Ketahanan Informasi

Nyantri: Beragama dan Berkarakter

Nyantri: Beragama dan Berkarakter Muhammad Yunus (Grafis: TIMES Indonesia)
Minggu, 13 Oktober 2019 - 16:28

TIMESINDONESIA, MALANG – Hiruk pikuk menyambut peringatan Hari Santri Nasional (HAN) tanggal 22 Oktober ini semakin terasa. Beragam kegiatan mulai dilakukan. Kegiatan tersebut dalam rangka mengingatkan dan mensyiarkan semangat santri dalam membangun berdirinya bangsa ini. HAN yang ditetapkan 22 Oktober ini diambil dari gerakan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syeich KH. Hasyim Asyari dalam melawan penjajah. Inilah yang kemudian diangkat kembali guna meneruskan semangat harakah itu.

  Sisi lain HAN dimaksudkan menyampaikan kepada khalayak bahwa nyantri (menjadi santri, red) bukanlah sekedar belajar agama tetapi juga belajar menjadi manusia dan muslim yang baik (berkarakter). Karena nyantri tidak hanya transfer ilmu agama tetapi transformasi nilai-nilai keagamaan sehingga menjadi insan yang utuh dan unggul. Nyantri bukan sekedar mencetak mereka yang hanya memahami agama tetapi gersang nilai, tetapi manusia yang paham akan dirinya sebagai seorang hamba dan paham dirinya sebagai seorang khalifah. Inilah dimensi vertical dan horizontal yang digemblengkan kepada para santri. Dirinya sadar sebagai seorang hamba, dan sadar akan posisinya menjadi rakyat yang bernegara yang harus hormat kepada pemimpinnya. Bukan mereka yang paham agama tetapi kata-katanya menjadi umpatan tak bertepi kepada pemimpinnya sendiri.

Saya menyebutnya nyantri itu belajar agama dan belajar menjadi insan yang berkarakter. Karakter ini penting diungkapkan dan ditanamkan kepada generasi milenial saat ini agar marwah bangsa ini yang dikenal dengan keramahannya, kerukunannya, kegotongroyongannya, saling menghotmati, saling mengasihi tetap lestari sampai kapanpun. Jika tidak maka cerai berai dan kehancuran bangsa ini ada didepan mata.

Misalnya saja, mereka yang nyantri pasti akan diajarkan nilai-nilai fundamen yang menjadi langkahnya dalam menjalankan agama dikehidupan bermasyarakatnya. Seorang santri senantiasa diajarkan bernegara dan berbangsa yang baik. Negara ini harus dijaga dengan baik karena hanya dengan Negara yang aman seluruh amaliah ajaran agama dapat dijalankan dengan baik. Jika Negara ini tidak aman maka seluruh rangkaian ibadah vertical tidak akan berjalan dengan baik. Lihat saja beberapa di Timur Tengah kacau balau. Beribadah tidak lagi khusuk.

Nyantri adalah melanjutkan risalah kerosulan. Nyantri mencoba menjalankan ibadah. Nyantri  belajar memahami agama dan menghormati orang lain. Nyantri berarti belajar akhlak dan menjalankan akhlak itu sendiri. Inilah keutuhan belajar agama itu. Belajar menyebarkan rahmah kepada alam semesta.

Selamat menjemput kehadiran dan perayaan HAN. Semoga bangsa dan Negara ini tetap aman dengan tetap istiqomahnya kita menjadi santri. Wallahuaklam bissowab. (*)

*)Penulis adalah Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. Pengurus LP Maarif PWNU Jawa Timur.

Jurnalis : Muhammad Yunus (CR-057)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Registration