu event atau tidak bahagia terhadap suatu event, (4) Kesedihan bisa merupakan akibat dari suatu perubahan yang tidak diharapkan. Ingat, bahwa emosi itu berubah, bisa datang dan pergi, dan (5) Ketahuilah, ketika kesedihan itu menjadi depresi, maka bersegeralah mencari bantuan agar tidak jatuh sakit.

Selain ikhtiar duniawiyah, dalam menghadapi kesedihan juga bisa kita upayakan dengan cara ukhrawiyah. Allah swt berfirman dalam QS Al Baqarah:153, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Selanjutnya dalam QS Az Zumar:10, yang artinya ...”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Sungguh sangat menakjubkan perkaranya seorang mukmin itu, semua perkaranya baik, dan tidak ada pada seorang pun melainkan hanya seorang mukmin, jika dirinya mendapat rizki dia bersyukur, maka itu baik baginya, jika dirinya ditimpa musibah lalu bersabar itu juga baik baginya” (HR Muslim).

Kesedihan sebenarnya tidak hanya bisa dipahami pada tataran personal saja, melainkan juga bisa dimaknai pada tataran kolektif atau institutional. Sebagai pribadi kita senang tidak terkena mushibah besar, namun menjadi sedih sebagai wujud empati ketika saudara kita sebangsa dilanda disaster.

Kesedihan di sini sangat positif dan diperlukan, karena bisa mendorong kita untuk tunjukkan rasa cinta dan perhatian kita terhadap sesama, sehingga terjaga rasa humanism kita. 

Berdasarkan dalil naqli di atas, bahwa untuk menghadapi kesedihan kita tingkatkan iman, taqwa (sholat), dan Ihsan (sabar), sehingga hati kita menjadi bersih dan suci.

Tidak ada kesedihan dan ketakutan yang menghantui hidup kita. Kita cepat bisa ambil hikmat dari setiap kejadian mushibah, apapun bentuknya. Namun sebaliknya, jika kita memperoleh suatu karunia dan kemuliaan, apakah berupa harta, jabatan, pangkat dan Award apapun, tidak seharusnya membuat kita bangga yang bikin lupa diri, tetapi kita harus sedih menghadapi akibatnya jika kita tidak bisa mensyukuri kenikmatan yang telah diterima. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration