Peristiwa - Nasional

Prabowo Menhan, GO Indonesia : Itu Politik Merah Putih Jokowi

Prabowo Menhan, GO Indonesia : Itu Politik Merah Putih Jokowi Presiden Joko Widodo (kanan) menyerahkan petikan keputusan kepada calon Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kiri) dalam rangkaian pelantikan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). (Foto: Antara Foto/Puspa Pe
Rabu, 23 Oktober 2019 - 11:16

FOKUS BERITA

Kabinet Indonesia Maju

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto resmi masuk kabinet jilid II Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Prabowo masuk di kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu mengaku siap bekerja keras mencapai sasaran yang telah ditentukan Jokowi.  

Respons beragam dari pendukung Jokowi terkait masuknya Prabowo ke gerbong mantan Wali Kota Solo itu terus menghiasi berbagai ruang diskusi publik termasuk media sosial. 

Sekali pun Prabowo telah menegaskan akan kerja keras untuk mencapai sasaran dan harapan yang ditentukan Presiden, para pendukung Jokowi tampak terbagi dua, antara yang mendukung dan menolak keras kebijakannya.

Terkait situasi ini, Generasi Optimis (GO) Indonesia menyatakan bahwa bergabungnya Prabowo ke kubu Jokowi harus dilihat dalam kacamata politik yang komprehensif.

GO-Indonesia.jpgGO Indonesia, (kiri-kanan) Dhimas Anugrah, Horas Sinaga, dan Frans Meroga.(Foto: Istimewa)

“Politik itu cair ya. Tidak kaku. Jadi wajar saja kalau Pak Jokowi mengundang Pak Prabowo masuk dalam kabinetnya,” terang Sekjen GO Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga di Grand Wijaya, Jakarta Selatan, Rabu (23/10/2019). 

"Ini adalah implementasi dari sebuah Politik Merah Putih yang diperkenalkan Pak Jokowi kepada rakyat Indonesia," ujar Horas. 

Politik Merah Putih menurut Horas adalah praktik penyelenggaraan negara dengan cara mengoptimalkan sinergi kekuatan yang dimiliki oleh putra-putri terbaik bangsa ini.

"Hanya dengan Politik Merah Putih, maka bangsa kita bisa maju dan bangkit dari tantangan radikalisme agama dan ancaman disintegrasi. Politik Merah Putih mutlak membutuhkan Pak Jokowi, Pak Prabowo, Bu Megawati, Pak Surya Paloh, Pak SBY, Pak Airlangga Hartarto, Pak OSO, Nahdliyin, Generasi Optimis, dan semua unsur anak bangsa untuk mengembalikan kedigdayaan Nusantara di mata dunia," kata Horas.

Horas menilai alasan menjadikan Prabowo Menteri Pertahanan adalah dalam rangka mengatasi para agen radikalis agama yang sebagian besar merapat ke Prabowo pada kampanye 2019.

"Pak Prabowo tahu jelas siapa saja penumpang gelap yang kemarin ada di pihaknya. GO Indonesia berharap Pak Prabowo langsung berantas para radikalis agama. Melibas mereka keluar dari NKRI. Prabowo tahu dengan detil siapa saja radikalis agama yang kemarin hendak memanfaatkannya," ujar Horas.

Menurut Horas, masuknya Prabowo ke gerbong Jokowi adalah karena Ketua Umum Partai Gerindra itu adalah ahli strategi tempur sekaligus eks pimpinan Kopassus, pasukan elit Angkatan Darat yang selevel dengan SAS (Inggris), Sayeret Matkal (Israel), dan Spetnaz (Rusia). 

"Pak Prabowo paham sekali kontra terorisme. Beliau paham pertahanan yang terbaik bagi Indonesia. Jadi wajar jika Pak Jokowi merekrut Pak Prabowo. Pada masa mudanya, Pak Probowo itu mendapat banyak ilmu dari Jendral Benny Moerdani, tokoh intelijen terbaik Indonesia," katanya.

Generasi Optimis (GO) Indonesia berharap Prabowo dengan segudang pengalaman tempurnya akan berhasil mengatasi para radikalis agama dan teroris di Republik ini.

Di sisi lain, pakar pengamat politik dan intelijen itu menambahkan, Prabowo merupakan figur orang besar yang telah suka rela membantu mantan kompetitornya dalam dua kali Pilpres tersebut.

“Beliau memiliki hati yang besar. Saya pikir, selain Pak Jokowi, Pak Prabowo adalah pemimpin nasionalis terakhir negeri ini,” tandasnya. 

"Selamat bekerja serta membangun Indonesia maju dan menjaga rumah besar Pancasila bagi Pak Jokowi dan Abah Maruf beserta seluruh jajaran kabinet Indonesia Maju," kata Sekjen Go Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga mengenai masuknya Prabowo Subianto di Kabinet Jokowi. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration