Selasa, 17 September 2019
Peristiwa - Daerah

Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan, Tertua dan Bersejarah di Blitar

Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan, Tertua dan Bersejarah di Blitar Kamar Santri berupa Joglo di Pondok Pesantren Nurul Huda yang masih dipertahankan hingga sekarang. ( Foto: Sholeh/TIMES Indonesia)
Rabu, 11 September 2019 - 19:18

TIMESINDONESIA, BLITARPondok Pesantren Nurul Huda di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar merupakan pondok pesantren tertua dan paling bersejarah di Blitar. Pondok Pesantren Nurul Huda didirikan Oleh Syaikh Abu Hasan pada tahun 1819.

Haikal Asrafi menuturkan, generasi keenam Syaikh Abu Hasan bahwa Syaikh Abu Hasan merupakan salah satu putra dari seorang guru agama yang alim dari Sleman. Separuh hidupnya beliau pergunakan untuk menuntut ilmu agama islam di Mamba’ul Oeloem, salah satu Madrasah Diniyyah yang dimiliki oleh Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat pasca perjanjian Gianti 1775.
 
 "Pada tahun 1819 Syaikh Abu Hasan berangkat melaksanakan titah dakwah menyebarkan agama Islam di wilayah timur, dan dipilihlah daerah Kabupaten Blitar yang pada waktu itu dipimpin oleh R. Aryo Blitar (Keturunan dari Raja Mataram)," ungkapnya.

Atas kecerdasan dan pengamalan ilmunya, diutarakan Haikal, kemudian Syaikh Abu Hasan diangkat menjadi salah satu dari beberapa penghulu keraton (Kyai Keraton). Pada usia 29 tahun, sebelum melaksanakan dakwah, beliau dianugerahi tombak Dwi Sula oleh guru besar Haryo Diponegoro atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

"Sampai saat ini, Tombak Dwi Sula masih kami simpan dan dipergunakan setiap Jumat untuk tongkat mimbar Sholat Jumat," tambahnya.

Setibanya di Blitar bersama beberapa santri, keluarga, sanak saudaranya dan ahli supranatural bernama Ki Manto Wiro, Syaikh Abu Hasan singgah pertama kali di Desa Sumberdiren dan menetap beberapa hari disana, kemudian beliau pindah ke Desa Kuningan yang dahulu disebut Kawuningan.

"Di Desa Kuningan inilah beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren Nurul Huda bersama warga sekitar dan para santrinya," urainya. (*)

Jurnalis : Muhammad Sholeh
Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Blitar

Komentar

Registration