Selasa, 17 September 2019
Kopi TIMES

Jangan Larang Mereka BerHMI; Bubarkan saja HMI

Jangan Larang Mereka BerHMI; Bubarkan saja HMI Arya Efendy, Ketua HMI Cabang Pinrang. (Grafis: Istimewa)
Selasa, 10 September 2019 - 12:22

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Apa sih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu? Untuk apa berhimpun di HMI? Apa gunanya dan apa pentingnya sih ber-HMI? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kemungkinan adalah pertanyaan yang paling sering terdengar dari kalangan non HMI, contohnya sebut saja mahasiswa baru.

Ketika para kader militan HMI yang masih aktif dikampus sibuk membangun trust, kepercayaan dihadapan para mahasiswa baru dengan harapan memudahkan proses recruitment nantinya, beberapa yang lain malah asyik dengan tulisan dan pernyataan yang bernada miring dan tendensius. Seolah tanpa beban melakukan declare yang sebenarnya bernada sumbang diawal sekalipun masih memiliki perspektif yang berbeda setelahnya. Misalnya saja, “Jangan Masuk Himpunan Mahasiswa Islam, jangan bergabung di HMI, dan sejenisnya ”. Entah apa motifnya dan di tujukan untuk siapa. Apakah ini hanya sekedar bermuara pada kebutuhan acknowledgement dari tuntutan eksistensi semata, ataukah memang sebuah refleksi penguatan semangat juang ber-HMI.

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang ada sebelumnya. “Aku Terlanjur Menjadi HMI, Rendi Lustanto, Juli 2018., Seharusnya aku bukan HMI, Zezen Zaenal Mutaqin, Desember 2005 “. Tentu ini sangat berbeda. Jauh lebih bijak jika setiap kader HMI berupaya agar science of HMI bisa lebih mudah diterima.

Mari kita membaca data statistik minat baca di Indonesia terlebih dahulu. Singkatnya, literasi baca Indonesia sangat rendah. Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015, Indonesia ranking 62 dari 70 negara. Kemudian dari Central Connecticut State University (CCSU), studi yang dipublikasikan dengan nama "The World’s Most Literate Nations", Indonesia ranking 60 dari 61 negara. Data UNESCO juga menjelaskan, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang gemar membaca. 

Bayangkan, Mahasiswa baru, anak milenieal, begitu ada pertanyaan jari tangan langsung menari membuka google dan langsung punya jawabannya. Bagaimana ketika jawaban yang mereka temukan diawal adalah kalimat larangan ber-HMI? siapa yang bisa menjamin mereka membacanya hingga tuntas? selesai di judul kemudian berasusmsi? beda ketika itu ditujukan untuk anggota HMI.

Fakta lain, jangankan mahasiswa baru, bahkan sebagian besar kader HMI yang masih aktif sebagai pengurus, juga apatis terhadapan bacaan. Entah itu pengurus komisariat, pengurus cabang hingga pengurus besar. Malas baca tapi cerewet di media sosial. Tidak aneh jika teksnya aktivis ditulisnya aktipis.

Siapapun harus menghormati mereka yang sedang bersusah payah berjuang membangun pondasi dasar dengan melakukan perkaderan sekalipun hanya dipandang kegiatan periodik yang sifatnya normatif, begitu juga dengan mereka yang masih sangat loyal terhadap HMI, sesuatu yang tidak bisa dianggap casual, dianggap biasa saja.

Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap kader HMI, jika itu ada, seharusnya mereka lebih fokus membangun narasi positif, mind programming hingga mampu merubah perilaku. Sangat penting memahami kekuatan pikiran kita, the powers of the mind dan lebih berhati-hati terhadap penggunaannya, the power of words, kekuatan kata kata, termasuk kecerdasan linguistik dalam beretorika.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. Tujuan HMI sangat jelas, “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi Yang Bernafaskan Islam, dan Bertanggungjawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah SWT.“ Tujuan yang sangat mulia.

Tapi apakah himpunan ini sehat, baik-baik saja? tentu saja tidak. Mungkin karena usianya yang sudah sangat tua, atau mungkin mereka yang berhimpun hari ini setengah hati, lelah, atau asal HMI, “ yang penting saya HMI ”.

Penulis pernah menulis singkat di salah satu platform sosial media, “ Bukankah kader HMI itu sendiri beserta alumninya yang membuat HMI semakin menuju pada titik deklinasi? Regenerasi terus berlanjut pada periodesasi yang berbeda, tetapi dengan peran duplikatif-identik dari para pendahulunya yang kehilangan nawa cita HmI dan terlalu konservatif. HmI masih terus membanggakan dirinya meskipun dgn kesadaran bahwa HmI saat ini telah terdekonstruksi oleh politik praktis-materialistis ”, (agustus 2018). Beberapa kader HMI bereaksi menanggapinya dengan hanya menyebutnya “oknum”, bahkan terdapat pertanyaan ” jadi selama ini apa? ”. Penyajian sanggahan selalu saja didominasi tentang “idealnya". Terkesan menolak realitas tapi secara bersamaan juga mengakui lalu kemudian menutupinya dengan kata “oknum”.

Mengapa begitu sulit mengakui bahwa organisasi ini mengalami disorientasi dan berjalan tampak asimetris, yakni adanya ketidakseimbangan pengembangan nilai-nilai yang diajarkannya, mengalami degradasi nilai yang berdampak pada minimnya integritas antara afeksi, kognisi, dan psikomotoris kader. Perhatikan saja sebagai contoh, kadangkala berada digaris terdepan ketika berunjukrasa dan paling lantang bersuara, ketika adzan dikumandangkan, lantas diabaikan. Contoh lain, pamer jabatan struktual, pamer photo menggunakan atribut HMI di media sosial sepertinya jauh lebih menyenangkan ketimbang memikirkan masa depan HMI.

Lagi, perhatikan kondisi Pengurus Besar HMI saat ini, kisruh dualisme kepemimpinan yang tidak kunjung usai. Jabatan struktural jauh lebih penting ketimbang memikirkan moral lesson, pelajaran moral untuk setiap kader. Versi I teriak pecat, versi II teriak kongres, setelahnya apalagi? kembali mengumpulkan bala tentara demi memenuhi dorongan hawa nafsu jabatan kepengurusan selanjutnya? Lucunya, kemungkinan masih ada yang bersedia dengan senang hati menjadi mercenaries, tentara bayaran. Memalukan.

Mungkin benar yang memilih pimpinan PB HMI, bukan hanya delegasi dari setiap cabang tetapi juga dari kalangan yang berkepentingan ikut bermain (sponsor), dan HMI hanya dipandang sebagai komoditas politik semata. Tapi itu hanya dugaan, alih-alih demi menjaga Himpunan ini dengan baik, akan tetapi backfire, balik merugikan HMI sendiri. Nonsense, kasihan HMI.

Sebenarnya, salah satu yang kita butuhkan adalah kejujuran, jujur bahwa kita sangat mencintai himpunan ini. Marah ketika direndahkan, tapi pernahkah kita malu, apatis melihat HMI mengalami instabilitas? HMI seolah-olah tidak lagi memiliki deterrent effect power, efek penggentar. Suaranya tidak lagi begitu penting untuk didengarkan, kendati bukan hanya HMI yang seperti itu.

Di Himpunan ini sudah terlalu banyak orang cerdas, menumpuk tapi sedikit dari mereka yang memiliki kesadaran.  Dalam setiap kesempatan diskusi tentang HMI, Penulis selalu sampaikan, “lebih mudah mencerdaskan orang-orang sadar ketimbang menyadarkan orang-orang yang merasa cerdas. Begitupun dengan orang-orang yang memiliki akal sehat, tentu jauh lebih mudah mendengarkan pendapat ataukah menerima nasehat, bukan malah terlebih dahulu merasa hebat.”

Kita jangan pernah berfikir bahwa kejayaan HMI adalah karena hasil kecerdasan dia, kamu, apalagi aku, itu sangat keliru. Semua itu bukan karena kita. Ini semua adalah warisan, harapan para pendahulu kita yang bercita-cita agar bangsa ini dihormati dan disegani. Bagaimana caranya? salah satunya adalah dengan menggunakan infrastruktur HMI. Jika HMI tidak mampu berkonstribusi, enggan merawat tradisi inteletualnya dengan baik, tidak memiliki attitude yang baik, maka sebaiknya HMI dibubarkan secepatnya dan jangan lagi sebut HMI adalah anak kandung Bangsa Indonesia. Itu tidak pantas.

Sangat mendasar kelak kita akan menjadi bagian dari mereka yang telah berjuang sebelumnya. Pertanyaannya sederhana, seperti apa harapan kita kedepan untuk adik-adik yang akan menerima amanah selanjutnya? Seperti apa warisan yang akan kita hadiahkan setelah kita selasai? Apakah itu semangat berIslam berkeIndonesiaan, semangat berIndonesia berkeIslaman, ataukah semangat berkeislaman berkeindonesiaan? atau mungkin terlalu sulit keluar dari zona nyaman hingga memilih menjadi kader Oportunis transaksional kampret yang mewariskan konflik, dualisme berkepanjangan, dan mencoreng sejarah HMI sebelum HMI itu benar-benar bubar.

Sebagian hanya akan menyebutnya sebatas dinamika organisasi, tapi tidak sesederhana itu juga. sampai harus melupakan mana yang lebih penting hingga menjadi anomali yang melukai tubuh HMI.

Penulis ingin meminta maaf sekaligus mengajak kepada siapapun yang mencintai HMI. Percayalah, HMI selalu memiliki moment of greatness, momen kebesaran, kebanggaan membentuk kader Muslim-Intelektual-Profesional yang mampu mentrasformasikan nilai-nilai keIslaman-keIndonesiaan, mencetak kader bernalar kritis hingga menjadi kader katalis yang revolusioner, yaitu kader yang mendorong terjadinya perubahan kearah yang lebih baik secara cepat. Percayalah, HMI mampu menciptakan alkeminya sendiri, memiliki esprit de corps sebagai penegasan bahwa HMI itu unstoppable, tidak dapat di hentikan dalam memperjuangkan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Percayalah HMI selalu memiliki grand plan, rencana besar demi tercapainya cita-cita bangsa yang juga merupakan tujuan HMI.

 

*)Penulis : Arya Efendy, Ketua HMI Cabang Pinrang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Komentar

Registration