Kopi TIMES

Tarekat dan Tasawuf Ditakuti Belanda

Tarekat dan Tasawuf Ditakuti Belanda Gus Fahd Reza Mangunrono, pengasuh Ponpes Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. (Foto: TIMES Indonesia)
Rabu, 06 November 2019 - 07:09

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIDI NUSANTARA, adalah perkumpulan tarekat yang ditakuti penjajah Belanda kala itu. Karena tarekatlah yang paling dikhawatirkan penjajah, bisa menumbuhkan semangat pribumi untuk memberontak.

Lalu mengapa penjajah takut terhadap dua hal, tarekat dan tasawuf?.

Kekhawatiran Belanda terhadap gerakan yang dimotori tarekat memang sangat beralasan. Sebab, begitu banyak perlawanan dan gerakan menentang penjajahan yang dipimpin tokoh tarekat atau pengikut tarekat tertentu. Karena itulah, tarekat mendapatkan pengawasan khusus dari Belanda.

Selain perkumpulan ini melakukan pertemuan rutin setiap minggu dan bulan. Perkumpulan rutin tarekat inilah yang menjadi cikal bakal tempat berkeluh kesahnya para pengikut.

Pada Juli 1888 sendiri, wilayah Anyer, Banten, Jawa Barat, dilanda pemberontakan. Pemberontakan petani itu benar-benar mengguncang Belanda karena dipimpin oleh para ulama dan kiai. Para pemberontak yang melawan penjajah itu adalah pengikut Tarekat Qadiriyah yang dipimpin oleh Syekh Abdul Karim dan KH Marzuki. Belanda dibuat keteteran oleh gerakan kaum sufi itu.

Pada Tahun 1926, di wilayah Banyuwangi juga terjadi pemberontakan di bedewang antara kaum santri melawan VOC yang dimotori oleh Romo KH Abdullah Faqih Cemoro. Bersama-sama dengan santri penganut tarekat Syadziliyyah, Kiai Cemoro berserta masyarakat memberontak melawan penjajah VOC di Bedewang, Banyuwangi. Yang kini terkenal dengan Peristiwa Pemberontakan Bedewang.

Sama halnya dengan di negara-negara Islam, tarekat tasawuf di nusantara pun tampil di garda depan untuk melawan dan mengusir penjajah.

Sejarah peradaban Islam mencatat, ada sederet gerakan perlawanan yang dipimpin syekh tasawuf bersama para pengikutnya untuk melawan penjajah Belanda.

Peran tarekat tasawuf dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda juga tampak menonjol dalam Perang Diponegoro pada 1825-1830.

Dalam pertempuran itu, Pangeran Diponegoro disokong para kiai, haji, dan kalangan pesantren. Dalam perjuangan yang dilakukan Diponegoro, Kiai Maja pun tampil sebagai pemimpin spiritual pemberontakan tersebut.

Guna menarik dukungan dari kalangan pondok pesantren, tokoh agama, syaikh, dan pengikut tarekat, Pangeran Diponegoro menyebut pemberontakan yang dipimpinnya sebagai perang suci atau perang sabil. Karena itulah, para pengikut tarekat dan umat Islam lainnya, pada waktu itu, meyakini pemberontakan Diponegoro sebagai perang suci untuk mengembalikan pemerintahan Islam di Jawa.

Dalam bukunya, Martin van Bruinessen yang  bertajuk, “Tarekat dan Politik: Amalan untuk Dunia atau Akhirat?”, juga mengungkapkan peran dan perjuangan tokoh dan pengikut tarekat dalam melawan Belanda. Karena peran tarekat dalam melawan penjajah Belanda juga dilakukan tarekat Sammaniyah di Palembang dalam Perang Menteng.

Perjuangan para tokoh dan pengikut tarekat itu berhasil mengalahkan gempuran pertama pasukan Belanda pada 1819.

Seorang penyair Melayu juga menggambarkan bagaimana kaum putihan atau haji mempersiapkan diri untuk berjihad fi sabillillah. Mereka membaca asma (al-Malik, al-Jabbar), berzikir, dan beratib dengan suara keras sampai fana.

Dalam keadaan tak sadar (‘mabuk zikir’) mereka menyerang tentara Belanda. Mereka berani mati, mungkin juga merasa kebal lantaran amalan tadi. Dibalut semangat dan keberanian mereka berhasil membuat Belanda kocar-kacir.

Menurut Bruinessen, tarekat Sammaniyah yang berkembang di Palembang dibawa dari tanah suci oleh murid-murid Abdussamad al-Palimbani pada penghujung abad ke-18 M. Syekh Abdussamad dikenal sebagai pengarang Syair Al-Salikin dan Hidayat Al-Salikin. Dua karya sastra tasawuf Melayu yang penting.

Syekh Abdussamad, kata Bruinessen, adalah seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia.. Bahkan mungkin boleh disebut militan. Tidak mengherankan kalau murid-muridnya yang ahli tarekat juga siap untuk berjihad fisik.

“Meski begitu, Syaikh Abdussamad bukanlah ahli tarekat Indonesia pertama yang bersemangat jihad melawan penjajah non-Muslim,” tutur Bruinessen.

Satu abad sebelum tarekat Sammaniyah yang dipimpin Syekh Abdussamad melakukan gerakan perlawanan terhadap Belanda, Syekh Yusuf al-Makassar yang bergelar ‘al-Taj al-Khalwati’ telah melakukan hal yang sama. Di Banten, Syekh Yusuf memimpin 5.000 pasukan dan 1.000 di antaranya berasal dari Makassar telah mengobarkan perang terhadap ‘kolonial kafir’.

Bahkan, ketika dibuang ke Srilanka pun, Syekh Yusuf terus mengobarkan semangat perlawanan lewat karya-karyanya kepada para Sultan dan pengikutnya di Gowa dan Banten. Sebagai seorang sufi, Syekh Yusuf pun telah ikut terjun ke dunia politik saat itu, dengan menjadi penasehat Sultan Ageng Tirtayasa.

Sejarah juga mencatat, banyak lagi gerakan pemberontakan melawan penjajah belanda yang dimotori tarekat. Seperti pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa’i (Ripangi) dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917), Peristiwa Garut (1919). Dan Pemberontakan Bedewang Banyuwangi (1926)

Pemberontakan di Banjarmasin dipimpin tuan guru yang mengajarkan amalan ‘beratif baamal’. Suatu varian amalan tarekat Sammaniyah. Konon, orang berbondong-bondong datang dibaiat, mereka berzikir dan membaca ratib sampai tidak sadar lagi dan kemudian menyerang tentara kolonial tanpa mempedulikan bahaya.

Gerakan Beratif Baamal ini meliputi hampir seluruh seluruh Banua Lima dan wilayah yang sekarang menjadi daerah Hulu Sungai Tengah dan Utara Kalimantan Selatan. Dengan pusat kegiatan tarekat di masjid dan langgar. Pimpinan dari gerakan ini kaum ulama yang disebut dengan ‘Tuan Guru’. Subhanallaah. (*)

* Penulis adalah Gus Fahd Reza Mangunrono, pengasuh Ponpes Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration