Kopi TIMES

Resistensi Islam Formalis

Resistensi Islam Formalis Moh. Syaeful Bahar adalah Dosen UIN Sunan Ampel dan Pengurus PC NU Bondowoso
Minggu, 06 Oktober 2019 - 11:34

TIMESINDONESIA, SURABAYABARU-BARU saja, tersebar luas dengan cepat (viral) berita tentang penolakan (tak mengabulkan) dari pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terkait permohonan dari Forum Ukhuwah Islamiyyah untuk mempergunakan Kagungan Ndalem (KgD) Masjid Gedhe Keraton beserta halaman, Ndalem Pengulon, dan Alun-alun Utara sisi barat.

Penolakan tersebut tertuang dalam surat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kawedanan Hageng Panitrapura bernomor 0336/KH.PP/Suro.IX/WAWU.1953.2019. Surat yang dikeluarkan pada 28 September 2019 itu ditandatangani oleh GKR Condrokirono.

Seperti gencar diberitakan sebelumnya, kegiatan bertajuk 'Muslim United: Sedulur Saklawase' diinisiasi oleh Forum Ukhuwah Islamiyyah. Kegiatan ini sedianya akan ditempatkan di Yogyakarya, tepatnya di sekitar Kagungan Ndalem (KgD) Masjid Gedhe Keraton beserta halaman hingga ke Ndalem Pengulon, dan Alun-alun Utara sisi barat.

Kegiatan dimaksud direncakana akan digelar pada 11-13 Oktober 2019. Beberapa tokoh direncanakan hadir di acara tersebut, di antaranya adalah Ustadz Abdul Somad, Adi Hidayat, Bahtiar Nasir, Felix Siauw, Salim A Fillah, Ali Jaber, Ahmad Heryawan dan Arie Untung.

Bertolak dari penjelasan Pengageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono, sebagai perwakilan Keraton Ngayogyakarta, bahwa alasan penolakan atau tak mengabulkan permohonan tersebut adalah menjaga kondusifitas Yogyakarta.

Putri kedua Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X itu mengatakan bahwa, berbagai kerusuhan dan demonstrasi yang luas terjadi di mana-mana dikhawatirkan akan berimbas hingga ke Yogyakarta akibat terjadinya pengumpulan massa dalam jumlah besar.

Apapun alasan yang diberikan oleh pihak Keraton, berita penolakan tersebut telah menyita banyak pihak untuk tertarik dan ikut mendiskusikan, tak terkecuali adalah saya.

Forum Ukhuwah Islamiyah; Islam Formalis

Konsepsi Islam Formalis sebenarnya tak memiliki pengertian yang baku, namunpun demikian, telah banyak karya ilmiyah atau kajian yang membahas tentang Islam Formalis.

Hemat penulis, dari berbagai pengertian atau konsepsi yang disematkan, dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana, bahwa Islam Formalis adalah sebuah paham atau gerakan yang mengarah pada ekslusivisme Islam dan diekspresikan dalam bentuk gerakan politik. Kelompok Islam Formalis ini, cendrung menolak paham-paham yang memberikan tempat pada inklusivisitas.

Kelompok ini sangat teguh memegang ajarannya, namun di saat yang sama, mereka sulit memberi ruang untuk berbeda dalam perbedaan.

Beberapa tokoh yang direncanakan hadir dalam kegiatan Muslim United; Sedulur Saklawase di atas adalah beberapa nama yang dapat dikategorikan sebagai kelompok Islam Formalis. Ustad Abdus Somad (UAS), Bakhtiar Nashir dan Felix Siauw, adalah beberapa nama yang cukup kencang menggelorakan semangat Islam dalam kancah politik nasional. Mereka selalu saja membangun narasi dan logikanya dalam bingkai Islam sebagai sebuah gerakan besar dalam politik kekuasaan. Tanpa formalisme Islam, maka Islam akan gagal sebagai sebuah agama. Agama harus di"paksakan" dalam politik kekuasaan, negara harus tunduk pada agama. Salah satu kampanye yang paling santer mereka suarakan adalah sistem khilafah dalam tatanan bernegara, atau minimal, dalam bentuk NKRI Bersyariah.

Kelompok Islam Formalis ini cenderung tak peduli dengan realitas perbedaan yang nyata dan niscaya ada di Indonesia. Baik perbedaan agama, ras dan suku bangsa.

Menariknya, beberapa tokoh di atas memiliki background yang berbeda. Bukan hanya organisasi keagamaan, misal UAS yang mengaku pernah aktif di NU, Bahtiar Nasir yang Muhammadiyah dan Felix Siauw yang HTI, namun juga memiliki background paham keagamaan yang berbeda (madzhab fiqh).

UAS, jika benar adalah kader NU, atau pernah aktif di NU, akan cenderung Syafiiyah, dan menerima tiga imam madzhab lain, yaitu Malikiyah, Hanafiyah dan Hambaliyah.

Sedangkan Bahtiar Nasir, akan menolak mengikuti Imam empat madzhab di atas, sebagaimana yang dilakukan oleh UAS. Bahtiar Nasir akan menolak untuk melakukan taklid buta, sebagaimana yang selalu mereka tuduhkan ke NU. Kalaupun dia mengakui hujjah (pendapat) imam madzhab yang empat, namun menolak untuk bermadzhab.

