Selasa, 17 September 2019
Kuliner

Tiwul dan Cenil, Makanan Khas Jawa yang Melegenda

Tiwul dan Cenil, Makanan Khas Jawa yang Melegenda Makanan tradisional Tiwul (FOTO: cookpad)
Rabu, 11 September 2019 - 09:42

TIMESINDONESIA, JAKARTATiwul dan cenil sedikit dai ragam makanan khas Indonesia. Makanan ini sudah melegenda khususnya di Tanah Jawa sejak berabad lalu.

Bukan sekadar makanan, tiwul dan cenil juga memiliki sejarah panjang yang pilu.

Hal itu dibeberkan oleh Heri Priyatmoko, sejarahwan sekaligus pengajar progam studi sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Ia menjelaskan bahwa asal muasal tiwul atau thiwul adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang dibuat dari ketela pohon atau singkong.

“Tiwul yang berbahan baku singkong dijadikan pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat pada era penjajahan Jepang tahun 1960-an. Tiwul dibuat dari singkong yang dijemur hingga kering, atau biasa disebut gaplek. Gaplek ditumbuk hingga halus, kemudian dikukus hingga matang,” jelas Heri.

Dahulu warga Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar, selalu mengonsumsi jenis makanan ini setiap hari. Warga makan tiwul dimakan layaknya nasi, dengan tambahan lauk pauk serta sayuran.

Hal ini tentunya amat berbeda dengan yang ada saat ini. "Tiwul (saat ini) umumnya disandingkan dengan parutan kelapa dan siraman gula merah,” jelasnya.

Selain itu, ada banyak variasi penyajian dan bahan pelengkap yang bisa ditambahkan. Di antara bahan pelengkap tersebut antara lain ketan hitam, jagung rebus pipilan, singkong rebus yang diserut dan cenil.

Nah apa itu cenil? Heri menjelaskan cenil adalah olahan lokal yang sederhana tetapi cukup digemari. Cenil terbuat dari campuran tepung sagu dan air yang dimasak di atas api sambil terus diaduk hingga kental. Setelah jadi, adonan ini akan dilapisi dengan kelapa parut, garam, daun pandan.

Heri memaparkan cenil sudah ada sejak masa lampau. Hal ini merujuk pada Serat Centini (1814). "Artinya (sudah) dua abad silam, panganan ini sudah akrab dengan lidah masyarakat Jawa. Tapi bisa diyakini pula pada era Mataram Kuno abad VIII makanan tersebut sudah muncul,” jelas Heri.

Tiwul dan cenil, tak sekadar makanan tradisional khas Jawa, namun juga memiliki andil sejarah makanan Nusantara. “Kedua makanan ini sering dikaitkan dengan makanan orang miskin. Justru kedua makanan ini adalah bentuk ketahanan pangan yang menyumbang kekayaan bahan makanan di Nusantara,” kata Heri.(*)

Jurnalis : Tria Adha
Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration