Senin, 23 September 2019
Peristiwa - Daerah

Tokoh Agama Tolak Kehadiran Gus Nur di Bondowoso, Al Islah Anggap Hal Itu Wajar

Tokoh Agama Tolak Kehadiran Gus Nur di Bondowoso, Al Islah Anggap Hal Itu Wajar Pengumuman pengajian bulanan (FOTO: Istimewa).
Sabtu, 24 Agustus 2019 - 19:43

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Rencana Pondok Pesantren Al Islah Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, untuk mendatangkan Sugi Nur Raharja (Gus Nur) dalam pengajian bulanan banyak menuai penolakan. Baik dari tokoh agama, kativis pemuda hingga mahasiswa.

Penolakan itu diantaranya tokoh sekaligus Ulama Muda KH Nawawi Maksum, Ketua GP Ansor Bondowoso Kapriyanto, Ketua PMII Fathor Rozi serta sejumlah pihak lainnya.

Penolakan sejumlah elemen tersebut bukan tanpa alasan. Mereka menganggap pidato-pidato Gus Nur selama ini provokatif. Sehingga dikhawatirkan, pembicaraannya di Al Islah Bondowoso juga mengandung provokasi.

"Sugi Nur itu sering menyebarkan berita-berita hoaks, penuh dengan fitnah yang akan memecah belah persatuan umat. Bondowoso selama ini warganya guyub tidak ada perpecahan," kata Tokoh Ulama Muda, KH Nawawi Maksum.

Dijelaskan oleh Pengasuh Ponpes Nurut Taqwa itu, bahwa Sugi Nur adalah dai yang sering menjelek-jelekan pemerintah.

Dalam ceramahnya kata dia, Sugi Nur acap kali mengeluarkan kata-kata kasar dan makian terhadap pemerintah. Padahal harusnya seorang dai itu mengajak dan memberi contoh yang baik pada masyarakat, bukan dengan menjelek-jelakkan.

“Seorang dai  harus mengajarkan masyarakat bagaimana menjadi warga negara yang baik. Kok ini malah masyarakat agar supaya menjadi bugot atau penentang terhadap pemerintahan ini, dan ini tidak dibenarkan sama sekali,” jelas Nawawi.

Nawawi juga menjelaskan, bahwa sosok Sugi Nur adalah dai yang acap kali menjelek-jelekkan struktur NU dan juga banom-banomnya.

"Sugi Nur itu seringkali menghina orang-orang NU, struktural NU terutama banom NU seperti Ansor dan Banser. Sehingga ini akan otomatis menimbulkan kemarahan dari warga Bondowoso yang notabene warga NU," terang wakil ketua ISNU Bondowoso ini.

Diakuinya, dia akan berkoordinasi dengan panitia penyelenggara dan juga pihak keamanan. "Saya minta kepada penyelenggara supaya Sugi Nur tidak dihadirkan di Bondowoso lah," tuturnya.

Menanggapi hal itu, Sekretaris I Pondok Pesantren Al Islah, Ustad Sudirman mengatakan, bahwa penolakan adalah hal wajar karena itu merupakan proses pendewasaan dalam berpikir dan bersikap.

“Kalau acara ini, karena acara kita dan internal keluarga besar Al Islah, tetap berjalan sesuai dengan jadwal,” katanya saat dikonfirmasi TIMES Indonesia.

Menurutnya, pidato Gus Nur adalah hal yang biasa saja. Karena hal itu tak lebih dari sekedar amar ma’ruf nahi munkar.

“Seharusnya umat Islam punya keberpihakan amar ma’ruf nahi munkar. Orang islam itu harus begitu. Kalau ada hal munkar dan tidak biasa mencegahnya maka akan jadi kaget. Di sini yang barang kali bisa berbeda persepsi,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya mengaku sudah biasa dengan perbedaan-perbedaan persepsi itu. Terpenting kata dia, bagaimana menyikapi ini secara arif, bijaksana dan dewasa.

“Siapapun boleh hadir. Memang selama ini kami mengundang semua pihak. Teman-teman media kita undang, kepolisian, dari Kodim diundang. Karena memang Al Islah itu berdiri di atas dan untuk semua golongan,” tegasnya.

Sugi Nur Raharja (Gus Nur) diundang sebagai pembicara dalam acara pengajian bulanan Al Islah Tafsir Jalalain ‘Tambhana Ate’. Acara yang sudah masuk pertemuan ke-73 ini akan dilaksanakan Sabtu 7 September 2019 mendatang. (*)

Jurnalis : Moh Bahri
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Bondowoso

Komentar

Registration