Kopi TIMES

Hidup Lebih Baik, Sehat, dan Lama

Hidup Lebih Baik, Sehat, dan Lama Prof Dr Rochmat Wahab
Senin, 26 Agustus 2019 - 16:36

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Setiap insan ketika berusia 4 bulan dalam kandungan sudah diberi ruh dengan empat ketentuan, yaitu rizkinya, batas umur-nya, pekerjaannya dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya. Terlepas dari kondisi apapun secara sunnatullah bahwa setelah lahir, setiap insan diharapkan selalu dalam kondisi baik, terjaga kesehatan, dan bisa hidup lebih lama. Walau prakteknya mushibah bisa terjadi kapan saja, namun hidup lebih baik, sehat, dan panjang usia merupakan harapan kita semua.

Kendatipun Allah SWT telah menerapkan empat ketentuan penting dalam hidup kita, bukan berarti kita menerima apa adanya. Kita manusia itu bulanan TO BE, melainkan setelah lahir kita itu TO BECOME. Berproses secara dinamis untuk menjadi. Karena itulah Allah SWT berfirman dalam QS Ar Ra’du, yang artinya  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”  Dalam konteks ini Allah SWT memberikan peluang kepada kita untuk berikhtiar.

Ada banyak ikhtiar yang bisa dilakukan  untuk menjadikan kita hidup yang selalu baik, sehat, dan lebih lama di dunia. Harvard Medical School (2019) memberikan beberapa tips, di antaranya (1) tidak merokok, (2) menikmati aktivitas fisik dan mental setiap hari, (3) memgkonsumsi makananan sehat, (4) menikmati multivitamin, (5) menjaga keseimbangan berat dan bentuk badan, (6) memberikan tantangan terhadap pikiran, dengan terus belajar, (7) membangun jaringan sosial, (8) mengikuti tindakan preventif pemeliharaan diri, (8) menjaga kesehatan gigi, (9) berkonsultasi rutin tentang efek sampingan kondidi kronis, misal:tekanan darah tinggi, kolesterol, osteoporosis. Selain itu pelajaran yang bisa dipetik dari orang-orang Jepang untuk usia panjang adalah hindari makanan fastfood dan bekerja overload serta menjaga keseimbangan hidup, antara kehidupan individual dan sosial.

Rochmat-Wahab.jpg

Bagaimana dengan upaya kita secara ukhrawiyah, bahwa mengharapkan usia panjang juga dibenarkan secara Islam. Allah SWT berfirman dalam QS Nuh:3-4, yang artinya, yaitu: “Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan.”.  Selain daripada itu Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menyukai dirinya mendapat kelapangan rizki dan umur yang panjang, hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.” (HR, Imam Bukhari).

Kedua sumber naqli di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa untuk hidup yang baik dan panjang umur yang barakah, kita harus menjaga dan meningkatkan hubungan kita secara vertikal dengan Allah SWT (hablun minallah) dengan meningkatkan iman dan taqwa, dan hubungan horizontal dengan sesama (hablun minannaas), dengan memperbanyak silaturahim, baik langsung maupun tidak langsung.

Mengharapkan hidup yang baik, sehat, dan usia panjang adalah sah-sah saja. namun dengan usia yang lebih panjang jangan sampai menjadi beban, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Hidup yang lebih panjang harus tetap sehat dan mandiri seharusnya menjadi suatu tantangan dan hal ini tidaklah mudah. Memang lebih bagus lagi jika dengan usia panjang, masih bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Untuk terwujudnya kondisi ini, relasi yang intens dan positif antara individu berusia panjang dengan orang-orang di sekitarnya perlu terus terjaga, terutama untuk kehidupan keseharian baik untuk kepentingan duniawiyah maupun ukhrawiyah.

Akhirnya, bahwa kita dalam mengarungi hidup ini, tiada henti-hentinya kita perlu terus menjaga diri dari berbagai hal yang kurang baik bagi kehidupan kita, sehingga kita bisa nikmati hidup lebih baiksehat, dan panjang umur yang barakah. Bisa bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga, orang lain, bangsa dan  agama. (*)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Dody Bayu Prasetyo
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration