Ketahanan Informasi

Sempat Putus Asa, Pasien Cuci Darah Ini Tertolong Berkat Program JKN-KIS

Sempat Putus Asa, Pasien Cuci Darah Ini Tertolong Berkat Program JKN-KIS Peserta Program JKN-KIS Anik Sugiyarti (kiri) saat berbagi kisah tentang terapi cuci darah yang dijalaninya dalam talkshow yang diadakan BPJS Kesehatan Cabang Jember, Rabu (16/10/2019). (FOTO: Anggun/AJP TIMES Indonesia)
Kamis, 17 Oktober 2019 - 16:20

TIMESINDONESIA, JEMBER – Program JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat) benar-benar memiliki arti bagi Anik Sugiyarti, seorang penderita gagal ginjal asal Jember, Jawa Timur. Sebab, dengan adanya program tersebut, Anik dapat melanjutkan terapi Hemodialisis (HD) atau cuci darah yang nyaris dia hentikan lantaran tidak sanggup lagi membayar.

"Setidaknya saya harus mengantongi Rp 1 juta lebih untuk sekali terapi. Dan saya bisa dua kali menjalani terapi dalam seminggu," kata janda 49 tahun tersebut saat menghadiri Sosialisasi Program JKN-KIS di Rumah Makan Ikan Goreng Cianjur, Jember, Rabu (16/10/2019).

Anik menuturkan, sebelum bergabung menjadi peserta program JKN-KIS, derita gagal ginjal yang dia jalani selama 4 tahun tersebut nyaris membuatnya putus asa.

Selain biaya terapi dan obat-obatannya yang selangit, Anik juga pesimis bahwa dirinya mampu survive dari penyakit tersebut.

"Sempat ada pikiran yang negatif. Setiap kali ada keluarga yang menjenguk saya selalu sedih. Sampai kapan kondisi saya begini? Sampai kapan saya bisa membayar biaya cuci darah sendiri? Rasanya saya sudah tidak mampu lagi," tutur warga Kencong tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah perasaan yang kalut dan tidak menentu tersebut, Anik memperoleh informasi tentang adanya program JKN-KIS dari BPJS Kesehatan dari Puskesmas yang bisa dia kunjungi.

"Saya dapat informasi tentang JKN. Ini jadi jalan keluar saya untuk kondisi kesehatan saya. Akhirnya saya mendaftar jadi peserta JKN-KIS di kantor BPJS Kesehatan Jember," terang Anik yang tercatat sebagai peserta aktif JKN-KIS sejak 3 tahun lalu.

Benar saja, setelah terdaftar menjadi peserta program tersebut, ibu satu anak tersebut mulai merasakan manfaatnya. Dia mengatakan, dirinya tidak lagi mengeluarkan uang sepeser pun untuk membiayai terapi cuci darah dan obat-obatannya karena biaya telah ditanggung BPJS Kesehatan melalu program tersebut.

"Karena itu juga, saya selalu berupaya bayar iuran setiap bulannya secara mandiri," ujarnya.

Anik juga menyampaikan bahwa ringannya beban perawatannya tidak hanya karena adanya program JKN-KIS semata. Namun karena partisipasi aktif seluruh peserta JKN-KIS dalam membayar iuran.

"Saya berterima kasih dengan para pembayar iuran. Karena JKN-KIS ini sifatnya gotong royong. Dengan adanya iuran dari masyarakat, saya jadi tertolong," imbuhnya. (*)

Jurnalis : Anggun LS (CR-133)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Registration