Kopi TIMES

Ngomong Banyuwangi, RSUD Genteng, Bandara dan Si Pekerja Sosial

Ngomong Banyuwangi, RSUD Genteng, Bandara dan Si Pekerja Sosial Sulhan Hadi (Gus Sulhan), aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi.
Senin, 21 Oktober 2019 - 10:43

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke RSUD Genteng, Banyuwangi. Saya kaget sekaligus tersenyum ketika masuk ke parkiran. Lokasi yang berada di sisi barat area RSUD ini banyak berubah.

Beberapa tahun lalu parkiran ini sempat masuk dalam headline sejumlah media. Tentu karena beberapa hal yang kurang baik. Kini lokasi itu terlihat beda, kaku ning ayu.

Jika dahulu saat memasuki lokasi parkiran, ada dua sampai tiga orang yang berjaga. Saat ini mereka tidak lagi tampak. Mereka dulu bertugas mencatat pada secarik kertas plat nomor motor yang masuk. Selanjutnya diberikan kepada pemilik motor. Dan di situlah celah itu muncul. Amit saja, konon secarik kertas bisa untuk beberapa kali motor.

Ah sudahlah kita tidak usah membahas yang ini. Soalnya sudah tak ada lagi kini.

Yang perlu saya ceritakan, saat ini kalau masuk area parkir RSUD Genteng, kita akan memencet tombol warna hijau dan secara otomatis akan muncul print kertas. Meski tidak mencatat nomor plat, tetapi kemanan kendaraan dan identifikasi sepertinya terjaga. Ada moncong CCTV yang mengarah ke motor dan pengguna.

Intinya, keamanan cukup terjamin. Jumlah yang harus dibayar saat parkir di lokasi ini ditetapkan sebesar Rp 2000 per waktu yang ditentukan. Kalau tidak salah ingat, siang sampai sore dan malam masing-masing Rp 2000.

Kemudian penjaga pintu masuk –keluar kini hanya satu orang. Perempuan muda yang tampak lebih ramah dan segar. Tiba-tiba saya berpikir, kemanakah bapak-bapak yang sebelumnya bertugas di pintu masuk?.

Urusan parkir ala begini, tentu sebenarnya bisa dilakukan semua orang. Dan parkiran ini merupakan satu hal kecil dari beberapa hal menarik lain di RSUD Genteng. Setidaknya begitulah yang saya tahu. Sejak ada dr H Taufiq Hidayat, SpAnd, M.Kes, dipucuk pimpinan RSUD Genteng, memang katanya banyak perubahan dan penyempurnaan dari kondisi sebelumnya.

Parkiran model ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi untuk kawasan kota Genteng sepertinya masih pertama. Rumah sakit lain seperti RS Fatimah juga sudah menerapkan hal yang sama. Tetapi, untuk lokal Banyuwangi sejujurnya saya mengetahui parkir model ini pertama kali di bandara Internasional Banyuwangi (BWX).

Tapi kalau membincangkan terkait BWX, bukan lagi soal parkiran yang menarik. BWX ini unik karena penuh kejutan dan tentunya juga makan banyak tumbal.

Salah satu kejutan yang bikin saya agak kaget, untuk ukuran bandara di kabupaten, menurutku intensitas pembukaan jadwal dan atau rute baru penerbangan domestik cukup sering. Tetapi kadang-kadang juga ada penerbangan yang merencanakan mau menutup salah satu rutenya. Lagi -lagi, dari sini pula keajaiban itu terjadi. Di sela injury time waktu penutupan yang direncanakan hampir tiba, ternyata penutupan dibatalkan. Dengan kata lain, penerbangan terus dibuka.

Tentu keajaiban model ini ini tidak bisa dilepaskan dari kegigihan Pemkab Banyuwangi dalam melakukan lobi tingkat dewa. Dalam hal ini, tidak lain leading sektornya Dinas Perhubungan (Dishub). Meski perputaran tuas mesin ini merupakan kerja kolektif banyak sektor. Haqqul yaqin, Saya menduga Dishub yang kini dikepalai Mas Ali Ruchi menjadi dinamonya.

Bandara yang baik tentu menjadi surga ketiga bagi para traveler lintas udara. Selain Trinity yang terkenal dalam hal dunia pelancongan, saya memiliki beberapa teman yang menganggap bandara seperti mburitan omahnya. Lantaran mereka merupakan pengguna jasa penerbangan yang padat.

Di antara mereka itu, ada yang merupakan traveler sekaligus pekerja sosial. Pada bagian ini saya akan ceritakan terlebih dulu salah satunya, namanya Purnomo. Lengkapnya, Purnomo S Sos M Si.

Saya membayangkan betapa senangnya Mas Pur ini dengan Bandara Banyuwangi. Dia yang sering warawiri Banyuwangi - Papua atau daerah lainnya bisa lebih cepat sampai di rumah melalui bandara ini.

Saya terkadang muncul penasaran dalam hati besar, orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi dan berintegritas seperti mereka, Jika berkolaborasi untuk kemajuan daerah, akan menghasilkan apa ya? (*)

*) Penulis, Sulhan Hadi (Gus Sulhan), aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Syamsul Arifin
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration