Kopi TIMES

Eksistensi Jurnalisme Pada Masakini

Eksistensi Jurnalisme Pada Masakini Akhmad, Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), belajar menulis di Lembaga Pers Mahasiswa Fenomena (LPM Fenomena), dan Geriliya Literasi, Universitas Islam Malang (UNISMA)
Kamis, 22 Agustus 2019 - 16:04

TIMESINDONESIA, MALANGMASYARAKAT kini akan mudah mendapatkan informasi bukan lagi setiap hari atau setiap mingggu, melainkan setiap detik kita kini mendapatkannya. Perkembangan ini tidak mungkin kita bendeung atau kita tolak, sebagaimana telah menjadi keharusan manusia hidup di masa sekarang untuk bisa menemukan informasi secara global, mulai dari yang nasional dan internasional.

Kecuali bagi yang ingin mengambil jalan sunyi atau dikenal dengan sufi, tidak apa-apa tidak memperhatikan perkembangan, hiduplah seperti yang ada di dalam kehidupnya dengan Tuhan. Namun hidup bukan tentang hubungan dengan Tuhan saja, sebagai manusia sosial. Dasar  Habblumminnas, habblum minal alam, dan hablumminallah. Ketiga ini sebuah dasar keseimbanagan yang harus ditenamankan dalam diri ini, yang hidup di era yang modernisasi. Sebagai manusia yang berislam dan menjaga trah agama berahmatallialamin.

Kini banjirnya informasi telah terjadi, setiap orang sudah bisa melakukan praktik-praktik jurnalistik. Hingga kebingungan datang pada masyarakat. Dengan adanya teknlogi sangat canggih hal itu melahirkan yang namanya juralisme warga,  dan dinamika pers akhir-akhir ini menuai banyak perbinjangan, mula-mulanya semua orang sepertinya telah tidak dibendung lagi melakukan praktik Jurnalistik. Semua masyarakat melakukan praktik tersebut tanpa kita kethaui bahwa ada banyak golongan; mulai dari masyarakat menengah ke bwah dan menengah ke atas.

Dinamika ini tidak lain dan  tidak bukan tidak dapat kita tolak,karena berkaitan dengan perkembangan zaman dan teknologi. Sehingga  secara signifikan Praktik jurnalistik menjadi bagian dari kehidupan masyrakat sehari-hari. Dengan banyaknya ladang media sehingga melahirkan banyak paktik jurnalistik dilakukan tanpa melihat dari sumber, seperti halnya air megalir tidak ada sumbernya walaupun airnya ada dan nyata.

“Apakah semua yang dilakukan praktik-praktik Jurnalisitik itu sudah layak dijadikan berita?”

Dalam sejarah jurnalistik cikal bakal lahirnya tidak bisa kita melupakan sejarah awal terbentuknya dan pentingnya jurnalistik, bisa melihat ke Yunani Kuno (100-44 SM) dalam sejarah jurnalistik seperti menjadi refrensi awal mengapa jurnalistik tercipta. Raja Jilius Cesar kegelisahannya bagaimana dirinya menyampaikan informasi kepada masyarakat dan masyarakat bisa menerima apa yang akan disampaikan dengan mudah, berdirilah sebuah “acta durma” dalam bahasa Indonesia “Papan pengumuman” (sejenis majalah didingdan Koran tempel dimasa sekarang),  dan pada masa itu tempat acta durma itu diletakan di forum romanum (stadium romawi).

Perkembangan zaman yang kita kenal hari ini dengan sebuah revolusi industri pertama ditandai dengan munculnya mesin cetak pertama yang ditemukan di Germany. Sebagai dobrakan baru dalam perkembangan dunia yang baru. Hingga sampai hari ini terciptalah perkembangan industry yang dikenal dengan 4.0. hal itu akan menjadi salah satu factor perkembangan zaman dan juga pers atau media.

Perkembangan pers di Indonesia sejak Belanda masuk ke Indonesia sudah ada. Namun tidak mungkin mereka seorang penjajah tidak memiliki kepentingan membangun lembaga pemberitaan. Singkat cerita bapak pers pertama di Indonesia Tirto Adi Suryo yang menderikan pers pertama bernama Medan Priyai, tidak lain memiliki tujuan positif terhadap warga Negara Indonesia untuk menyadarkan bahwa pentingnya merdeka, dan bisa dikatakan isi dalam berita berupa propaganda untuk menyadarkan masyarakat. Dan hari ini pers di Indonesia menjadi pilar ke-empat demokrasi, jika tidak ada pers Indonesia tidak bisa menyiarkan kemerdekaan.

Sebuah kebenaran sepertinya sudah tidak dapat dibendung lagi. Masyrakat sudah bisa menerima kehidupan dengan suguhan yang begitu gambalang. Tidak lain dan tidak bukan bahwa hal itu mendapat kecenderungan membendungnya dengan banyaknya informasi. Indikasi penyebaran hoax dan orang yang sering menerima hal tersebut bisa kita temukan dalam kalangan-kalangan terpejalar,akademisi, dan orang-orang melek media, dan bagi yang gagap media bisa dikatakan hal yang beruntung karena tidak terlalu terkntaminasi dengan banyaknya informasi. 

Jika berbicara kebenaran teringat dengan sosok semangat yang tekun menulis masih belum tertandingi sampai hari ini, tulisan maestro dikenal di Kompas sebagai pendekar pena Mahbub Djunaidi dalam salah satu tulisannya yang bebunyi;

“Jika kebenaran dunia ini ditulis secara gamblang maka akan mudah dunia ini hancur”

Dari perkataan itu bagaiamana bisa memberikan makna yang tepat. Kita sadari ketika seorang jurnalis selalu berusaha nangkap momentum yang tepat sebagaimana bisa mendapatkan berita yang memiliki fungsional, dan berdampak hal itu akan menjadi pertarungan sebuah idealis kita dalam mempertahankan dan bisa menyikapi hal itu. Dinamika akan selalu menjadi kejutan dalam realitas sosial. Bisa menguntungkan dan bisa juga merugikan itu seperti menjadi rumus dalam hidup tidak dapat dihapuskan namun bisa diimbangi dengan kesadaran manusia.

Berbicara dengan banyak informasi banyaknya hoax. Hoax ketika analisa secara harfiah sebuah berita keboongan. Jika berbicara kebohongan kita tahu jenis-jenis kebonhongan terdiri dari fitnah, kebohongan, dan hasutan sbg. Kita sadar dengan hal itu, namun yang menjadi masalah besar dengan seperti apa kita bisa membuka ruang dengan meghindari atau tidak terjebak pada lingkaran itu, dan lebih baiknya lagi memberikan sebuah fungsi baik terhadap kehidupan sosial (bermanfaat dengan sesama) dalam mencerdaskan masyarakat untuk bisa memilah dan milih mana berita yang baik dan benar mana yang buruk tidak baik, untuk dikomsumsi.

Kata kunci mengatasi dari hal di atas kita akan menelisik dari kegemaran masyarakat kita. Pertama kita masih dalam tatanan masyarakat paling rendah yang pernah di riwayatkan Alm. Gus Dur tingkatan manusia sosial itu ada tiga tingkatan; Oral, Mendengar, dan Menulis. Tingkatan ini menjadi dasar arah pemikiran kita bahwa ketika berbicara ketiga perkataan tersebut salah dua masuk pada ranah praktik-praktik dunia literasi  yang terdiri dari “baca dan tulis”, kedua ini berkaitan dengan masyarakat yang tidak kuat dengan hal ini akan mudah termakan hoax dan menyebarkan hoax, bagaimana mungkin ketika semua sudah menggerogoti kita tanpa sadar bahwa kita tidak sadar dengan membaca kita lemah.

