Peristiwa - Daerah

Komunitas Rumah Literasi Hijau Madani Ajarkan Warga Buat Ecobrick

Komunitas Rumah Literasi Hijau Madani Ajarkan Warga Buat Ecobrick Para komunitas Peduli sampah di Desa Kalianyar saat edukasi warga memanfaatkan sampah plastik. (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
Rabu, 23 Oktober 2019 - 15:15

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Pegiat peduli sampah di Bondowoso, yang tergabung dalam Komunitas Rumah Letrasi Hijau Madani di Desa Kalianyar Kecamatan Tamanan Bondowoso, mengajarkan warga setempat, memanfaatkan sampah dengan metode ecobrick.

Para penggiat tersebut meyakini metode 'Ecobrick' menjadi cara simpel dan efektif, mengatasi sampah sesuai prinsip 3R yaitu Reduce (mengurangi),  Reuse (Menggunakan kembali), dan Recycle (Mendaur ulang).

Ketua Komunitas Rumah Letrasi Hijau Madani, Slamet mengatakan, bahwa ecobrick merupakan salah satu solusi dan metode ampuh dalam mengelola sampah-sampah plastik. Apalagi selama ini sampah plastik, jarang sekali dikelola namun hanya dibiarkan saja bertumpuk atau dibakar.

“Jadi kami memberikan pelatihan. Datang ke rumah-rumah warga langsung. Untuk melakukan itu kami mendapat support dari Kampung recycle Jember,” ungkapnya.

Di samping itu, pihaknya juga gencar jemput bola, agar masyarakat menjadi nasabah Bank Sampah Batu Katak Kalianyar, yang memang merupakan bentuk awal dari ide mengatasi sampah plastik di Kalianyar.

Setiap warga yang menjadi nasabah akan menabung sampah plastik. Kemudian, dalam saldo buku tabungan akan tercatat dalam bentuk rupiah.

Jadi kata dia, jumlah sampah yang disetorkan kemudian dikonversi ke rupiah. Setelah itu langsung masuk ke rekening tabungan nasabah.

Dijelaskannya juga, bahwa untuk harga sampah yang disetorkan bervariasi tergantung jenisnya.  Seperti contohnya, sampah botol berwarna dihargai Rp 1.500 per kg. Kemudian, untuk sampah kertas berwarna Rp 500 per kg, untuk sampah dengan harga paling mahal yakni sampah Aki yang harganya hingga Rp 6000 per kg.

“Di Kecamatan Tamanan ini, ada tiga desa yang mendapat support dari Kampung Recycle Jember untuk membentuk Bank Sampah. Yakni desa Kalianyar, Tamanan, dan Wonosuko,” terangnya sembari membuat ecobrick.

Menurut laki-laki kelahiran Tamanan itu, sejauh ini banyak warga yang masih enggan langsung menjual sampah plastiknya. Karena, kebanyakan warga lebih memilih untuk membakarnya, karena lebih simple bagi mereka.

“Nah di sini ini, kita mengedukasi mereka. Perlahan-lahan memang, karena merubah mindset itu tak mudah. Jadi kami terus getol jemput bola ke masyarakat, agar masyarakat mau mengelola sampah plastik seperti membuat ecobrick,” kata Slamet, Ketua Komunitas Rumah Letrasi Hijau Madani. (*)

Jurnalis : Moh Bahri
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Registration