Selasa, 12 November 2019
Pendidikan

ITS Kaji Minimalisir Kerusakan Bangunan Akibat Fenomena Angin Puting Beliung

ITS Kaji Minimalisir Kerusakan Bangunan Akibat Fenomena Angin Puting Beliung Dr Ir Amin Widodo Msi, pakar geologi Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.(Foto: dokumen Amin Widodo)
Selasa, 22 Oktober 2019 - 15:27

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya) mengkaji potensi kerusakan bangunan dalam menghadapi bencana angin kencang yang terjadi pada beberapa wilayah Indonesia sepanjang pekan ini.  Beberapa tahun terakhir intensitas angin puting beliung dengan kecepatan tinggi makin meningkat. Banyak lokasi baru menjadi sasaran angin yang mampu menghancurkan bangunan ini.

Jika diperhatikan secara cermat maka ada yang menarik dari berbagai bencana  puting beliung di beberapa tempat tersebut. Tidak semua rumah roboh namun juga ada rumah yang masih utuh sehingga menyelamatkan penghuni di dalamnya. 

Bahkan pohon, papan reklame, bando, antena TV, tower telekomunikasi roboh, masih banyak yang berdiri tegak. 

“Ini adalah petunjuk penting bagi semua orang sebab kalau dilihat dan diamati lebih detail maka bangunan rumah, bangunan tegakan dan pohon yang roboh bermasalah,” terang Amien Widodo, pakar geologi ITS Surabaya, Selasa (22/10/2019).

Hal tersebut bisa dianalogkan Amien dengan serangan influensa yang biasanya datang saat musim pancaroba. 

“Kita perhatikan ternyata tidak semua orang terkena influensa, hanya orang orang yang bermasalah saja yang terkena influensa,” tandasnya.

Dugaan kuat penyebab utama robohnya bangunan ini antara lain karena usia bangunan sudah tua, pondasinya tidak mengikuti standar, sudah keropos, atau mur baut kendor dan lain sebagainya.

Demikian pula pada pohon yang roboh. Terlihat bahwa pohon sudah tua, keropos bagian tengah, sebagian batanya dimakan rayap, kanopi pohon terlalu lebar, dan diameter batang pohon terlalu besar dibandingkan akarnya.

Untuk antisipasi bencana angin puting beliung yang akan datang, Amien menyarankan upaya mitigasi khususnya  suatu daerah yang pernah dilewati angin  dan menimbulkan korban, kerusakan dan kerugian.  

“Untuk itu kepada pihak yang bertanggung jawab terhadap bangunan tegak seperti papan reklame, bando, baliho, antena TV, antena telekomunikasi, dan sejenisnya, maka sudah waktunya untuk melakukan pemeriksaan kondisi masing-masing bangunan itu,” paparnya.

Pemeriksaan itu antara lain meliputi umur bangunan, apakah masih layak apa tidak, tingkat kekeroposan bahan akibat korosi, kondisi mur baut, adakah yang kendor, serta memeriksa sambungan yang putus.

“Hasil pemeriksaan ini diverifikasi oleh pihak yang berwenang. Kalau sekiranya bangunan itu sudah tidak layak mestinya segera dirobohkan dan diganti yang baru,” kata Dosen Teknik Geofisika ITS Surabaya tersebut. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration