Wisata

Festival Gandrung Sewu, Paket Komplet Wisata Banyuwangi

Festival Gandrung Sewu, Paket Komplet Wisata Banyuwangi Pagelaran Tari Kolosal Gandrung Sewu 2019 Sukses Tampil Menawan di Pantai Marina Boom, Banyuwangi. (Foto: Roghib Mabrur/TIMES Indonesia)
Minggu, 13 Oktober 2019 - 14:18

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIFestival Gandrung Sewu sukses digelar di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, Sabtu (12/10/2019). Penampilan lebih dari 1.300 seniman tari dan musik berhasil memukau ribuan wisatawan.

Festival Gandrung Sewu memberikan wisata paket komplet, kerena selain menyuguhkan atradsi tarian, juga menyuguhkan wisata ukasi pengetahuan budaya dan sejarah bumi Blambangan.

Gandrung-Sewu-2.jpg

Pengunjung dibuat takjub dengan pemandangan ciamik selat Bali dan gerak ribuan penari Gandrung dalam balutan busana merah menyala.

“Festival Gandrung Sewu bukan hanya peristiwa biasa, tapi bagian dari upaya pemajuan kebudayaan daerah,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Minggu (13/10/2019).

Gandrung-Sewu-3.jpg

Anas menambahkan, Banyuwangi konsisten mengembangkan pariwisata berbasis budaya untuk menggerakkan ekonomi warga. Karena sektor kreatif inilah yang kuat dan mampu bertahan terhadap potensi resesi dunia. Sudah terbukti kunjungan wisatawan yang terus meningkat di Banyuwangi menjadi motor bagi geliat ekonomi daerah.

“Untuk  menjaga agar agenda pariwisata daerah terjaga keberlangsungannya, maka Banyuwangi Fesival kami buat peraturan daerahnya. Agar siapun kelak yang menjadi pemimpin Banyuwangi, kegiatan yang mengungkit ekonomi dan kreativitas rakyat ini akan terus berjalan,” terang Anas.

Gandrung-Sewu-4.jpg

Festival Gandrung Sewu ini digelar rutin tiap tahun sejak delapan tahun terakhir. Menari di atas pasir pantai yang tak jauh dari kota, koreografi Festival Gandrung Sewu selalu menjadi atraksi yang ditunggu para wisatawan. Tari Gandrung sendiri adalah tari khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

“Sudah tiga tahun ini, kami tak pernah melewatkan event ini. Bagi saya ini atraksi keren. Menonton ribuan penari dengan gerak gemulainya di pantai benar-benar bikin kami merinding karena pesonanya,” kata Novi Budihastuti, wisatawan asal Jakarta yang datang bareng keluarganya.

Gandrung-Sewu-5.jpg

Pergelaran seni ini dibuka dengan munculnya ribuan penari Gandrung dengan senyum yang khas dari bibir pantai. Gending tradisional yang rancak mengiringi gerak penari Gandrung yang berselendang merah menyala. 

Anas pun sangat bangga dengan kegigihan oara penari bersemangat menampilkan tarian selama 1,5 jam.

"Di tengah gempuran budaya global melalui media sosial, Gandrung Sewu merupakan bagian cara anak-anak untuk melestarikan budayanya, dan ini sebagai media edukasi sejarah, bukan semata-mata hanya untuk konsolidasi pariwisata saja tetapi sekaligus sebagai konsolidasi budaya, Ideologi sejarah Bangsa," tegas Anas.

Menjadi salah satu agenda tetap pariwisata daerah, Gandrung Sewu selalu tampil istimewa dengan tema-tema yang yang berangkat dari sejarah dan kisah perjuangan masa lalu. Tahun ini Panji-Panji Sunangkoro menjadi tema yang ditampilkan.

Edisi-Minggu-13-Oktober-2019-hal-14-gandrung-sewudeabfeaf102a5b1c.jpg

Tema ini mengisahkan perlawanan prajurit pahlawan Rempeg Jogopati yang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Mereka mendapat dukungan secara diam-diam dari Bupati Banywuangi pertama, Mas Alit. Namun, dukungan ini terendus oleh VOC, dan Mas Alit dipanggil ke Semarang.

Penjajah lalu melakukan langkah licik dengan menaikkan Mas Alit ke kapal berbendara VOC. Para prajurit yang sudah siap melakukan perlawanan di laut dengan membawa Panji Sunangkoro, begitu melihat kapal VOC melintas mereka langsung menyerang kapal tersebut tanpa tahu bahwa di dalamnya ada Mas Alit.   

Perlawanan gigih terhadap kolonial inilah yang divisualisasikan ribuan penari Gandrung dalam sebuah pagelaran seni kolosal ini.

Wisatawan mancanegara pun menyatakan kekagumannya dengan Festival Gandrung Sewu. “Sangat bagus sekali. Pantai yang bertaburan penari. Saya beruntung menyaksikan event ini,” ujar Tessa, turis asal Belgia. (*)

Jurnalis : Roghib Mabrur
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration