Kuliner

Uang Sepuluh Ribu, Makan Iwak Kali Sepuasnya di Warung Mak Ti Blitar

Uang Sepuluh Ribu, Makan Iwak Kali Sepuasnya di Warung Mak Ti Blitar Seorang pembeli tengah memilih deretan lauk pauk iwak kali di warung Mak Ti, Kamis (3/10/2019). (Foto: Sholeh/TIMES Indonesia)
Kamis, 03 Oktober 2019 - 17:25

TIMESINDONESIA, BLITARWarung Mak Ti memang sudah tak asing lagi terdengar oleh telinga masyarakat Blitar dan sekitarnya. Warung yang berada di Desa Jatinom Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar itu menyediakan aneka iwak kali (ikan sungai) sebagai lauk pauk utama.

Sajian menu tradisional khas desa seperti sayur lodeh tewel, lompong, pepaya muda juga disediakan. Mak Ti merupakan nama panggilan Ari pemilik warung yaitu Supiyati.

"Iwak kali saya goreng kering dan saya  bumbu berkuah seperti ikan bader, wader, jendil, dan ikan nila," jelas Supiyati, Kamis (3/10/2019).

Warung Mak ti terletak di pelosok pedesaan, namun warung itu tetap menjadi buruan utama para pecinta kuliner di Blitar Raya. Pengunjung yang makan di warung ini bebas mengambil makanan sendiri dengan nasi dan aneka lauk pauk yang telah disediakan.

"Yang saya jual di sini, ya, masakan ala desa atau kampung saja. Awalnya ya warung kecil terus tambah rame," urainya.

Mak Ti mengemukakan, ia membuka warung Mak Ti pada tahun 2000. Sebelumnya, ia bekerja sebagai juru masak di terminal Kota Blitar dan menerima pesanan makanan untuk hajatan di kampungnya. Kemudian ia membuka warung kecil kecilan di rumahnya.

Berkat resep sederhana yang ia terapkan dengan harga murah meriah dan lezat, warungnya semakin diminati banyak orang. Dari mulut ke mulut, informasi itu meluas hingga ke luar kampung bahkan sekarang terkenal se Blitar Raya.

"Di bagian depan warung juga saya sediakan lahan parkir yang cukup luas. Karena yang datang tidak hanya mobil kecil saja, tapi terkadang rombongan bus wisata," tambahnya.

Di warung Mak Ti, pembeli boleh mengambil makanan sepuasanya cukup dengan membayar Rp 10.000 per porsi dan Rp 2 ribu untuk segelas es teh manis. Tidak hanya itu, dengan harga segitu pembeli bebas mengambil berapapun lauk iwak kali.

"Tujuan saya tidak muluk-muluk, yang penting tidak rugi, dan cukup makan buat anak-anak, serta bisa berbagi dengan warga yang ada di sini," tutur Mak Ti. (*)

Jurnalis : Muhammad Sholeh
Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Blitar

Komentar

Registration