Kopi TIMES

Provokator Kalah Lagi

Provokator Kalah Lagi Moh. Syaeful Bahar Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso
Kamis, 10 Oktober 2019 - 10:07

TIMESINDONESIA, JAKARTATAK LAMA, mungkin dua atau tiga hari yang lalu, ada pesan WA masuk ke handphone saya, disertai foto. Foto Ustad Felix sedang jenguk Gus Miftah yang sedang sakit. 

Pesan tersebut tujuannya konfirmasi, apa benar Gus Miftah sakit. Saya segera mencari tahu, dari berbagai sumber, di media online, media cetak bahkan sampai di media sosial. Ternyata, hanya ramai di media sosial, tak terkonfirmasi di media mainstream. Gus Miftah sehat wal afiyat, foto yang beredar adalah kejadian beberapa bulan yang lalu. Artinya, foto yang viral tak semuanya benar, lebih banyak muatan provokasi, lebih banyak sisipan kepentingan dari pada fakta sebenarnya. Saya sendiri menyimpulkan, bahwa foto dan caption tersebut adalah provokasi yang sengaja dibuat dan disebarkan oleh para provokator jahat.

Saya tak sepenuhnya fokus pada foto, tapi pada caption yang menyertai. Berikut tulisan di caption "Walaupun sempat di bully pro kilafah, HTI, ujaran kebencian, radikal, pengajianmu dibubarkan dan engkau di persekusi,, Engkau tetap berbaik hati menjenguknya, barakallah ustad felix shiaw, dirimu meneladani Rasulullah SAW. Aku sedulurmu. Aku saudaramu. Kita semua satu Indonesia," 

Foto dan caption di atas jelas membawa pesan, pesan yang ditunggangi sebuah kepentingan. Apa kepentingannya? Konflik horisontal. Dengan caption itu, penulis, tepatnya sang provokator berharap ada cacian dan hinaan ke Gus Miftah.

Di FB, saya tengok, banyak sekali pembaca yang termakan, "kerasukan" provokasi di atas. Banyak yang langsung terpancing, menyanjung Ustad Felix dan menghina dan mencaci Gus Miftah, atau sebaliknya, menyerang Ustad Felix, menuduhnya sengaja menyebarkan foto dan caption tersebut demi meraup solidaritas pembaca padanya.

Ada yang hanya mengelus dada disertai komentar sanjungan pada Ustad Felix. "Ustad Felix menunjukkah ketinggian akhlaknya, seperti akhlak Rasulullah saw", begitu salah satu bunyi komentarnya.

Namun, ada yang mengomentari secara hati-hati, sembari mengingatkan pembaca yang lain agar melakukan konfirmasi dan klarifikasi atas kebenaran foto dan caption yang beredar.

Dari ketiga kelompok komentar ini, saya berkesimpulan, paling tidak ada tiga kelompok pembaca dalam konteks foto dan caption yang sedang viral ini, yaitu pembaca lugu, pembaca yang membabi buta dan pembaca cerdas.

Cara Membaca

Ketiga cara membaca di atas, sangat terkait dengan kemampuan dan kecerdasan seseorang dalam membaca teks dan konteks yang saling terpaut. 

Bagi yang lugu, berpotensi langsung termakan dan salah paham. Mereka membaca teks apa adanya. Mereka akan menarik kesimpulan bahwa Ustad Felix adalah sosok yang baik hati, rela memaafkan bahkan membantu orang yang telah berbuat dholim, sedangkan Gus Miftah adalah sosok yang angkuh (karena dituduh pernah membubarkan pengajian Ustad Felix), sangar, beringas, anti perbedaan dan ekslusif.

Bagi yang membabi buta akan langsung menarik kesimpulan, bahwa ustad Felix adalah sosok yang baik hati, sedangkan Gus Miftah adalah sosok yang beringas dan anti persaudaraan atas nama agama. Atau, pembaca yang langsung membela Gus Miftah dan mencaci Ustad Felix sebagai pihak penyebar hoax dan anti NKRI.

Berbeda dengan kedua cara membaca di atas, cara membaca yang ketiga, yaitu cara membaca cerdas, adalah pembaca yang tak gampang menarik kesimpulan dan berusaha sekuat tenaga melakukan konfirmasi dan klarifikasi. Kelompok ketiga ini berusaha secara fair menempatkan teks dan konteks dalam satu bingkai, mengaitkan teks dengan konteks, tak semata-mata membaca teks.

Sayangnya, kelompok pembaca ketiga ini masih tidak banyak, paling tidak, begitu yang saya amati dari beberapa komentar di FB atau pesan WA. Pembaca lebih senang langsung menyimpulkan sebelum melakukan klarifikasi dan konformasi atas berita yang sedang viral. 

Konfirmasi Gus Miftah dan Ustad Felix

Beruntung, Gus Miftah dan Ustad Felix langsung menanggapi dan memberikan klarifikasi. Seandainya tak ada konfirmasi langsung dari Gus Miftah dan Ustad Felix, mungkin saja foto dan caption ini akan terus menjadi polemik, terus melahirkan saling curiga, caci maki antar pendukung, saling bully. Itu sama dengan, tujuan provokator berhasil.

Diawali oleh klarifikasi Gus Miftah. Gus Miftah langsung komentar melalui akun instagram, bahwa foto dirinya bersama Ustad Felix adalah foto lawas, foto delapan bulan yang lalu, di saat Gus Miftah kecelakaan dan Ustad Felix datang menjenguk.

Gus Miftahpun menegaskan bahwa dirinya tak pernah membubarkan pengajian Ustad Felix. 

Meskipun, secar tegas, Gus Miftah menyatakan bahwa banyak perbedaan antara dirinya dengan Ustad Felix, namun itu tidak berarti bahwa ada masalah, ada permusuhan. Hubungan dengan Ustad Felix baik-baik saja. Perbedaan bukan menjadi alasan rusak persaudaraan, apalagi sampai saling menebar benih permusuhan.

Ustad Felix adalah aktivis HTI yang getol menyuarakan pentingnya sistem khilafah, sedang Gus Miftah, menolak. Gus Miftah, sebagaimana tokoh-tokoh NU lainnya menganggap NKRI adalah final. Pancasila adalah kesepakatan bernegara yang terbaik bagi bangsa Indonesia.

Gus Miftah menuduh ada pihak yang sengaja membenturkan dirinya dengan Ustad Felix. Kekecawaan Gus Miftah atas fitnah dan upaya adu domba tidak diekspresikan dengan serius dan marah-marah. Dia tidak datang ke kepolisian, dia tidak meminta polisi untuk mencari tahu siapa provokatornya, dia juga tidak mengancam akan mempidanakan sang provokator. Gus Miftah santai-santai saja, bahkan mendoakan para provokator diampuni dosanya.

Tak lama setelah konfirmasi dan klarifikasi Gus Miftah, Ustad Felix juga melakukan hal yang sama. 

Persis sama dengan Gus Miftah, Ustad Felix juga tak nampak terlalu pusing dengan foto dan caption yang menyudutkan Gus Miftah. Ustad Felix juga menanggapi santai, tak terpancing, bahkan menanggapi dengan guyonan. Dia ngajak Gus Miftah makan bersama, makan nasi kebuli, "Semoga Allah memaafkan yang buat salah paham, semoga Allah memaafkan kita semuanya.. menanti traktiran kebuli nya lagi Gus", begitu tulis Ustad Felix.

Pelajaran Utama; Cerdas Bermedsos

Hal terpenting dan menjadi catatan saya, provokator kalah lagi. Mereka tak sukses, tak berhasil memancing keributan dan membuat permusuhan. Gus Miftah dan Ustad Felix tak terpancing. Gus Miftah dan Ustad Felix menjadi tokoh kunci. Klarifikasi Gus Miftah dan konfirmasi Ustad Felix dengan seketika langsung membuat provokator KO (Knockout) dalam sekejap.

Kedua tokoh ini sadar bahwa jebakan fitnah terutama di dunia sosial selalu mengintai, karena itu, mereka menyikapi dengan cerdas dan hati-hati.

Paling tidak, ada tiga hal yang menarik dijadikan pelajaran dari kasus ini. Pertama, ada pihak-pihak yang secara terus menerus, serius, sistematis dan mungkin saja dengan dana yang besar, sedang memproyeksikan chaos di Indonesia. Kekuatan ini tidak ingin Indonesia damai dan tumbuh menjadi negara yang besar. Mereka juga tak ingin, Islam Indonesia yang dikenal ramah akan terus berkembang dan berhasil menutupi citra Islam yang kaku, kolot dan keras. Mereka tak ingin Islam dan umat Islam menjadi penopang utama NKRI.

Kedua, perbedaan pandangan, apalagi dalam dialektika negara dan agama adalah hal biasa. Para pendiri bangsa telah memperdebatkan hal ini. Ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam hal relasi agama dan negara sudah terjadi beratus-ratus tahun silam, dan tak perlu menjadi alasan permusuhan dan menghancurkan nilai-nilai persaudaraan. 

Khilafah yang diusung HTI, diperjuangkan oleh Ustad Felix jelas bertentangan dengan Pancasila. Gus Miftah berada di posisi menolak ide dan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Ustad Felix, namun perbedaan keduanya, tak menjadikan keduanya lalu bersitegang dan bermusuhan. Keduanya terlihat akrab, komentar Gus Miftah dan komentar Ustad Felix membuktikan keakraban itu. 

Ketiga, adalah metode melawan hoax dan para provokator. Guyonin aja, di buat santai, tanggapi dengan hal-hal yang lucu. Meskipun metode ini tak benar-bear baru, namun masih sangat ampuh melawan provokasi. Gus Dur adalah salah seorang tokoh yang kerapkali memakai jurus ini. Gus Dur berhasil melawan provokasi kekerasan dengan humor. Saya kira, cara ini sangat efektif.

Apa yang dilakukan oleh Gus Miftah dan Ustad Felix, yaitu melawan provokasi dengan candaan ini, perlu dikembangkan, sehingga, upaya provokator membakar amarah dan memancing kebencian dapat menguap dengan sendirinya. 

* Penulis Moh. Syaeful Bahar, adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration