Olahraga

Game Online Ramai Dilarang, Banyuwangi Malah Bikin Festival E-sport Competition 2019

Game Online Ramai Dilarang, Banyuwangi Malah Bikin Festival E-sport Competition 2019 Perhelatan Banyuwangi E-sport Competition 2019 di Gedung Wanita Paramitha Kencana. (Foto: Roghib Mabrur/TIMES Indonesia)
Rabu, 18 September 2019 - 20:57

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Banyak kalangan dan beberapa daerah ramai-ramai melarang permainan game online, karena dinilai banyak dampak buruknya daripada baiknya. Namun, di Banyuwangi, Jawa Timur, game online malah dibuat festival e-sport Competition 2019 bertempat di Gedung Wanita Paramitha Kencana, Banyuwangi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh pemerintah kabupaten Banyuwangi bersama perusahaan elektronik DELL untuk mewadahi para anak milenial yang eranya memang menggunakan digital semua.

Menurut Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Banyuwangi Budi Santoso kegiatan e-sport competition 2019 ini merupakan ajang untuk mengakomodir anak-anak milenial Banyuwangi yang hobi bermain game online.

Banyuwangi-E-sport-Competition-2019-b.jpg

"Bukan Banyuwangi aja ya, tapi dimana-mana anak milenial kan kalau mengikuti perkembangan zaman cepat sekali, kita tidak bisa membendung dan menghentikan tren ini, tetapi kita bisa mengarahkan saja, lah ini peran pemda untuk mengarahkan anak milenial ini dalam kegiatan yang produktif dan positif," ucap Budi. Rabu (18/06/2019).

Budi menambahkan bahwa sebelum acara Banyuwangi E-sport Competition 2019 dilaksanakan, ia bersama timnya telah melakukan sosiaslisasi dan proses seleksi ke sekolah-sekolah maupun ke perguruan tinggi Banyuwangi dalam rangka memberikan edukasi perspektif positif bermain game online.

"Hari ini masuk semifinal dan final. Awal pendaftaran yang minat banyak sekali, sekitar 2000.an lebih, tetapi sebelumnya kita lakukan seleksi dulu, dengan ada 6 kategori game online yang jumlah peserta masuk semifinal sebanyak 271 meliputi peserta dari sekolah dan mahasiswa," ungkapnya.

Rata-rata perwakilan tiap-tiap sekolah dan perguruan tinggi bisa mengirimkan lebih dari satu tim dan usai bersosialisasi di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, tanggapannya sangat bagus.

Budi menjelaskan secara infrastruktur di Banyuwangi ini seluruh desa sudah terhubung dengan jaringan fiber optik, apalagi di kota Banyuwangi sendiri banyak titik-titik wifi gratis.

"Banyuwangi sendiri free wifi ini juga banyak, artinya jangan sampek anak-anak ini kalau tidak diarahkan akan justru ke arah yang negatif. Anak SMA ini logikanya sudah bisa mengambil keputusan sendiri atau sudah dewasa, apalagi sudah kuliah mereka tidak bisa dilarang, pada intinya kita mengarahkan yang positif," tutur Budi.

Banyuwangi-E-sport-Competition-2019-c.jpg

Sementara itu, salah satu peserta e-sport competition Rakha Bavitio Satria siswa kelas sepuluh SMA 1 Giri, Banyuwangi mengungkapkan rasa senangnya dapat mengikuti ajang ini, lantaran hobi yang ia tekuni selama ini tersalurkan secara profesional.

"Saya juga ikut olah raga lain, tapi main game ini hobi saya, jadi saya ikutan dan cukup terbantu dengan kegiatan ini. Saya berharap game online itu gak dipandang sebelah mata, banyak orang menganggap game online itu banyak negatifnya! Lupa waktu!..., itu sebenarnya tergantung pribadi orangnya masing-masing, bukan karna salah game.nya, yang penting intinya kita bisa atur waktu," lantang Rakha peserta kategori PUBG. 

Banyuwangi E-sport Competitions 2019 dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 18-19 September 2019, dengan terdapat 6 kategori game online dan total peserta sebanyak 271 peserta terbagi dalam Arena of Valor (AOV) sebanyak 51 peserta, Mobile Legend sebanyak 79 peserta, Counter Strike Global Offensive (CSGO) sebanyak 11 peserta (final), Defense of the Ancients (DOTA 2) sebanyak 12 orang (final), PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) sebanyak 63 peserta dan Free Fire sebanyak 55 peserta.(*)

Jurnalis : Roghib Mabrur
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Banyuwangi

Komentar

Registration