Selasa, 17 September 2019
Kopi TIMES

Pendidikan Memuliakan Manusia

Pendidikan Memuliakan Manusia Imam Safi’i, S.PdI, M.Pd Dosen Fakultas Agama Islam dan Kepala Bagian Keagamaan Universitas Islam Malang.
Selasa, 10 September 2019 - 15:12

TIMESINDONESIA, MALANG – Membincang tentang pendidikan berarti tidak terlepas dari pembahasan tentang manusia. Obyek yang digarap dunia pendidikan ialah manusia,bagaimana mejadikan potensi-potensi yang dipunyai manusia bisa dikembangkan dan menjadikan kedewasaan didalam menjalani persoalan-persoalan hidup. Dari sisi yang lain pendidikan seharusnya menjadikan sumber daya manusia yang unggul serta mempunyai karakter yang baik,seperti cita-cita pendidikan di Indonesia  yang telah tertuang di dalam UU Sisdiknas no 20 Tahun 2003 yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Implementasi pendidikan yang ada di Indonesia apakah sudah betul-betul memperhatikan dan mendasarkan terhadap tujuan pendidikan nasional atau hanya sebatas menjalankan rutinitas kewajiban tanpa memperhatikan output dari proses pendidikan tersebut. Kalau kita koreksi apakah semua lembaga pendidikan sudah sesuai dengan dasar-dasar tujuan yang diinginkan nasional? kalau tidak sesuai apakah ada evaluasi atau sampai hukuman kepada lembaga yang tidak mengindahkan cita-cita pendidikan nasional.

Disorientasi pendidikan bisa mengakibatkan bermunculannya generasi bangsa yang tidak menghargai bangsanya sendiri, justru muncul ketidaksukaan terhadap bangsanya sendiri. Ini semua bisa terjadi di generasi bangsa Indonesia ketika tidak ada evaluasi dan pengawasan yang ketat dari stakeholder terkait terhadap pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau kita lihat masih ada lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan kerancauan berfikir tentang Bhineka Tunggal Ika, cinta terhadap tanah air, pancasila sebagai dasar Negara dan penghormatan kepada bendera merah putih. kerancauan itu dengan cara bagaimana anak didik diberi pemahaman tidak saling toleransi dengan keberbedaan, dilarang untuk mencintai tanah air, menjadikan pancasila sebagai dasar Negara serta menghormati bendera tanah air adalah sesuatu yang haram. Apabila hal ini dibiarkan kedepan akan terjadi sebuah disintegrasi nasional yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagaimana mungkin bangsa Indonesia ini bisa maju kalau generasi penerusnya mempunyai pemahaman yang sangat eksklusif dan tidak mau terbuka untuk terus berusaha menciptakan inovasi-inovasi baru dalam rangka meningkatkan ketertinggalan kita didalam dunia pendidikan. Jangan sampai dengan sikap eksklusif itu justru akan mengurangi esensi manusia yang diciptakan sangat sempurna dan ditempatkan di posisi sangat mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain. Dari sinilah pentingnya pendidikan untuk menjaga eksistensi manusia sebagai manusia yang mulia. Bukan sebaliknya justru pendidikan menjadikan manusia hina dengan sikap-sikap yang tidak baik. Bisa diambil contoh ada beberapa kelompok masyarakat yang suka mencaci maki saudaranya sendiri, memfitnah untuk kepentingan kelompoknya dan masih banyak lagi sikap-sikap yang itu menjatuhkan martabat kemulian sebagai manusia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Menjadikan Manusia Mulia

Proses pendidikan yang terjadi sesungguhnya ada tiga komponen yang dikembangkan, mulai dari afektif, kognitif dan psikomotorik. Akan tetapi masyarakat sekarang meributkan hanya masalah kecerdasan intelektual sedangkan sebenarnya lebih penting daripada itu ialah kecerdasan spiritual yang akan memberikan dampak akhlak yang baik didalam menjalani kehidupan di masyarakat. Orang tua kebingungan mencari sekolah yang dianggap unggulan karena menjadikan lulusan cerdas intelektual,lupa bahwa kecerdasan intelektual hanya salah satu komponen didalam garapan pendidikan. Mengapa orang tua tidak bingung memilih sekolah yang mengutamakan kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual yang pada akhirnya nanti menjadikan anaknya sebagai manusia yang berilmu dan mempunyai akhlak baik.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Naquib Al-Attas ”The purpose of seeking knowledge in islam is to inculcate goodnees or justicein man as man an individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man”. Bahwa pendidikan harus menjadikan manusia yang baik, orang yang baik tentunya manusia yang beradab. Seseorang tidak cukup hanya mempunyai intelektual yang tinggi, namun ia harus mempunyai akhlak mulia terhadap sesama manusia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau kita tarik ditataran praksisnya bahwa pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan karena pemahaman bahwa pendidikan sekarang lebih ke hal prakmatis dari pada humanis, tidak seperti tujuan luhur pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan untuk memanusiakan manusia dalam arti berakhlak mulia, akan tetapi sekarang tergantikan oleh tujuan untuk menciptakan manusia yang siap kerja setelah lulus sekolah. Disinilah menjadikan sekolah hanya sebatas mengajar dan melatih tapi tidak mendidik.

Seharusnya dengan adanya pendidikan menjadikan manusia itu mempunyai kompetensi dari sisi afektif, kognitif, dan psikomotoriknya dengan begitu manusia akan terus tetap dimaqom kemuliaan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Imam Safi’i, S.PdI, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam dan Kepala Bagian Keagamaan Universitas Islam Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Humas Unisma
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration