Minggu, 17 November 2019
Kopi TIMES

Safari Politik Prabowo

Safari Politik Prabowo Moh. Syaeful Bahar.
Rabu, 16 Oktober 2019 - 13:00

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Akselerasi politik Prabowo terus menjadi sorotan. Lompatan komunikasi politik Prabowo menjadi bernilai berita (news value) yang tinggi. Tak ayal, media-media nasional, baik elektronik, cetak maupun online, berlomba-lomba memberitakan.

Diawali ketika penentuan pimpinan MPR RI. Gerindra yang bersikeras memunculkan nama Muzanni sebagai calon ketua MPR akhirnya melunak setelah Prabowo dan Megawati melakukan komunikasi politik. 

Megawati berhasil meyakinkan Prabowo untuk tidak melakukan voting dalam tahapan penentuan ketua MPR dan tetap memilih mekanisme musyawarah mufakat. Demi alasan yang lebih besar, yaitu menjaga keharmonisan dan keutuhan, maka Prabowo mengalah. Apakah benar Prabowo mengalah, sekadar mengalah demi alasan yang sangat normatif tersebut? Atau karema ada peluang tawar menawar kekuasaan (sharing power) yang dibicarakan dengan syarat Prabowo mengalah? Tulisan ini berusaha mencari jawab atas pertanyaan tersebut.

KOMUNIKASI PADA ELIT KOALISI JOKOWI

Tak sampai hanya di Megawati, komunikasi dan akrobat politik Prabowo terus berlanjut. Tak lama setelah komunikasi politik Prabowo dan Megawati, komukasi berikutnya dilakukan antara Prabowo dan Jokowi. 

Komunikasi politik Prabowo dan Jokowi ini juga menyedot perhatian awak media. Hampir semua media mainstream memuat berita pertemuan dua tokoh ini. 

Optimisme bahwa Gerindra akan menjadi bagian kekuatan koalisi pemerintah menjadi tema paling banyak didiskusikan. Bahasa Prabowo yang menyatakan siap di dalam pemerintahan dan sekaligus juga siap menjadi oposisi menjadi kata kunci yang paling sering disorot. 

Sebagian besar pengamat komunikasi politik meyakini, bahwa pertemuan Prabowo dan Jokowi tak bisa lepas dari komunikasi politik awal, antara Prabowo dan Megawati. 

Komunikasi tatap muka Prabowo dan Jokowi adalah konsekwensi dari Komunikasi Prabowo dan Megawati. Karena alasan itu, sebagian pengamat meyakini, bahwa peluang Prabowo dan Gerindra jadi bagian dari pemerintah lebih besar dari pada jadi kekuatan kontrol di luar pemerintah, yaitu oposisi.

Beberapa swafoto yang menunjukkan keakraban, optimisme dan canda tawa antara Prabowo dan Jokowi yang tersebar cepat, sesaat setelah pertemuan keduanya, semakin menguatkan dugaan bahwa telah disepakati beberapa hal penting.

Saya pribadi membenarkan dugaan dan analisis sebagian pengamat tersebut. Terbukti, pasca pertemuan Prabowo dan Jokowi, akrobat politik Prabowo terus berkembang, semakin progresif dan semakin enak dinikmati.

Setelah ke pusat koalisi dan pusat kekuasaan, yaitu PDIP dan Jokowi, Komunikasi politik Prabowo terus berkembang, bergerak ke samping, menemui dan berkomunkasi dengan para pimpinan partai koalisi pemerintah.

Diawali pertemuan dengan Surya Paloh (Nasdem), kemudian dengan Cak Imin (PKB), dan terakhir dengan Airlangga Hartarto (Golkar), sangat mungkin segera dengan PPP.

Komunikasi politik antara Prabowo dan Surya Paloh, dengan Cak Imin serta dengan Airlangga Hartanto, selalu berakhir menyenangkan, selalu melahirkan kesepakatan-kesepakatan, baik yang secara kasat mata nampak dan diakui secara langsung, misal seperti pentingnya menjaga keutuhan bangsa dan tentang nasionalisme maupun "mungkin" juga kesepakatan yang tak nampak.

PEMBUKTIAN DIRI PRABOWO

Banyak tafsir yang bisa dilekatkan atas safari politik Prabowo ini, namun, semuanya bermuara pada satu kata, pembuktian Prabowo. Prabowo sedang mempertontonkan sebuah drama pembuktian. Panggung drama yang dibuat Prabowo berjudul pembuktian.

Pembuktian pertama, bahwa dia adalah seorang kesatria, seorang negarawan. Prabowo seakan menunjukkan bahwa dia telah mengakui kemenangan Jokowi dengan lapang dada. Prabowo tak ingin, kontestasi pilpres yang sangat panas dan keras tak terus berlanjut. Perseteruan cebong dan kampret telah usai. Tak ada lagi cebong dan kampret, yang ada adalah Indonesia, masa depan Indonesia.

Pembuktian kedua, adalah pembuktian bahwa Prabowo adalah seorang negarawan. Prabowo ingin membuktikan pada khalayak banyak, pada rakyat Indonesia, bahwa dia bukan politisi yang gampang "baperan", politisi yang gampang "mutungan", tapi dia politisi yang tangguh namun kenyal dan lentur. Politisi yang mengedepankan komunikasi dan dialog dibandingkan bersikukuh unjuk kekuatan dan terus menjaga ego kekuasaan. Politisi yang mengedepankan kepentingan bangsa dari pada kepentingan pribadi dan golongan.

Pembuktian ketiga adalah tentang hebatnya kemampuan komunikasi Prabowo. Prabowo ingin menunjukkan bahwa dia adalah seorang komunikator ulung.

Pembuktian keempat adalah bahwa Prabowo adalah seorang pancasialis dan nasionalis sejati. Prabowo ingin menjawab tuduhan banyak pihak yang mengatakan bahwa Prabowo adalah pendukung kelompok Islam formalis, Islam kanan yang menginginkan formalisme syariah Islam dalam tatanan bernegara dan berbangsa, sebutlah FPI dan HTI. Komunikasi ke PDIP dan beberapa partai nasionalis lainnya, adalah jawaban Prabowo atas keraguan banyak pihak tentang nasionalisme dan kecintaannya pada Pancasila.

Pembuktian kelima, dan ini adalah yang paling menarik, pembuktian Prabowo pada Megawati dan Jokowi. Pembuktian ini bertujuan menunjukkan keseriusan Prabowo bahwa dia dan Gerindra siap menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Dia juga ingin membuktikan pada Megawati dan Jokowi, bahwa dia beserta Gerindra tak ada masalah dengan partai-partai pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin. 

Pembuktian kelima ini, sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan dalam tulisan ini.
Komunikasi Prabowo dan Megawati, serta komunikasi Prabowo dan Jokowi, adalah merupakan kesepakatan bergabungnya Gerindra dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin, sekaligus simbol perpisahan antara Prabowo dengan kelompok Islam Formalis, FPI dan HTI.

 

*) Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Tim Ahli DPRD Bondowoso.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration