Peristiwa - Daerah Hari Santri Nasional 2019

KOPRI PMII Kabupaten Malang Gelar Bedah Buku Bakiak Politik Sorban Negarawan

KOPRI PMII Kabupaten Malang Gelar Bedah Buku Bakiak Politik Sorban Negarawan Bedah Buku Bakiak Politik Sorban Negarawan karya Yatimul Ainun oleh KOPRI PMII Kabupaten Malang. (Foto: Naufal Ardiansyah/TIMES Indonesia)
Senin, 14 Oktober 2019 - 10:22

TIMESINDONESIA, MALANG – Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, KOPRI PMII Cabang Kabupaten Malang menggelar bedah buku berjudul Bakiak Politik Sorban Negarawan karya Yatimul Ainun di Warung Kopi Belik, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (13/10/2019) malam.

Buku yang ditulis Pemred TIMES Indonesia itu dibedah oleh Ketua STF Al-Farabi Kepanjen Ach Dhofir Zuhry dan mantan Ketua KPU Kabupaten Malang Santoko.

Bedah-Buku-Bakiak-2.jpg

Ketua KOPRI PMII Kabupaten Malang Azizah Zam Zam menyampaikan, kegiatan ini merupakan rangkaian acara Hari Santri Nasional.

Pihaknya mengundang beberapa organisasi mahasiswa seperti HMI, GMNI, IPNU-IPPNU, bahkan Karang Taruna Wagir dan Masyarakat umum.

"Dengan semangat edukasi politik untuk kaum milenial belajar bersama disini," katanya.

Konsep yang diambil, lanjut Azizah, sengaja ditempatkan di warung kopi supaya lebih santai dan merakyat.

Ketua STF Al-Farabi Kepanjen Ach Dhofir Zuhry menjelaskan, masyarakat terutama kaum milenial harus melek dan peka politik.

Dia menilai, buku yang ditulis tokoh NU itu, menerangkan secara gamblang soal fenomena politik di Indonesia dan peran ulama di dalamnya.

"Kiai boleh berpolitik. Seperti sisi barat di pusat kota alun-alun yaitu masjid sebagai simbol ulama. Ironinya, dari sisi ini ada eksodus ke sisi lainnya, yaitu pandopo sebagai simbol pemerintahan. Ini juga disinggung di buku ini," ujar Gus Dhofir.

Lebih lanjut, Gus Dhofir mengingatkan, melakukan pengkajian tidak hanya tugas kader PMII.

Bedah-Buku-Bakiak-3.jpg

"Kita PMII atau bukan, kita harus mengaji. Intelektualitas harus dijaga. Jangan demo aja, otak juga perlu didemo," tegas penulis buku Peradaban Sarung itu.

"Proses tidak bisa dibeli. Semua harus dilakukan dan dipelajari telaten dan konsisten," ungkapnya.

Seperti pernyataan Imam Mawardi bahwa politik adalah seni memperbaiki manusia menuju jalan keselamatan dunia dan akhirat. 

Untuk itu, menurut penulis, intelegensi dan strategi yang baik sangat dibutuhkan agar manusia bisa lebih tertata dan sejahtera.

"Jika proporsi tersebut diterima, maka gerbang politik sangat memperbolehkan untuk dimasuki oleh siapapun yang berkomitmen, tak terkecuali ulama," kata Yatimul Ainun.

Penulis mencoba menggiring mindset pembaca untuk kembali pada sejarah yang mengisahkan interdependensi antara ulama dan politik.

"Sebenarnya sejarah telah menceritakan bahwa ulama dan politik merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan," ujar pria berkacamata itu.

Bedah Buku Bakiak Politik Sorban Negarawan yang digelar di Kopi Belik tersebut memikat perhatian puluhan peserta diskusi yang hadir. Mereka juga membincangkan peran santri yang harus diambil di Hari Santri Nasional. Salah satunya adalah kesepakatan untuk menerbitkan gagasan dalam bentuk karya. (*)

Jurnalis : Mohammad Naufal Ardiansyah
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration