Senin, 23 September 2019
Kopi TIMES

Gus Dur, Kembalinya Nama Papua dan Tuntutan Pembubaran Banser

Gus Dur, Kembalinya Nama Papua dan Tuntutan Pembubaran Banser Gus Dur. (foto: Istimewa)
Senin, 26 Agustus 2019 - 05:48

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Meskipun buku dokumenter terbitan 1986 ini "berbau" Orde baru, tetapi membaca bab 2 "Api Perjuangan Pembebasan Irian Barat" kita akan mengetahui sejarah bagaimana awal penamaan Papua berasal. Antonio d'Abreau dan Fransisco Serrano dari Portugis mulai pelayaran menuju pantai utara Nieuw Guinea dan sejak itulah pulau di ujung timur Indonesia itu mulai dikenal dunia. 

Dalam catatan seorang Itali yang mengikuti Magelhaens Tahun 1521 tertulis nama Papua. Orang Portugis yang lain bernama Don Jorge de Meneses dari Semenanjung Malaya menuju daerah rempah-rempah yang kemudian dikenal dalam bahasa Melayu bernama Papua dan merupakan derivasi dari bahasa Melayu kuno: Papuwah yang artinya orang yang berambut keriting.

buku.jpg

Di dalam Bab pertama, ada juga penjelasan sejarah berkait Hubungan Papua dengan Majapahit pada Abad XIV sebagaimana yang ditulis Empu Prapanca dalam bukunya "Negara Kertagama" dimana Papua merupakan Majapahit yang ke delapan sebagaimana bunyi syair :

Muwah Tang/ Gurun Sanusa Mengaram ri Lombok Mirah
Lawan Tikang i Bantayan Pramuka Bantayan Len Luwuk
Teken udamakatrayadi nikanang sanusapupul
Ikang sakanusa makasar burun Banggawai
Kuni Gglaliyao Mwang i (ng) salaya Sumba Solot Muar
Muwah tingang i wandan& _Ambwan atawa Maloko Ewanin 
Ri Sran Timur ning angeka nusatutur

Menurut ahli bahasa bahwa Ewanin, Sran dan Timur adalah nama daerah. Ewanin adalah nama lain dari Onim, sedang Sran untuk daerah Kowiai. Keduanya berada di Bintuni.

Jika kita merujuk pada penjelasan sejarah penamaan pulau "Kepala burung' dalam buku ini (Presiden Soeharto melalui Keppres 5/1973 meresmikan nama Irian Jaya dengan Ibukota di Tembagapura), maka sesungguhnya peran KH Abdurrahman Wahid ketika menjadi Presiden keempat RI dalam mengembalikan nama Papua setelah puluhan tahun di bawah rezim Orde baru dinamakan Irian Jaya menjadi sangat penting dan mendasar dalam menghormati keaslian nilai2 budaya masyarakat Papua. 

Gus Dur yang juga tokoh terkemuka NU memiliki andil kesejarahan penting bagi masyarakat Papua. Maka sangatlah aneh jika sekarang ada yang menuntut bubarkan Banser. Bukankah Banser merupakan ormas yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari NU yang juga pernah dibesarkan Gus Dur? Bukankah Banser sebagai bagian dari Ansor dan NU yang selama ini gigih memperjuangkan kebhinnekaan dan keragaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk meneladani Gus Dur? (*)

Penulis adalah KH Imron Rosyadi Hamid, mantan Sekretaris PW Ansor Jawa Timur, Rois Syuriah PCI NU Tiongkok.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

Komentar

Registration