Selasa, 17 September 2019
Kopi TIMES

Bulutangkis itu Muruah Bangsa dan Hanya itu yang Kita Punya

Bulutangkis itu Muruah Bangsa dan Hanya itu yang Kita Punya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Selasa, 10 September 2019 - 23:40

TIMESINDONESIA, MALANG – Saat saya masih sekolah di bangku SMP (1985) harus bersepeda onthel sejauh 20 km setiap hari Selasa dan Kamis untuk mengikuti pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) di PB Sinar Mataram, Yogyakarta. Itu saya lakukan selama 2 tahun.  Jadi saat selesai pelajaran sekolah, saya  pulang  ke rumah mandi lalu berganti kaos olah raga dan peralatan badminton. Melajulah saya pada siang itu ke Gedung Kridosono tempat latihan sekolah bulutangkis terkenal di Yogyakarta bernama PB Sinar Mataram.

Waktu itu pula, bapak saya tidak kuat jika harus membiayai saya ikut Pusdiklat yang berbayar mahal. Bapak saya yang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan pangkat golongan II-A tergugah untuk membiayai saya ikut latihan badminton, tetapi sengan biaya murah. Karena dana dari bapak saya pas-pasan saya meminta keringanan biaya pada pelatih. Waktu itu biaya latihan per bulan Rp 10 ribu. Saya meminta keringanan hanya membayar Rp 7,5 ribu. Untungnya pelatihnya baik sekali. Jadilah saya ikut latihan dari sangat dasar. 

Bagaimana mungkin? Bapak saya aslinya tidak mampu membiayai saya ikut pelatihan. Juga berpikir untuk apa ikut pelatihan? Sekolah saja yang baik sebagaimana anak-anak desa. Tetapi bapak saya mengabulkan permintaan saya. Dengan berbekal raket Carlton lama, saya dua hari sekali dalam seminggu  melaju dari rumah Bantuk ke Yogyakarta. Pulang larut malam. Besok pagi harus sekolah. 

Sebagai orang yang tidak berkecukupan saya harus paham keadaan bapak saya. Saya hanya membayangkan bagaimana bisa bermain seperti Liem Swee King, Rudi Hartono, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Ade Chandra, Christian Hadinata, Icuk Sugiarto yang menjadi idola waktu itu. Waktu itu pun belum ada audisi seperti sekarang. Sekarang enak, ada audisi dilakukan untuk mencari bibit-bibit bermutu dari masyarakat miskin pun bisa ditemukan. Lalu diberikan beasiswa dan jadilan atlet badminton terkenal. Meskipin saya tidak cukup ikut latihan dan menjadi atlet tetapi bisa ikut merasakan bagaimana perjuangan saya untuk bisa bermain badminton itu.

Apakah dengan kegiatan yang menguras tenaga tersebut prestasi sekolah saya jeblok? Tidak juga. Justru pikiran jadi “fresh”. Saya bahkan mendapat beasiswa Pelita dan menjadi siswa teladan sekolah dan berhak mewakili SMP ke tingkat kabupaten. Meskipun tidak lolos tetapi itu pengalaman berharga yang pernah saya dapat dan capai.

KPAI Penyulut Polemik
Baru-baru ini jagad dunia olahraga Indonesia sedang disibukkan dengan pembatalan Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis Djarum. PB Djarum menghentikan ajang pencarian bakat di daerah mulai tahun 2020.  Alasannya, kegiatan itu dikritik oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Yayasan Lentera Anak (YLA) yang dinilainya sebagai bentuk eksploitasi anak. Lebih khusus lagi karena akan iklan rokok pada kaus yang dikenakan pada peserta audisi.

Akibat kritikan tersebut --  bahkan sudah diadakan audiensi antara PB Djarum dengan KPAI dan tidak ditemukan titik temu -- maka penyelenggara  audisi menghentikan pencarian bakat tersebut. Akibat penghentian, ternyata jagad media sosial ramai dengan tagar #bubarkanKPAI. 

Bukan soal apakah KPAI itu perlu bubar atau tidak, tetapi tanggapan netizen atas keputusan penghentian audisi itu  luar biasa. Siapa yang benar atau salah belum ditemukan titik temu karena kedua belah pihak memakai tolok ukur berbeda. Tentu saja tidak ketemu.

Misalnya, KPAI hanya fokus bahwa audisi yang mengandung eksploitasi anak. Sebagai lembaga yang melindungi anak, maka sah bahwa ia melakukan kampanye “anti eksploitasi anak”. Jadi, fokus KPAI terkesan hanya masalah itu.

Sementara itu, PB Djarum dan pembela audisi mendasarkan diri pada fakta bahwa audisi itu untuk mencari bakat anak-anak dalam bulutangkis. Sementara fokus ini tidak menjadi perhatian utama KPAI. Fokus KPAI hanya ada pada eksloitasi saja. Disinilah problematika itu muncul dan menimbulkan polemik.

Pendapat KPAI tidak salah karena ia lembaga yang bertugas seperti itu. Tetapi mengingkari adanya pengembangan bibit unggul bulutangkis dengan melarang audisi bisa mendangkalkan masalah dan membutakan diri pada fakta.

Muruah Bangsa
Ada beberapa catatan yang layak disimak. Pertama, pembatalan audisi tentu membunuh bibit unggul. Sebagaimana diketahui, PB Djarum telah melahirkan banyak bibit daerah yang bisa dijadikan aset pemain muda bulutangis internasional. Audisi diikuti oleh beragam anak-anak muda bahkan dari keluarga kurang mampu. Bahkan ada anak-anak yang sampai mengikuti audisi beberapa kali.

Audisi itu tentu akan memberikan bekal keberanian dan uji tanding yang sesungguhnya dengan beragam anak yang lain. Jika anak lolos ia akan diberikan beasiswa untuk dididik menjadi atlet badminton yang tangguh. PB Djarum sudah 50 tahun membina atlet dan melahirkan pemain kelas dunia. 

 Kedua, bulutangkis itu muruah (kehormatan diri, harga diri, nama baik) bangsa. Bagaimana tidak? Bulutangkis salah satu olah raga yang bisa dibanggakan bangsa ini sejak dahulu. Ini menyangkut sejarah panjang prestasi olah raga Indonesia di kancah internasional. Bulutangkis juga menjadi kebanggaan ditengah terpuruknya olah raga yang lain. Mungkin olah raga lain punya prestasi tetapi kesinambungan juara tidak menggelegar sebagaimana bulutangkis. 

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Malang

Komentar

Registration