Ketahanan Informasi

Begini Cara ACT Hadapi Bencana Kekeringan

Begini Cara ACT Hadapi Bencana Kekeringan BMKG juga menyatakan, musim kemarau tahun 2019 akan terjadi kekeringan panjang akibat beberapa faktor. (FOTO: AJP/TIMES Indonesia)
Rabu, 21 Agustus 2019 - 10:26

TIMESINDONESIA, JAKARTAACT berkomitmen siaga dalam menghadapi bencana kekeringan di Indoneisa. Pada kekeringan tahun ini, sedikitnya Aksi Cepat Tanggap telah menyalurkan bantuan jutaan liter air bersih ke wilayah terdampak.

Tak itu saja, ACT telah membangun sumur wakaf di 263 titik lokasi untuk ratusan ribu penerima manfaat di seluruh Indonesia. Aksi tersebut pun masih terus berlangsung.

Presiden ACT Ibnu Khajar menyampaikan, saat ini aksi yang terus dilakukan ACT terdiri dari tiga program utama yaitu penyediaan air bersih, layanan medis, dan bantuan pangan.

“Untuk empat bulan terakhir, ACT telah memproses kurang lebih 1.400 sumur wakaf di seluruh Indonesia. Tahap awal penanganan kekeringan ACT akan suplai kebutuhan air bersih sebanyak 2,1 juta liter per hari melalui mobile water tank dengan total 60 juta liter per bulan,” ungkap Ibnu dalam Konferensi Pers Kekeringan Mematikan Aksi Cepat Tanggap, Selasa (20/8) di Jakarta.

ACT mengajak masyarakat bahu-membahu mengatasi kekeringan melalui aksi-aksi melalui bit.ly/DermawanAtasiKekeringan. Menurut Ibnu, nilai diri adalah dari seberapa besar yang diri lakukan untuk orang lain. “Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi Dermawan. Insya Allah, ini bukti kita peduli tidak hanya untuk warga Indonesia namun juga dunia,” ajak Ibnu.

ACT pun berkolaborasi dengan BMKG, dalam informasi terbaru terkait hasil monitor dan peringatan dini terkait wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, sebanyak 64,94 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, di bawah 100 mili meter per bulan, pada Agustus 2019.

BMKG menyatakan, musim kemarau tahun 2019 akan terjadi kekeringan panjang akibat beberapa faktor yaitu fenomena El Nino, kuatnya Muson Australia, dan anomali peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim.

Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi Iklim BMKG Adi Ripaldi menyampaikan, sebagian besar wilayah Indonesia masuk musim kemarau sejak Mei - Juni 2019. BMKG sudah memprediksi periode kemarau tahun ini (Mei-Oktober) akan lebih kering dibanding tahun 2018. Sehingga, perlu kewaspadaan dan antisipasi lebih dini dari pemerintah dan masyarakat.

ACT-BMKG-juga-menyatakan-2.jpg

“Berdasarkan pantauan BMKG hingga Awal Agustus 2019, beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan meteorologi level ekstrem. Ada daerah yang sudah lebih dari 60 hari tidak ada hujan, bahkan lebih lebih dari 90 tidak hujan,” ungkapnya.

Sejalan dengan itu, Wahyu Novyan, Direktur Social Distribution Program (SDP) ACT menyatakan, saat ini hampir 3,5 juta warga menjadi korban dampak kekeringan. “55 kota dan kabupaten telah terdampak. Artinya lebih dari dua per tiga dari total semua provinsi di Indonesia.

Wahyu mengatakan, kemarau berdampak pada kekurangan gizi pada anak, kemiskinan hingga kematian. “Jika terus dibiarkan ini dapat menyebabkan lost generation. Hal ini yang perlu dijadikan perhatian utama. Merespon kondisi ini, ACT akan mendistribusikan 2,1 juta liter air bersih per hari, di 28 cabang kantor ACT dengan target kita bisa memberikan 500.000 penerima manfaat per hari,” ungkapnya.

Wahyu juga menambahkan, kekeringan memang bukan bencana yang bisa secara langsung berdampak pada kematian, namun kekeringan merupakan bencana yang sangat laten. “Kekeringan bukan bencana rapid on set namun slow on set. Slow on set memiliki dampak mematikan, dengan kondisi air bersih di dunia sekarang hanya sebesar tiga persen," jelas Wahyu.

Hal ini, lanjut Wahyu, tentunyaakan berdampak pada generasi mendatang. Tentunya, dengan bahaya laten kekeringan ini kami mengajak partisipasi masyarakat untuk benar-benar peduli dengan bencana yang dampaknya tidak hanya terjadi saat ini namun hingga ke generasi berikutnya.

Sementara itu Senior Manager Global Medic Action ACT dr. Rizal Alimin pun menyampaikan, bencana kekeringan yang menimpa hampir di seluruh daerah Indonesia tentu memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat.

“Di musim kemarau, akan terdapat banyak kemungkinan peningkatan penyebaran hepatitis A, tifus, malaria hingga demam berdarah, dan penyakit lainnya,” ungkapnya.

Menurut dr. Rizal juga, selain itu, secara jangka panjang pengaruh buruk kekeringan panjang akan berdampak peningkatan stunting bagi anak-anak. Hal ini karena dengan bencana kekeringan ekstrem ini akan mempengaruhi pola makan, pola asuh hingga sanitasi pada warga yang terdampak

Dari sisi pelayanan medis, ACT terus rutin dalam memberikan layanan dan edukasi kesehatan di daerah-daerah yang terkena bencana kekeringan ekstrem hingga persiapan program jangka panjang untuk mengatasi siklus kekeringan ini.

Program-program tersebut yaitu program pemberdayaan masyarakat, pembangunan embung, biopori, pembuatan sumur resapan, program ruang terbuka hijau bersama pemerintah, dan program lainnya yang telah disiapkan. Program jangka panjang dari ACT ini sebagai solusi untuk daerah rawan kekeringan dalam menghadapi musim kemarau di tahun-tahun mendatang. (*)

Jurnalis : ACT Jatim (CR-177)
Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Registration