INFORMASI SEPUTAR PENDAFTARAN MAHASISWA BARU DAPAT MENGUNJUNGI pmb.unisma.ac.id / http://www.unisma.ac.id

Mengapa negara kita mudah keos, dan sepertinya mudah terprofokasi kita bisa kaitkan dengan tingkat baca warga Negara kita. Dari 62 negara yang diteliti oleh Unisco pada tahun 2016 Indonesia nomer 2 di atas Thailand dan kalau di bwahnya ada Boswatna, nomor dua dari bawah. Hal itu akan membuat daya pikir saudara-saudara kita dangkal sehingga selalu termakan oleh isu-isu propaganda. Pembaca yang budiman akan senantiasa membawa setiap bacaanya sesuai dengan kebutuhan dan selalu skeptis terhadap berita bombastis. Membaca tugas kita sebagai manusia untuk tidak mudah terjebak. Terjebak pada jurang-jurang kegelapan dan termakan dengan yang negativ.   

Hal itu bukan hanya berhenti ketika kita tahu. Ketika kesadaran kita sudah menyentuh naluri maka kita perlu sebuah tindakan yang konkrit minimal tidak membuat Negara kita tidak terpuruk dengan tindakan paling sederhan kita lakukan, sekiranya tidak merugikan orang lain dan hal itu menjadi peluang besar pada masyrakat dengan cara mendekatkan diri dengan bergerak sesuai dengan apa yang kita mampu. Sesuai dengan kemampuan setiap individual namun tetap berada dalam tatanan menjalin kerjasama dengan masyarakat baik untuk melakukan sesuatu hal secara komunal dalam kebaikan.

Trah masyarakat akan tetap berada dalam koridor yang mesih relevansi tidak konservatif namun selalu solutif. Masyarakat dengan trah baik akan memberikan kebaikan pula terhadap kepentingan Negara, agama, dan kebudayaan. Jika Gaptek belajar untuk melek teknologi yang bisa menunjang kehidupan masa kini bukan hanya sekedar sadar namun juga harus memberikan edaran sebuah kebaikan sebaimana fungsi manusia. 

Pesan terakhir hati-hati dengan Yallow Jurnalisme karena itu akan menjadikan kita berubah, karena sebuah kajian psikologi memberikan sebuah istilah apa yang dikomsumsi manusia atau lebih tepatnya manusia membaca, bacaan tidak baik akan mempengaruhi psikologi kita, dalam psikologi Freud yang terdiri dari ID, Ego, dan Superego ketika itu bejalan normal maka semestinya akan menjadi manusia yang baik.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI http://www.unisma.ac.id

Teringat apa yang ada di dalam flim yang berjudul guru bangsa tanpa mahkota pernah berkata “Jika kau ingin menjadi orang besar; ingat hanya ada dua harus dilakukan; berbicara layaknya seorang orator Menulislah seperti halnya seorang wartawan”(Umar Said Hos. Cokroaminoto)

Kita saling belajar bukan saling mengejar kebesaran jiwa, duduk diam akan tidak menghasilkan apa-apa berpikir diam akan melupakan yang ada, maka dunia ini bergerak sesuai trahnya makamanusia jika tidak ingin terombang-ambing arus maka bergeraklah sehingga kehidupan kita seimbang dengan gelombang bumi.

Dalam data yang didapat, didapatkan dalam buku panduan dasar jurnalistik. Sembilan Elemen Jurnalisme ditulis oleh Bill Kovach wartawan The New York Times, kurator Nieman Foundation di Universitas Harvard dan Tom Rosenstiel wartawan The Los Angeles Times Tiga tahun, wawancara 1,200 wartawan dan 300 lagi dalam fora. Kebenaran dan wartawan, Loyalitas utama, Esensi jurnalisme adalah verifikasi, Wartawan harus independen, Jurnalisme harus memantau kekuasaan, Jurnalisme sebagai forum public, Jurnalisme harus memikat sekaligus relevan, Berita harus proporsional dan komprehensif, Mendengarkan hati nurani,

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI http://www.unisma.ac.id

*)Penulis: Akhmad, Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), belajar menulis di Lembaga Pers Mahasiswa Fenomena (LPM Fenomena), dan Geriliya Literasi, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Humas Unisma
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration