Senin, 23 September 2019
Peristiwa - Daerah

Novelis Mahfud Ikhwan: Tak Perlu Semua Orang Jadi Novelis

Novelis Mahfud Ikhwan: Tak Perlu Semua Orang Jadi Novelis Suasana workshop Penulisan Novel Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) di Gerak Budaya Yogyakarta. (FOTO: Istimewa)
Minggu, 25 Agustus 2019 - 20:17

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Peserta Workshop Penulisan Novel Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) terlihat asyik dan santai menyimak paparan pengantar dari novelis Mahfud Ikhwan. Suasana tersebut terlihat pada sesi workshop di Gerak Budaya Yogyakarta, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (21/8/2019).

Acara ini dibagi ke dalam dua sesi diskusi, dimulai pukul 13.00 hingga 18.00 WIB. Media online berjaringan no 1 di Indonesia TIMES Indonesia ikut mendukung rangkaian kegiatan Joglitfest ini.

Kepada para peserta, Mahfud Ikhwan berulang kali mewanti-wanti kepada para peserta perihal pertimbangan-pertimbangan menjadi seorang novelis.

“Yang mungkin para penulis pemula tidak ketahui, bahwa membuat awal yang bagus, memulai kalimat dengan mantap, sebenarnya adalah kegelisahan semua penulis. Segaek apa pun dia. Seterkenal apa pun dia,” jelas Mahfud didampingi moderator Andreas Nova.

Novelis kelahiran Lamongan, Jawa Timur itu mengumpamakan, kemampuan menulis bagi para penulis, tidak terkecuali penulis novel, tidak berbeda dengan kemampuan membuat pematang bagi para petani, atau kemampuan mengontrol bola untuk pemain sepak bola. Keahlian menulis, kecakapan membuat pematang, atau kelihaian menggocek bola, menurut Mahfud, hanya bisa didapatkan oleh banyaknya latihan, banyaknya mengulangi, dan salah, dan mengulangi, dan salah, dan mengulangi, dan begitu seterusnya.

“Menulis itu hal mulia, tapi boleh jadi tak lebih mulia dari kebanyakan hal yang dilakukan manusia lainnya. Makanya, saya sepakat saja dengan semboyan yang mengatakan bahwa ‘semua orang bisa menulis. Tapi, pada saat yang sama, saya pikir tak perlulah semua orang mesti menulis. Toh, menulis bukan satu-satunya hal mulia yang bisa dilakukan manusia,” ungkap penulis novel Kambing dan Hujan itu.

Mahfud kemudian melanjutkan, “Maka, barang siapa yang misalnya sangat ingin jadi penulis, namun setelah mencoba berkali-kali membuat kalimat pertama dan gagal, bikin lagi dan gagal lagi, bikin lagi, gagal lagi, kenapa tidak mencoba hal lain? Jadi dokter, misalnya. Jadi psikolog juga tak apa.”

Pertimbangan-pertimbangan semacam itu dilontarkan oleh Mahfud kepada para peserta workshop. Ia kemudian memungkasi pengantarnya dengan sebuah pertanyaan, sekaligus ajakan sebelum memasuki sesi praktik,

“Jadi, apakah ada yang masih tertarik menulis, menjadi novelis? Kalau tidak, tak apa-apa. Mari memancing saja!,” kata novelis Mahfud Ikhwan kepada para peserta Workshop Penulisan Novel Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest). (*)

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Registration