Pendidikan

Arsitektur Uinsa Gelar Simposium Nasional Pesantren

Arsitektur Uinsa Gelar Simposium Nasional Pesantren Suasana acara Simposium Nasional Pondok Pesantren di Ruang Amphiteater Lt. 2 Gedung Twin Towers, Rabu (18/9/2019). (FOTO: Istimrwa)
Rabu, 18 September 2019 - 21:50

TIMESINDONESIA, SURABAYA – UIN Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya menggelar Simposium Nasional Pondok Pesantren di Ruang Amphiteater Lt. 2 Gedung Twin Towers, Rabu (18/9/2019).

Tema yang diangkat adalah "Sinergi dan Kolaborasi Pengembangan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Dalam Mendukung Pencapaian Suistainable Development Goals/SDGs". 

Uinsa-2.jpg

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Hadir sebagai narasumber yaitu Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan dalam negeri KH. Abdul Ghofar Rozin, MEd yang juga ketua umum Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PBNU, Kasubdit Sarana dan Prasarana Direktorat PTKI Kemenag Ruchman Basori, SAg, MAg, serta Akademisi dan Peneliti bidang arsitektur dari ITS  Ir. H. Muhammad Faqih, MSA. PhD. Kegiatan ini dihadiri sedikitnya 100 Pondok Pesantren di lingkungan RMI.

Rektor UINSA, Prof. H. Masdar Hilmy, S.Ag., MA., Ph.D., dalam kesempatan ini memberikan pesan agar simposium mampu mendorong munculnya kegiatan yang konkrit. 

“Suatu karya nyata yang terukur, terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) untuk kemaslahatan dalam bidang pengembangan desain dan perencanaan pengembangan pondok pesantren,” ujar Prof. Masdar, yang juga Dewan Pakar Lembaga Pendidikan Tinggi NU Jawa Timur.

Kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan nota kerjasama antara Rektor UINSA dengan Ketua RMI Pusat, serta perjanjian kerjasama dibidanag pengembangan pondok pesantren antara Dekan Fak. Sains dan Teknologi UINSA dengan Ketua RMI Jawa Timur. K.H. Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed. (Gus Rozin).

Kerjasama dalam menghadapi era baru dalam konteks revolusi industri 4.0, membuat kondisi pesantren ataupun lembaga pendidikan harus berubah. 

“Walaupun saya kira dalam konteks revolusi industri 4.0., fisik saja tidak cukup. Tetapi belum terlambat untuk memulai, berusaha untuk mengejar ketertinggalan. Bagaimana supaya ada support yang sistematis, masif, dan terstruktur untuk membangun fisik,” ujar Gus Rozin.

Gus Rozin juga berharap, bahwa MoU dengan UINSA tidak sekedar berhenti dalam ceremonial. 

“Maka kemudian, kami akan berperan sebagai pendobrak, alarm, sekaligus terus-meneus mengingatkan apa yang sudah dalam tahap perjanjian atau belum dan apa yang bisa kita sajikan,” tukas Gus Rozin.

Dalam kesempatan selanjutnya, KH. Agus Zaki Hadzik, Ketua RMINU Jawa Timur menyampaikan bahwa adanya kerjasama dengan FST UINSA, salah satu poin yang akan segera ditindaklanjuti adalah pembuatan Sistem Informasi untuk tata kelola administrasi perkantoran bagi Pesantren di Jawa Timur. 

“Sehingga walapun pesantren itu ada puncak gunung, tetap bisa update,” ujar Gus Zaki-sapaan akrab KH. Agus Zaki Hadzik. 

Ruchman Bashori dari Kasubdit Sarana dan Prasarana Direktorat PTKI turut menjelaskan fungsi Kementerian Agama RI tentang kebijakan pengembangan sarana dan prasarana pondok pesantren, yaitu Rekognisi, Regulasi dan Fasilitasi.

Usai ceremony sambutan dan penandatanganan MoU, kegiatan pun dilanjutkan dengan Simposium Nasional bersama narasumber Gus Rozin, Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag.

Hadir pula memberikan materi Ir. Suci Purnomo, M.M., Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Provinsi Jawa Timur. Simposium ini kemudian dilakukan fasilitasi diskusi yang dipimpin oleh, Ir. Muhammad Faqih, MSA., Ph.D., Akademisi dari Departemen Arsitektur ITS Surabaya. 

Simposium berjalan lancar dan para peserta menyambut dengan sangat antusias ini dimoderatori Abdulloh Hamid, M.Pd Dosen Fakultas Saintek UINSA yang juga Pengurus RMI PBNU.

Kesimpulan simposium Uinsa menekankan pentingnya kolaborasi lembaga pendidikan dengan pesantren, dalam hal perencanaan dan pengembangan untuk mewujudkan Sustainable Development Goals. “Dalam hal desain arsitektur, kita punya khas desain arsitektur Islam Nusantara”, papar Mantan Wakil Rektor ITS ini. (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration