Peristiwa - Daerah

Seni Pertunjukan Tradisional Lamongan Mempesona Duta Besar Negara Sahabat

Seni Pertunjukan Tradisional Lamongan Mempesona Duta Besar Negara Sahabat Duta Besar negara sahabat berfoto bersama setelah pagelaran Sendratari Jaka Mada di Special Cultural Event, di TMII Jakarta, Sabtu, (21/9/2019). (FOTO: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan for TIMES Indonesia)
Sabtu, 21 September 2019 - 23:47

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Seni pertunjukan tradisional Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mampu mempesona Duta Besar negara sahabat yang datang di Special Cultural Event atau Paket Acara Khusus Pesona Budaya Lamongan, di TMII Jakarta, Sabtu, (21/9/2019) malam WIB.

Pagelaran Tari Kiprah Balun yang membuka acara Paket Khusus Pesona Budaya Lamongan di TMII Jakarta ini, berhasil memukau Duta Besar dari Bosnia Herzegovina, Tunisia, Sri Lanka, Belarusia, Serbia Montenegro, Rusia, Swiss, Maroko, USA, Republik Ceko, dan Republik Korea.

Jakamada-Lamongan-2.jpg

“Suatu kehormatan dan juga penghargaan bagi Kabupaten Lamongan bisa tampil di depan Duta Besar negara sahabat,” ucap Yuhronur Efendi, Sekkab Kabupaten Lamongan.

Tari Kiprah Balun yang merupakan pembuka pertunjukan yang mulanya penari berias secara langsung diatas panggung pentas, memiliki karakter gerak gemulai namun tegas dan gagah.

Jakamada-Lamongan-3.jpg

Selain Tari Kiprah Balun, budaya tradisional asli Lamongan selanjutnya yang sukses menjadi daya tarik para Duta Besar negara sahabat adalah Tari Boran. Tari kreasi ini mengangkat sisi kehidupan para penjual Sego Boran di Kabupaten Lamongan dalam menjajakan dagangannya dan berinteraksi dengan pembeli.

Sego Boran yang memiliki ciri khas boran sebagai tempat nasi dengan sambal khas beserta lauk ikan sili, kotok, pletuk, peyek, gimbal, dan empuk ini, menggambarkan kesabaran, gairah dan semangat serta ketangguhan dalam menghadapi ketatnya persaingan dan beratnya tantangan hidup untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Selanjutnya, pagelaran Sendratari Jaka Mada menjadi pagelaran budaya Lamongan yang membuat Duta Besar negara sahabat dan tamu undangan terbelalak. “Duta Besar dan tamu yang hadir, rata-rata baru mengetahui kalau sosok Gajah Mada yang fenomenal tersebut lahir dan dibesarkan di Lamongan,” katanya seusai memaparkan potensi Kabupaten Lamongan.

Jakamada-Lamongan-4.jpg

Dikisahkan, Jaka Mada adalah putra dari seorang selir bernama Dewi Andongsari, yang diusir dari istana karena dikhawatirkan menjadi pewaris tahta kerajaan, hingga tiba di hutan Cancing Modo Lamongan, dengan ditemani hewan peliharaan kesayangannya, kucing dan garangan.

Jaka Mada lahir, hidup dan tinggal di sebuah pedesaan layaknya pemuda desa lainnya dengan menjadi penggembala kerbau. Di masa mengembala itu, Jaka Mada bercita cita menjadi prajurit Majapahit karena sering melihat
iring-iringan prajurit Majapahit melintas desa itu.

Cita cita Jaka Mada pun akhirnya tercapai, dan karirnya terus menanjak, sampai mampu menumpas pemberontakan yang dipimpin Ra Kuti, yang mengantarkannya menjadi Patih Gaja Mada. Pemuda Desa Cancing itu menjadi tokoh besar di kerajaan Majapahit hingga menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapa-nya.

Di depan para Duta Besar negara sahabat dan tamu Ia menyatakan bahwa budaya tradisional Lamongan dapat dilihat sebagai showcase keberagaman yang ada Indonesia dengan berbagai potensi lainnya. “Lamongan memiliki potensi penunjang yang besar di sektor pariwisata dan UMKM,” ujarnya.

Jakamada-Lamongan-5.jpg

Lebih lanjut Yuhronur juga membeberkan, Lamongan memiliki potensi yang besar di sektor lainnya. “Lamongan berpotensi untuk pengembangan investasi di sektor maritim, pertanian dan manufaktur,” ucapnya.

Menurut Yuhronur, Special Cultural Event ini menjadi ajang untuk memamerkan dan mempromosikan aneka produk UMKM khas Lamongan. Pengunjung booth Lamongan pun menunjukkan minat dan ketertarikan untuk melihat dan membeli aneka produk kerajinan khas Lamongan yang dipamerkan dan ditawarkan. 

Bahkan, Special Cultural Event yang terselenggara sejak tanggal 20-21 September 2019, menjadi momen warga asal Lamongan yang hidup di perantauan untuk mengobati kangen pada kampung halamannya. “Warga Lamongan membeli produk produk unggulan sebagai wujud kangen pada kota tercinta,” kata Yuhronur. (*)

Jurnalis : Ardiyanto
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Lamongan

Komentar

Registration