Gaya Hidup

LGBTI dan Era Digitalisasi

LGBTI dan Era Digitalisasi Ilustrasi LGBT.
Senin, 23 September 2019 - 03:21

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Revolusi industri 4.0 telah di depan mata. Masyarakat dituntut berpikir kreatif dan inovatif agar mampu bersaing meningkatkan kualitas dan peluang usaha di era digitalisasi.

Saat ini setiap orang rata-rata menghabiskan sepertiga waktu dalam kehidupan sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya. Semua elemen masyarakat bergerak bersama dan hidup dalam tagar yang saling terhubung ke seluruh penjuru dunia. 

Tak terkecuali kelompok marjinal seperti kawan lesbian, gay, transgender dan interseks (LGBTI) di Indonesia yang berpotensi mengalami diskriminasi di lingkungan kerja, bisa menangkap peluang tersebut untuk berkarya tanpa batas. 

Seperti kita ketahui, menjadi LGBTI di Indonesia bukan perkara mudah. Kendati sebetulnya tidak lantas membuat mereka terisolir dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagi komunitas LGBTI, pergaulan menjadi tantangan serius ketika muncul stigma negatif tentang orientasi seksual yang berujung menyerang kehidupan mereka di masyarakat. Berbagai perspektif tentang fenomena sosial tersebut mengundang pro kontra. 

Sementara perlindungan atas diskriminasi kelompok marjinal LGBTI di Indonesia tergolong sangat rapuh. Sebagian besar dari mereka kemudian akhirnya menutup diri dalam pergaulan yang lebih luas. 

Saat ini masih belum ada undang-undang yang melindungi individu dari diskriminasi berdasarkan identitas seksual atau gender, meskipun masih ada perjuangan yang berkelanjutan untuk mencoba dan mengubahnya. 

Tingkat pengangguran dan pengisoliran untuk orang-orang LGBTI juga lebih tinggi daripada rekan-rekan heteroseksual mereka. Terlebih bagi orang-orang transgender dan gender yang dianggap tidak sesuai.

Khanis Suvianita, Kandidat Doktor di ICRS Universitas Gadjah Mada menerangkan jika teknologi lewat revolusi industri 4.0 memberi kesempatan besar kepada LGBTI untuk menjadi lebih visible.

Namun juga menjadi tantangan karena tidak semua orang memahami tentang LGBTI. Pengetahuan tentang keragaman seksualitas itu masih tabu dibicarakan bahkan oleh kalangan intelektual. 

Selain itu, teknologi 4.0 ini juga memudahkan orang saling terhubung karena jarak, waktu dan ruang menjadi 'hilang'. 

“Sehingga semua menjadi sangat cepat di antara kawan-kawan yang menggunakan teknologi ini. Percepatan ini kadang dianggap sebagai kebablasan oleh mereka yang tidak memahami LGBTI. Ada yang menyatakan pengaruh buruk internet, pengaruh luar, dan sebagainya,” terang Khanis, Minggu (22/9/2019).

Sementara di sisi lain, teknologi ini membuat orang berani memasukkan LGBTI dan kelompok-kelompok marjinal untuk angkat bicara.

“Seolah dunia yang lain tapi sebenarnya tidak dunia lain juga. Karena ini seperti Matrik and Avatar,” tambahnya.

Dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, mereka mengaku cukup nyaman bersahabat dengan lesbian namun dengan batas yang wajar. Bukan karena alasan perbedaan orientasi seksual. Menurut beberapa kalangan, faktor utama adalah menjaga perasaan pasangan lesbian yang selama ini identik memiliki rasa kecemburuan berlebihan. 

Ike (nama samaran) misalnya, ia mengawali sebuah persahabatan cukup dekat dengan seorang lesbian dan pasangannya. Saat pertama kali mengetahui hubungan itu, ia memang belum terbiasa. Seiring berjalannya waktu, Ike  mulai memahami dan justru melihat sisi lain yang jarang dimengerti oleh kebanyakan orang.

“Mereka lebih smart dalam urusan cinta, dan punya pandangan lain tentang relationship. Mereka juga lebih terbuka dengan orang-orang yang paham dengan kondisinya, mereka lebih dewasa dan cara pandangnya berbeda dengan kita pada umumnya,” ungkap Ike.

Menurutnya, kawan LGBTI (lesbian) lebih lebih easy going menanggapi ocehan orang karena mereka berangkat dari ketidak nyamanan.

“Jadi kondisi apapun mereka buat nyaman-nyaman saja,” sambungnya.

Meskipun dalam framing media negeri ini terkesan jauh dari orang-orang ramah terhadap LGBTI, namun bagaimana sebenarnya kawan LGBTI menjalani kehidupan mereka dalam keseharian dan melihat peluang era revolusi industri 4.0 ini.

Untuk mengilustrasikan data tersebut, penulis berbicara dengan dua orang lesbian tentang pengalaman mereka mulai dari pergaulan di lingkungan hingga bagaimana memanfaatkan sosial media dalam kehidupan. 

Jauh dari apa yang dibayangkan oleh framing media selama ini. Kawan LGBTI sebenarnya masih mendapat ruang untuk berkreasi dan bersosialisasi secara layak.

Mereka bahkan mengaku tidak pernah mendapat perlakuan buruk selama bergaul dengan masyarakat. 

Penulis mengunjungi salah satu wanita yang sudah cukup lama bekerja di sebuah showroom dan kini merintis bisnis jual beli tas branded di akun instagram dan platform Unicorn.

Berdasarkan pengalaman dalam konteks berbeda serta mengeksplorasi aspek-aspek positif mereka, penulis dapat menangkap poin penting berbagai kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Zee (nama samaran) seperti layaknya wanita lain di tempat kerja. Gadis berpenampilan tomboi tersebut merupakan penyuka sesama jenis (lesbian).

Sejak kuliah pada salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, ia termasuk mahasiswa yang cerdas. Penulis bertemu di sebuah lingkungan kampus dan awal perjumpaan tiga tahun silam menjadi sebuah pertemanan yang cukup erat. 

Zee pernah bekerja di sebuah diler mobil impor. Namun ia akhirnya memilih keluar dan mengurus bisnis bersama pasangannya dalam media digital. 

Digitalisasi seperti halnya makanan bahkan candu bagi tiap kalangan. Kelahiran sosial media dimanfaatkan secara baik oleh Zee sebagai peluang menghasilkan uang. Penulis memiliki waktu untuk berbincang terakit kehidupan pribadi hingga beberapa hal. 

Apakah ia keluar karena mendapat diskriminasi di lingkungan kerja dan sebagainya. Ia mengaku tidak pernah mendapat diskriminasi di lingkungan kerja.

“Saya lebih nyaman berada di lingkungan kerja yang open minded (berfikiran terbuka). Terus terang selama ini saya belum pernah mendapat perlakuan buruk. Saya merasa lebih baik dan semua biasa saja. Normal seperti biasanya, dengan rekan kerja yang open minded itu lebih baik,” kata Zee.

Selama menjalin persahabatan, ia tidak pernah mengenalkan diri berdasarkan orientasi seksual. Meskipun dalam beberapa kali kesempatan Zee sering mengajak pasangannya untuk hang out bersama.

“Saya berteman dengan siapa saja tidak peduli latar belakang mereka. Orientasi seksual bukan menjadi teror bagi saya. Saya memperkenalkan diri sebagai pribadi saya sendiri bukan berdasar orientasi seksual,” tambah Zee.

Kendati demikian, Zee mengaku lumrah jika di Indonesia hubungan ini merupakan pro kontra. 

“Sewajarnya ada yang pro ada yang kontra ada juga yang nggak peduli soal orientasi seksual dan yang penting aku asik,” cerita Zee.

Namun siapa sangka jika ternyata ia lebih menyukai membangun hubungan di dunia nyata ketimbang dunia maya. Akun instagram yang ia miliki hanya ditujukan sebagai ladang bisnis.

“Karena secara personal saya kurang suka media sosial. Malas kalau harus update, sosial media buka favorit saya. Saya menyukai dunia nyata dan sejauh ini sangat nyaman,” urai Zee.

Kedua, penulis mengajak berbincang seorang kawan lesbian lain, Glad yang baru saja menginjak usia 20 tahun. 

Berbeda dengan Zee, Glad justru sangat antusias berselancar di dunia maya. Bukan tanpa sebab, karena ia menjadi role model netizen dengan hampir 81,8 ribu pengikut di Instagram. 

Glad telah aktif bermain Instagram sejak empat tahun silam. Selain sebagai sarana aktualisasi diri, ia juga mendapat keuntungan dengan berbagai endorse.

Kepada penulis, Glad mulai bercerita awal mula ia membangun bisnis dan menjadi influencer melalui konsistensinya tersebut. 

“Jujur awalnya aku main Instagram layaknya orang biasa, posting foto, update story dan lainnya,” kata Glad membuka percakapan.

Meskipun dalam beberapa postingan dan Insta Story ia kerap berbagi momen manis bersama pasangan lesbiannya, Glad tampak tidak canggung. Bahkan di kolom komentar ia sering menuai tanggapan pengikutnya. 

“Dan aku nggak paham sampai sekarang justru yang buat orang lain interesting and then they're following me it's because i'm a part of "LGBT" mungkin itu ketertarikan sendiri untuk para followersku, i don't even know seriously,” ungkapnya berbinar.

Glad menunjukkan diri sebagai pribadi yang ceria, menginspirasi melalui kebaikan hati dan intens menjalin komunikasi lewat beberapa bagan yang ia lontarkan. 

Ia terus membangun sisi positif, hingga menarik ribuan followers dari berbagai kalangan. 

But then one day, aku inget banget, pertama kalinya aku siaran langsung di Instagram, viewersku hampir 3000 orang, dari situlah mulai lebih banyak lagi yang follow account Instagramku dan sampai sekarang ini,” katanya dengan ekspresi riang.

Peran followers merupakan bagian terpenting. Glad tetap keep on track kendati ia tak menampik pro kontra LGBTI namun Glad menanggapi dengan bijak.

“Mereka sangat berarti bagiku. Mungkin banyak pro dan kontra, aku sangat mengerti itu, tapi di balik itu semua, aku nggak akan ada di titik sekarang tanpa adanya peran mereka juga,” katanya. 

Kedekatan hubungan tersebut ia tampilkan dalam sebuah Question and Answer (Q n A) di Insta Story. Kadang ia harus rela bangun semalaman menyisakan waktu untuk menjawab satu per satu pertanyaan mulai dari sekedar masalah pribadi, rahasia kecantikan, atau perihal hubungan dengan kekasih. 

“Aku deket sekali dengan mereka kok, makanya aku sering buat Q n A di Instagram untuk jawab pertanyaan mereka, simple things! Cuma kan ya nggak bisa deket sama mereka semua, kurang lebihnya ada 80 ribu orang. Tapi aku selalu berusaha untuk memberikan positif vibes untuk semua followersku sih,” ujarnya penuh keceriaan.

Selain pengalaman menyenangkan, Glad juga pernah mendapat pengalaman tidak enak atas komentar netizen. Namun ia mengamini sebuah pepatah bahwa semakin tinggi pohon maka semakin kencang juga angin menerpanya. 

“Baik buruknya komentar followersku semua aku terima, karena mereka bebas untuk berkomentar. Hanya bagaimana aku ambil yang positif, and leave the negative behind. But i still love them too (for all of my haters out there),” paparnya mencurahkan isi hati. 

Komentar miring tersebut justru biasanya terkait kepribadian low profile Glad yang dianggap sebagai pencitraan. Seakan selebriti profesional, Glad tak peduli. Ia memegang komitmen mengambil dukungan positif untuk terus membangun karirnya dan memotivasi yang lain. 

“Intinya jadi diri sendiri, and i love myself more than anythings! Selebihnya mereka bisa menilai,” tambahnya.

Bahagia dan ceria. Kehidupan Glad di dunia maya ternyata tak jauh beda dengan kesehariannya. Apapun yang terjadi kuncinya ia selalu bersyukur. 

“Mungkin karena aku selalu menerapkan arti dari bersyukur kali ya, jadi apapun aku syukuri, so i'm always happy and forever grateful for everythings i have in my life,” tandasnya.

Dukungan kekasih dan keluarga merupakan salah satu bagian penting dalam hidup Glad. Kehidupan baginya bukan sekedar tentang materi, pendidikan tinggi atau sebuah kesempurnaan. Namun menjadi diri sendiri dalam kesederhanaan sikap dan berbagi dalam kehidupan kepada setiap orang.

A meaningful life for me is not being rich, highly educated, or being perfect. It's abour being real! Being humble, being able to share ourselves and touch the lives of others and just let life happen,” ungkapnya penuh syukur.

Catatan Glad (20)

Ya ampun, cinta itu cinta !!!! Aku hanya mencoba menjadi diriku dan menjalani satu-satunya hidupku. Dan biarkan aku memberitahumu, percayalah padaku bagian tersulit tentang keterbukaan ke keluargamu atau teman-teman, itu keluar untuk diriku sendiri, begitu kamu menerima diri sendiri, persetan apa yang ada di dunia selalu ada gunanya menjadi pembenci dan orang yang ingin menyeretku ke bawah. 

Tetapi biarkan mereka mencoba, kita adalah siapa kita dan mereka tidak dapat mengubahnya dan bahkan jika saya mencoba untuk mengubah saya tidak akan benar-benar bahagia menjalani kehidupan yang berpura-pura, ini bukan omong kosong karena ini adalah hidup kita dan kita semua harus hidup dan bangga dengan keyakinan !!! 

Dalam keseharian, sosial media memberi banyak ruang untuk berinteraksi dengan masyarakat secara luas. Tak jauh beda saat Glad harus menjalani hidup di dunia nyata. Semua mengalir dan harmonis. Banyak support positif tanpa henti. Baik bagi karir maupun hubungan asmaranya.

“Sejauh ini 85%, followers ku tuh baik-baik banget dan malah jarang banget yang nyinyir. Jika 15 persen nyinyir aku juga udah kebal banget meskipun kadang gemas, tapi ya nggak dimasukin ke dalam hati, toh ya buat apa juga,” tambahnya.

Meskipun demikian Glad mengakui jika beberapa hal masih menjadi tantangan bagi dirinya ke depan dalam melangkah. Terutama saat menjadi publik figur. Ia juga berencana menyiapkan materi untuk terjun sebagai You Tuber dengan konten bermutu. Karena ia mengaku belum ada keinginan untuk bekerja dalam lingkungan yang ketat soal waktu. 

“Tempat kerja yang ideal agak susah sih ngejelasinnya. Karena tiap kita beda orientasi. Ada yang kerja nyari uang atau gaji, ada yang kerja nyari suasana menyenangkan. Pada intinya, lingkungan atau tempat kerja yang ideal adalah lingkungan di mana kita dapat tumbuh dan berkembang. Mau banget bikin channel You Tube mungkin nanti masih bingung kontennya mau buat konten apa,” pungkasnya.

Bagi Zee maupun Glad, memiliki orientasi seksual minoritas di Indonesia dengan segala problematikanya, bukan sesuatu yang dianggap luka karena stigma. Mereka terus berkarya, melanjutkan cita dengan dukungan dari orang-orang terdekat bahkan kalangan lebih luas. Dari sosial media, mereka mendapat pelukan hangat tanpa sekat. Keduanya berharap dunia semakin terbuka untuk menerima mereka bergaul dan membangun bisnis bersama. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Registration