Minggu, 17 November 2019
Kopi TIMES

Berislam, Lalu Radikal? Nyantri, Lalu Toleran!!!

Berislam, Lalu Radikal? Nyantri, Lalu Toleran!!! Fauzan Fuadi, Santri Ponpes Qomarudin Gresik, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim
Selasa, 15 Oktober 2019 - 20:36

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Kita, dan sebagian besar masyarakat Indonesia, yang terkoneksi Media Social, tentu merasakan fenomena ini: ada seseorang, entah darimana asalnya. Yang secara tiba-tiba, mengingatkan agar kembali pada ajaran Islam yang Kaffah. Menyampaikan bahwa dimensi hidup itu Islam dulu, baru kesalehan social. Mengungkapkan kalau tanggung jawab pada Tuhan berlandaskan ajaran yang paling benar. Sedangkan bersimpati pada kehidupan social, tidak boleh mengalahkan ketaatan dan aturan Allah SWT. Itu kata mereka di media social.

Ada lagi, kita, acapkali juga melihat perubahan sikap seorang teman. Teman ini, tiba-tiba, enggan berosialisasi dengan yang lain. Menganggap yang lain tidak sesuai dengan paham yang diyakininya. Eksklusif dan tertutup. Orang ini – bagi para akademisi – sering disebut bibit orang radikal dan ekstrimis di Indonesia. Walau kita juga sadar, bahwa tidak semua orang yang tertutup cenderung akan bersikap radikal. Pertanyaannya, kenapa mereka ini berislam, lalu – seakan-akan – eksklusif dan radikal?

Untuk menjawab itu, mungkin kita perlu bantuan teori plausabilitas dan conformitas social. Kata Peter L Berger, kemantapan sikap seseorang ditentukan oleh “Rasa Nyaman” mereka memahami sesuatu. Demikian pula pandangan teori konformitas social. Teori ini menyatakan “Rasa Nyaman” akan muncul karena penerimaan individu terhadap nilai-nilai yang ada di dalam kelompok social tertentu. Pun sebaliknya, seorang individu bisa diterima oleh seorang kelompok disebabkan kesesuaian ide dengan gagasan-gagasan ideal dan utopis dari sebuah kelompok. 

Nah, mari kita lihat fenomena berislam lalu radikal itu? Pertama, orang-orang ini cenderung merasa “kurang nyaman” dengan keyakinan agama yang setengah-setengah. Ya, harus kita akui, mereka yang radikal ini mayoritas berasal dari masyarakat urban; belajar di Perguruan Tinggi Umum (PTU), berasal dari keluarga yang “mungkin” memiliki kerenggangan antara satu sama lain, dan masih banyak analisis lainnya, yang menunjukkan, mereka bukan berasal dari kondisi yang normal secara psikologis. Apakah sekedar itu saja? 

Tentunya tidak, adapula factor kondisi dan kelompok social yang mengkonstruk kepribadian mereka ini. Naasnya, mereka menggali informasi keislaman dari orang yang “salah”; dari orang yang memiliki keinginan tertentu: memiliki conflict of interest untuk tujuan merusak tatanan dan ajaran yang sudah bekelindan di lingkungan masyarakat. Tapi kerennya, kelompok ini memberikan iming-iming kehidupan yang ultimate dan eksklusif. Kita bisa membanyangkan dari orang yang tidak bisa melafalkan al Qur’an (khususnya bagi orang Islam) tiba-tiba bisa masuk surga, bisa menjadi pejuang yang syahid dijalan Allah, dan bisa membela agama Allah yang dinista oleh orang-orang non-Muslim, kata mereka. 

Lalu kenapa ide ini tidak bisa diterima orang? Kan gagasan dan idealismenya sangat ultimate? Bukannya, semua orang ingin syahid di jalan Allah?.

Nah, kita – khususnya para santri – memiliki “Rasa Nyaman” beragama berbeda. Santri punya standar keislaman yang lebih merepotkan. Untuk berislam, santri haru paham ilmu aqidah dulu yang benar. Belajar fiqh yang benar dari kitab-kitab klasik yang diajarkan oleh para kyai. Belajar dan memperbaiki akhlak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad yang welas asih antar sesama manusia. Belum lagi, untuk berislam, santri harus punya ketundukan kepada tauladan para kyainya. 

Rasa nyaman beragama santri bukan berada di depan orang alim. Tidak membela mereka yang sekedar disebut “ulama’ atau ustadz baru”. Para santri sadar, ketaatan mereka diletakkan pada sosok yang sudah mengajarinya sejak kecil. Orang tua yang membimbingnya ke pondok pesantren. Hingga para guru yang sekedar mengajarkan satu huruf sekalipun. Santri – pada identitasnya – tersemat keislaman yang kompleks. Meski, pada tampilan tindakan yang sangat sederhana. 

Maka dari itu, berhati-hatilah untuk kita menilai rasa nyaman beragama, khususnya berislam. Islam memiliki dimensi-dimensi yang sangat luas. Islam bukanlah agama yang dangkal dan instan. Islam punya nuansa ketuhanan dan ke-sosial-an yang berimbang. Bertuhan ala Islam berarti menunjukkan rahman dan rahim dari sikap Tuhan. Bukan sebaliknya, menampilkan otoritas ketuhanan untuk menilai sikap orang lain. Sekian dan selamat hari santri Tahun 2019.(*)

*) Fauzan Fuadi, Santri Ponpes Qomarudin Gresik, Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration