Selasa, 19 November 2019
Peristiwa - Daerah

Pemkot Yogyakarta Ajak Pedagang Pasar Bayar Retribusi Secara Digital

Pemkot Yogyakarta Ajak Pedagang Pasar Bayar Retribusi Secara Digital Wakil Walikota Yogya Heroe Purwadi (baju biru) saat menghadiri Festival Inovasi Jogja di Galleria Mall Yogyakarta, Sabtu (19/10/2019). (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)
Minggu, 20 Oktober 2019 - 13:07

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTAPemkot Yogyakarta terus mendorong pedagang pasar tradisional di wilayahnya membayar retribusi tak lagi secara konvensional melainkan digital. Hal ini menyusul setelah Pemkot Yogyakarta resmi menggandeng aplikasi pembayaran non tunai LinkAja bekerja sama dalam penerimaan pembayaran retribusi pelayanan pasar di Kota Yogyakarta.

“Pembayaran retribusi secara digital akan menguntungkan pemerintah dari sisi transparansi, kecepatan pelaporan dan mencegah kebocoran penerimaan di lapangan,” kata Wakil Wali Kota Yogya Heroe Purwadi di sela penandatangan kerjasama dengan aplikasi LinkAja saat pembukaan Festival Inovasi Jogja di Galleria Mall Yogyakarta, Sabtu (19/10/2019).

Heroe tak menampik, retribusi yang menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) menjadi sektor yang tengah digarap serius Kota Yogya saat ini. Terutama integrasi ke ranah digital. Pembayaran secara digital, lanjut Heroe, akan mengatasi persoalan pembayaran konvensional yang dihadapi selama ini.

Misalnya dengan 30 an pasar tradisional yang beroperasi di Kota Yogya saat ini, pelaporan penerimaan retribusi berjalan amat lambat. Karena setelah penagihan masih harus dilakukan perhitungan secara manual.

“Memang laporan retribusi seringnya sudah masuk dulu, tapi uangnya belum. Kalau dengan metode digital ada laporan sekaligus uangnya,” jelas Heroe.

Pembayaran retribusi secara digital diyakini Heroe juga semakin memberi kepastian pada masyarakat khususnya mereka yang wajib membayar retribusi.

“Setelah retribusi pasar, rencananya kami akan digitalisasi pembayaran retribusi parkir, sehingga penerimaan dari hasil parkir jelas dan lebih transparan,” papar Heroe.

Heroe mengatakan sebagai kota destinasi wisata retribusi parkir juga menjadi penopang penting PAD. Hanya selama ini pengelolaannya masih konvensional dan masih membuka peluang besar kebocoran.

“Kami akan mulai retribusi parkir secara digital dari taman parkir Abu Bakar Ali, yang paling dekat dengan obyek wisata Malioboro,” jelas Heroe.

Heroe menuturkan untuk menggarap retribusi parkir secara dogital pihaknya masih akan menyiapkan sumber daya manusia yang memadai di lapangan. Khususnya juru parkir yang melek teknologi pembayaran digital.

Tantangan yang dihadapi, tak semua lokasi parkir di Yogya juga dikelola pemerintah. Melainkan ada beberapa dikelola swasta sehingga butuh proses mengintegrasikannya.

Direktur Teknik LinkAja Arman Hazairin pada kesempatan itu mengatakan kerjasama dalam penerimaan retribusi pasar di Kota Yogyakarta ini menjadi kerjasama kedua setelah pihaknya meneken nota kesepahaman tentang Peningkatan Kinerja Perekonomian Daerah Melalui Inovasi Teknologi Digital awal Oktober 2019 lalu.

“Program digitalisasi retribusi pasar ini untuk membantu meningkatkan PAD, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pedagang pasar dengan memberikan kemudahan serta menyediakan alternatif pembayaran dalam memenuhi kepatuhan dalam membayar retribusi,” jelasnya.

Belum seluruh pasar tradisional akan menerapkan sistem pembayaran retribusi secara digital ini. Dimulai dari pedagang di Pasar Beringharjo lali menyebar ke sejumlah pasar tradisional lain secara bertahap.

“Masih banyak potensi yang bisa digarap dari ekosistem pasar seperti konversi transaksi tunai menjadi nontunai pada semua pedagang pasar, hingga penerapan pembayaran nontunai di berbagai acara atau program yang diselenggarakan Pemkot Yogyakarta,” ujar Arman. (*)

Jurnalis : Fajar Rianto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration