Senin, 23 September 2019
Peristiwa - Daerah

Peduli Kota, KOMPI Bangun Komunikasi Bersama Warga Jarak

Peduli Kota, KOMPI Bangun Komunikasi Bersama Warga Jarak KOMPI gelar Cangkrukan Sore untuk membangun komunikasi bersama warga di Kawasan Jarak, Surabaya, Kamis (22/8/2019). (Foto: Istimewa)
Kamis, 22 Agustus 2019 - 21:37

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Komunitas Milenial Peduli Indonesia (KOMPI) Surabaya menggelar acara diskusi publik yang diberi tajuk "Cangkrukan Sore" di Kawasan Jarak, Surabaya (22/8/2019). 

Acara ini menghadirkan dua narasumber dengan latar disiplin ilmu berbeda, Ning Lia Istifhama dan dr. Peter J. Manoppo, Sp.B. KOMPI memantik para undangan yang hadir agar menumpahkan ide dan inovasi mereka terkait pembangunan dan pengelolaan Kota Surabaya pada masa mendatang.

Muncul gagasan menarik bahwa membangun Surabaya perlu dimulai dengan membangun etika berkomunikasi seorang dengan orang lain. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Lia Istifhama, aktivis Muslimat NU yang namanya masuk dalam bursa calon wali kota dari jalur independen. 

Lia mengatakan bahwa interaksi sosial didasari oleh kemampuan seseorang berkomunikasi dengan orang lain, dan kemampuan berinteraksi sosial itu diawali dari bagaimana seorang ibu berinteraksi dengan putra-putriya.

“Bagaimana seorang ibu berinteraksi dengan putra-putrinya akan menciptakan kualitas cara orang saling berinteraksi di masyarakat,” terangnya.

Salah satu jenis interaksi dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah saling bertoleransi. Kembali membina toleransi antarumat beragama sehingga tidak terjadi gesekan yang mengakibatkan perpecahan.

“Oleh karena itu diperlukan generasi bermodal sosial, yaitu kemampuan berinteraksi sosial yang baik,” kata Lia.

Sementara itu, Peter Manoppo mengatakan bahwa saat ini masyarakat Surabaya perlu lebih memperhatikan kesehatan. Sebab, menurut Manoppo, tidak mungkin akan tercipta sebuah situasi sosial masyarakat Surabaya yang baik jika orang-orangnya memiliki gangguan kesehatan.

“Bagaimana kita bisa memberikan perhatian sosial untuk orang lain jika kita sendiri tidak sehat?  Berorganisasi, bekerja, juga berusaha membangun karakter baru untuk memajukan kondisi sosial Surabaya yang baik itu membutuhkan raga yang sehat,” terang Manoppo.

Pemerhati sosial yang juga dokter ahli bedah senior tersebut menambahkan pentingnya membentuk tim olahraga bagi masyarakat. 

“Masyarakat perlu melakukan olahraga, dan sebaiknya olahraga tim, agar menciptakan pengenalan lebih dalam satu dengan lainnya. Olah raga tim merangsang rasa bekerja-sama dan menciptakan pribadi-pribadi yang memiliki modal sosial tinggi,” tandasnya.

Diskusi yang diwarnai dengan pertukaran ide-ide kreatif tersebut menghasilkan integrasi dua perspektif dari sisi psikologi komunikasi dan kesehatan. 

Lia menekankan pada pendidikan komunikasi sedari dini, yaitu keluarga, sementara Manoppo menekankan pada perhatian menjaga kesehatan anggota masyarakat dengan mengaktifkan kembali semangat berolah-raga.

Kedua perspektif dari Lia dan Manoppo tersebut menjadi sebuah usulan yang layak diperhatikan oleh masyarakat Surabaya, seperti yang dikatakan oleh Wakil Ketua KOMPI, Dedy Mahendra.

Selain menyatakan puas dengan proses dan hasil diskusi “Cangkrukan Sore” tersebut, Dedy mengaku setuju dengan pemaparan dua narasumber yang menghasilkan integrasi psikologi komunikasi dan kesehatan itu. Dua perspektif yang berbeda ini, menurut Dedy, bisa menjadi sebuah tesis integratif yang aplikasinya niscaya bisa diikuti masyarakat. Terlebih di zaman serba instan. 

Belum lagi pengaruh sosial media yang cukup santer cenderung membuat generasi zaman ini lebih enjoy dengan gawai atau gadget-nya daripada orang di sekitarnya. 

“Paparan Ning Lia tadi mencerahkan, mengajak kita para orang tua lebih memperhatikan pengajaran etika komunikasi dan bergaul kepada putra-putri kita. Jangan sampai kecanduan gawai,” pungkasnya.

KOMPI sendiri diketahui konsisten menginisiasi dan menggerakkan diskusi-diskusi publik yang dikenal kritis terhadap situasi dan masalah perkotaan, khususnya Surabaya. Beberapa waktu lalu KOMPI juga merilis bursa nama calon Wali Kota penerus Ibu Risma, antara lain: Gus Hans (Golkar), Dhimas Anugrah (PSI), Eri Cahyadi (Birokrat), Wisnu Sakti Buana (PDIP), dan Lia Istifhama (Aktivis). (*)

Jurnalis : Lely Yuana
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Surabaya

Komentar

Registration