Peristiwa - Daerah

Bupati Blitar Ajak Santri Lawan Anarkisme, Radikalisme dan Terorisme

Bupati Blitar Ajak Santri Lawan Anarkisme, Radikalisme dan Terorisme Bupati Blitar menjadi Inspektur Upacara  Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Di Alun alun Kanigoro Kabupaten Blitar, Selasa (22/10/2019). (Foto: Sholeh/ TIMES Indonesia)
Selasa, 22 Oktober 2019 - 10:35

TIMESINDONESIA, BLITAR – Kabupaten Blitar menggelar Apel Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Di Alun alun Kanigoro Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (22/10/2019). Bupati Blitar Drs H Rijanto MM menjadi Inspektur Upacara pada kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, Rijanto mengajak seluruh masyarakat terutama kaum Santri untuk melawan segala bentuk anarkisme, radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI.

"Kita juga harus memerangi kemiskinan kebodohan dan ketertinggalan kita," katanya.

Tidak hanya itu, melalui HSN,  Rijanto juga mengajak masyarakat melawan narkoba dan bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai negara yang bersih dari peredaran narkoba.

Rijanto juga mengajak santri berdakwah dengan akhlak yang baik terutama di media sosial dengan menyampaikan kebenaran dan melawan segala provokasi, adu domba dan penggunaan kabar bohong.

"Alhamdulillah kabupaten Blitar selalu sukses menyelenggarakan hari santri dari tahun 2016, 2017,dan 2018 dan saat ini tahun 2019," urainya.

Rijanto menambahkan, Hari Santri mengingatkan masyarakat pada sejarah tentang resolusi jihad Kiai Haji Hasyim Ashari yang menggerakkan santri pemuda dan masyarakat untuk berjuang melawan pasukan kolonial terjadi pada 10 November 1945.

Ini menunjukkan, sejarah perlawanan 10 November ternyata tidak berdiri sendiri melainkan runtutan dari beberapa tahapan yang digagas oleh para ulama dan para santri.  Pemicu utamanya yaitu fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh para ulama di bawah komando Rois Akbar jam'iyah Nahdlatul Ulama yakni  Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari

"Resolusi jihad NU adalah perintah dari para alim ulama kepada umat Islam di sekitar pulau Jawa yang masuk pada radius 94 km dari Surabaya, hukumnya wajib bagi mereka untuk membela tanah air," jelas Rijanto.

Resolusi jihad pada waktu itu, diungkapkannya, adalah perintah untuk melawan tentara sekutu yang berujung pada pertempuran sengit yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November. Pada peristiwa itu kaum santri berhasil merobek bendera merah putih biru yang diganti dengan bendera merah putih di atas hotel orange Surabaya.

"Kaum santri tahun berhasil merebut kembali keadaan dengan mengalahkan pasukan sekutu tak kurang dari 20.000 santri gugur dalam pertempuran," jelasnya. (*)

Jurnalis : Muhammad Sholeh
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Blitar

Komentar

Registration