Selasa, 17 September 2019
Kopi TIMES

Muharram dan Realita Hijrah Kaum Milenial

Muharram dan Realita Hijrah Kaum Milenial Kukuh Santoso (Grafis: TIMES Indonesia)
Rabu, 11 September 2019 - 09:26

TIMESINDONESIA, MALANGHIJRAH merupakan fase penting seseorang untuk memperbaiki diri. Hijrah yang secara harfiah berarti “meninggalkan” merupakan roh yang menjiwai gerakan seorang Muslim. Hijrah kemudian sering kali dimaknai sebagai perpindahan atau peralihan dari satu ke lain kondisi.

Terkadang maraknya hijrah kaum milenial mengusung semangat beragama melalui perubahan dan rekontruksi penampilan, wawasan, keilmuan dan nilai-nilai sosial kebudayaan yang hari-hari ini ramai menjadi trend kaum milenial di media sosial atau dalam fenomena kehidupan sosial ini terkadang mengabaikan nilai-nilai muamalah yang berkembang di masyarakat dan nilai-nilai sosial kebudayaan di masyarakat. Sehingga hijrah hanya dipahami sebagai perubahan ideologi, aqidah dan ibadah. Fenomena hijrah ini banyak melanda kaum muda, pelajar, mahasiswa dan kalangan profesional.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Fenomena hijrah yang berkembang di masyarakat terkadang hanya ditampakkan dalam atribut keshalehan lahiriah bukan bathiniyah, sehingga tidak heran dari penampilan tidak  berjilbab sama sekali menjadi berjilbab lebar-lebar,sampai pada tataran bercadar,juga mewajibkan  memelihara jenggot dan  memanjangkan jenggot lebat-lebat dan terkadang itu di klaim sebagai penampilan yang pailing syar’i sebagai seorang muslim. Maka Perlu kita merenungkan kembali sabda Nabi SAW:

Hendaknya kalian hijrah ke negeri Habasyah, sebab di sana terdapat raja yang tidak ada seorang pun yang dizalimi di sisinya. Habasyah adalah negeri kejujuran sehingga Allah akan menjadikannya sebagai solusi bagi kalian dari penderitaan yang kalian alami.

Kalau kita melihat redaksi hadist nabi di atas secara substansial makna hijrah tampaknya tidak terpaku pada migrasi ke negeri Islam saja, namun lebih mendasar yaitu hijrah dari suatu tempat ke tempat lain karena menjaga keselamatan agama. Hijrah pada hakikatnya adalah tarkul manhiyyat, meninggalkan berbagai larangan agama.

Karenanya, hijrah sejatinya tidak terbatas pada perpindahan yang bersifat lahiriah, namun juga mencakup perpindahan atau perubahan yang bersifat batiniah adalah meninggalkan berbagai larangan agama. Baik larangan yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat batiniah,dengan berhijrah orang tidak berarti dapat merasa paling lebih baik, paling lebih islami dari pada orang lain apalagi menyalah-nyalahkan orang lain dan meremehkannya. Nabi bersabda:  “Hakikat hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Syekh Ibnu Abbad mengatakan bahwa hijrah kepada Allah dan rasul-Nya adalah tuntutan secara eksplisit terhadap manusia untuk membulatkan hati semata-mata untuk Allah dan larangan secara implisit untuk memberikan hati untuk segala hal duniawi. “Kata Ibnu Abbad  ‘makna hijrah kepada Allah dan rasul-Nya’ mengandung pengertian berpindah dari alam kepada Penciptanya. Inilah yang dituntut dari seorang hamba.

Tuntutan ini diungkapkan dengan sangat eksplisit. Sedangkan kata ‘maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya’ mengandung pengertian kebersamaan dengan alam dan hanya berpindah-pindah di dalamnya. Ini yang dilarang dari seorang hamba. Larangan ini diisyaratkan secara implisit. Oleh karena itu, seorang murid hendaknya memiliki semangat dan cita-cita yang mulia sehingga tidak lagi berpaling sama sekali kepada yang lain dan alam

Berkaitan dengan memuliakan bulan Muharram dan memperingati tahun baru Hijriah adalah bahwa dalam memuliakan dan memperingati tahun baru Hijriah harus memperhatikan hikmah atau pelajaran yang berharga dari peristiwa hijrahnya Nabi dan para sahabatnya sehingga kita bisa mengambil hikmah di dalamnya, bahwasannya:

  • Hijrah adalah perjuangan untuk tujuan yang mulia, maka butuh kesabaran dan pengorbanan.
  • Hijrah adalah ibadah, motivasi atau niat adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.
  • Hijrah mewujudkan persatuan dan kesatuan, bukan perpecahan.
  • Hijrah adalah jalan untuk mencapai kemenangan.
  • Hijrah mendatangkan rezeki dan menebar rahmat Allah.
  • Hijrah adalah teladan dan panutan Nabi dan para sahabat yang mulia. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Kukuh Santoso, M.Pd., Dosen FAI Unisma Malang dan ketua Takmir Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Kukuh Santoso (CR-057)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Registration