Perbedaan antar UAS dan Bahtiar Nasir di atas, terutama dalam hal ubudiyah (tata cara beribadah), tak menghalangi mereka menyatu dalam satu ideologi, yaitu ideologi Islam Formalis.

Islam Formalis akan terus bergerak bersama, berjuang bersama untuk mengkampanyekan pentingnya Islam sebagai sebuah gerakan politik kekuasaan.

Gerakan Aksi Bela Islam yang berjilid-jilid, mulai dari gerakan anti Ahok hingga gerakan anti Jokowi adalah bukti, bahwa kelompok Islam Formalis akan terus bergerak dan, sementara waktu, akan melupakan dan membiarkan perbedaan di internal mereka.

Menyaksikan pola gerakan dan strategi kampanye kelompok Islam Formalis yang selalu mengandalkan massa yang besar sebagai kekuatan penekan, maka, alasan pihak Keraton yang ingin menjaga kondusifitas Yogyakarta dapat diterima dengan nalar sehat.

Apalagi, secara historis, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat lebih dekat dengan Islam Lokal, Islam yang menghormati tradisi dan kebudayaan lokal, atau Islam Nusantara.

Hal yang paling mudah dijadikan bukti adalah beberapa tradisi keagamaan yang bertahan hingga sekarang di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Semua itu menguatkan bahwa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sangat menghormati kebudayaan lokal dan menjunjung perbedaan sebagai sesuatu yang harus dihormati.

Misal, peletakan dua buah gamelan, Kiai dan Nyai Saketi di pintu masuk sisi selatan dan utara Masjid Gede Kauman adalah cara Islamisasi yang dipilih oleh Sultan-Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dengan meletakkan dua buah gamelan tersebut, masyarakat di sekitar Masjid yang belum memeluk Islam (animisme), akan tertarik mendekat dan masuk ke dalam masjid serta menjadi bagian dari Masjid Gede Kauman.

Begitu juga tradisi Satu Syuro. Tradisi yang sarat makna ini begitu dihormati oleh Keraton Ngayogyakarta dan juga masyarakat Jawa pada umumnya. Perayaan tahun baru Islam ini tidak selalu dibungkus dengan Islam ke Arab-arab an, tidak memakai nama satu Muharram, namun lebih banyak menunjukkan sisi lokalitas ke Jawa an, dengan tetap memakai nama satu Syuro.

Semua ini menunjukkan bahwa pilihan dakwah yang dilakukan oleh Sultan-Sultan di Keraton Ngayogyakarta adalah trategi dakwah yang tetap mempergunakan tradisi dan budaya lokal sebagai instrumennya. Akhirnya, model dakwah seperti ini nampak menjadi santun, damai dan halus. Bertolak belakang dengan model dakwah Islam Formalis yang cenderung kaku dan bahkan kadang intimidatif.

Mempersempit Ruang Gerak Islam Formalis

Apa yang dilakukan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat perlu mendapat apresiasi. Keberanian dan ketegasan yang ditunjukkan oleh pihak Keraton adalah contoh dari bagainana seharusnya menghadapi kelompok Islam Formalis ini. Sikap Keraton juga dapat dipahami sebagai sebuah peringatan (warning) bahwa kekuatan Islam Formalis dapat tubuh pesat dan berpotensi menjadi ancaman atas eksistensi Islam Nusantara yang sejak lama hidup dan berkembang di Indonesia.

Tidak hanya berpotensi menghancurkan Islam Nusantara yang telah terbukti berhasil menopang eksistensi Islam di Indonesia, namun, yang lebih mengerikan adalah berpotensi menghancurkan Keindonesiaan.

Islam Formalis akan menolak semua perbedaan terutama perbedaan atas dasar perbedaan agama. Paling tidak, mereka akan memaksakan dominasi atas nama mayoritas umat Islam di Indonesia. Hal ini, jelas bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila.

Menguatnya Islam Formalis akan menjadi sebab kelompok minoritas akan merasa terancam. Sangat mungkin, ekslusivisme Islam Formalis akan memancing kelompok minoritas di negeri ini memilih hengkang dan memisahkan diri dari NKRI.

Sekali lagi, apa yang dilakukan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pantas mendapatkan apresiasi dan pantas mendapat dukungan dari semua pihak.

Sudah waktunya memersempit ruang gerak kelompok ini. Semakin sempit ruang gerak meraka, semakin besar peluang Islam Ramah diterima dan tumbuh berkembang di masyarakat. Semakin banyak tempat menolak kehadiran tokoh-tokoh Islam Formalis ini, semakin besar peluang kita menjaga keutuhan bangsa ini. Semakin banyak forum-forum ilmiah menelanjangi kedangkalan Islam mereka, maka semakin laku Islam Rahmatan lil'alim di Indonesia. Amin....

* Penulis Moh. Syaeful Bahar adalah Dosen UIN Sunan Ampel dan Pengurus PC NU Bondowoso

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

Komentar

Registration